Otoritas Sepakbola Eropa atau UEFA kembali menegaskan kebijakan tanpa toleransi terhadap rasisme. Hal itu terungkap dalam resolusi yang diambil Dewan Strategi Sepakbola Profesional (PFSC) dan diratifikasi di Sofia, Kamis (28/3/13).
"Kami merekomendasikan dan mendukung penuh para wasit untuk menghentikan pertandingan dalam kasus rasisme. Asosiasi nasional dan liga juga diminta melakukan hal yang sama," demikian isi resolusi itu.
"UEFA juga meminta kepada para pemain dan pelatih, merujuk pada siapapun yang memiliki pengaruh besar dalam perilaku tindakan rasis, untuk berbicara, bahkan meski hal itu memicu kritik dari para pendukung atau pemain."
Dokumen itu diadopsi bersama oleh Asosiasi Klub-klub Eropa (ECA) dan persatuan pemain dunia FIFPro.
Pada Januari silam, pemain AC Milan Kevin-Prince Boateng menimbulkan sensasi saat ia meninggalkan lapangan pada pertandingan persahabatan melawan klub divisi empat Italia Pro Patria. Hal itu dilakukan setelah pemain asal Ghana ini dihujani pelecehan rasial oleh pendukung tim lawan.
Sejumlah ofisial sepakbola, pelatih, dan pemain menyuarakan sikap menentang rasisme pada berbagai pertandingan. Tapi sebagian pihak mengkritik tindakan Boateng, dengan mengatakan meninggalkan lapangan bukan merupakan solusi.
"Banyak negara telah mengambil tindakan signifikan dan sukses... sejumlah insiden masih terjadi di benua kami," kata UEFA.
Karena itu, liga-liga nasional dan badan-badan disiplin didesak untuk menerapkan sanksi-sanksi yang lebih tegas dalam kasus jika terbukti terdapat aksi rasisme. Ini untuk mencegah serangan-serangan serupa terjadi lagi dan meminta otoritas-otoritas untuk memainkan peranan mereka serta menahan, memeriksa, hingga melarang masuk ke stadion untuk periode-periode signifikan terhadap pihak-pihak yang bertanggung jawab untuk tindakan-tindakan rasis.(Ant)
"Kami merekomendasikan dan mendukung penuh para wasit untuk menghentikan pertandingan dalam kasus rasisme. Asosiasi nasional dan liga juga diminta melakukan hal yang sama," demikian isi resolusi itu.
"UEFA juga meminta kepada para pemain dan pelatih, merujuk pada siapapun yang memiliki pengaruh besar dalam perilaku tindakan rasis, untuk berbicara, bahkan meski hal itu memicu kritik dari para pendukung atau pemain."
Dokumen itu diadopsi bersama oleh Asosiasi Klub-klub Eropa (ECA) dan persatuan pemain dunia FIFPro.
Pada Januari silam, pemain AC Milan Kevin-Prince Boateng menimbulkan sensasi saat ia meninggalkan lapangan pada pertandingan persahabatan melawan klub divisi empat Italia Pro Patria. Hal itu dilakukan setelah pemain asal Ghana ini dihujani pelecehan rasial oleh pendukung tim lawan.
Sejumlah ofisial sepakbola, pelatih, dan pemain menyuarakan sikap menentang rasisme pada berbagai pertandingan. Tapi sebagian pihak mengkritik tindakan Boateng, dengan mengatakan meninggalkan lapangan bukan merupakan solusi.
"Banyak negara telah mengambil tindakan signifikan dan sukses... sejumlah insiden masih terjadi di benua kami," kata UEFA.
Karena itu, liga-liga nasional dan badan-badan disiplin didesak untuk menerapkan sanksi-sanksi yang lebih tegas dalam kasus jika terbukti terdapat aksi rasisme. Ini untuk mencegah serangan-serangan serupa terjadi lagi dan meminta otoritas-otoritas untuk memainkan peranan mereka serta menahan, memeriksa, hingga melarang masuk ke stadion untuk periode-periode signifikan terhadap pihak-pihak yang bertanggung jawab untuk tindakan-tindakan rasis.(Ant)