Teungku Amri Resmi Bergabung dengan NKRI

Panglima Komando Pusat GAM Wilayah Tiro, Pidie, Teungku Amri bin Abdul Wahab secara resmi menyatakan diri bergabung kembali dengan RI. Teungku Amri pertama kali menyerah pada Senin malam.

oleh Liputan6Diterbitkan 14 Mei 2003, 00:03 WIB
Liputan6.com, Jakarta: Setelah menyerahkan diri, Panglima Komando Operasi Pusat Gerakan Aceh Merdeka Wilayah Tiro, Pidie, Teungku Amri bin Abdul Wahab menyatakan secara resmi bergabung dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Pernyataan kembali ke pangkuan Ibu Pertiwi itu disampaikan Teungku Amri yang juga utusan GAM di Komite Keamanan Bersama (JSC) kepada para wartawan di Kantor Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan, Jakarta, Selasa (13/5) petang [baca: Panglima GAM Pidie Membelot].

Keputusan bergabung ke NKRI itu pertama kali diungkapkan Amri di Hotel Kuala Tripa, Banda Aceh, Nanggroe Aceh Darussalam. Menurut Ketua Perwakilan RI di JSC Brigadir Jenderal TNI Safzen Nurdin yang mendampingi Amri, penyerahan diri seorang di antara Panglima Operasi GAM itu terjadi Senin sekitar pukul 23.00 WIB. Saat itu, yang menerima pernyataan Amri adalah Kolonel Embu Abapitus. &quotSaya ingin menyerah,&quot kata Safzen, mengutip laporan Embu yang disampaikan kepadanya. Pihak pemerintah Indonesia kemudian mempertimbangan selama satu setengah jam untuk meyakini secara pasti keinginan Amri tersebut. &quotKami tak langsung bilang iya [setuju],&quot kata dia, menambahkan.

Untuk lebih meyakinkan akan niat Amri, pihak RI meminta tokoh GAM tersebut membuat pernyataan secara tertulis. Amri pun menyanggupi hal itu. Ia kemudian membuat pernyataan tertulis sesaat sebelum bertolak ke Jakarta dengan menggunakan pesawat Hercules di Bandar Udara Iskandar Muda. Sejauh ini, Teungku Amri mendapat pengawalan ketat dari pemerintah Indonesia. Selain itu diberitakan seluruh keluarga Teungku Amri sudah berada di Jakarta.

Di Banda Aceh, Kepala Kepolisian Daerah NAD Inspektur Jenderal Polisi Bachrumsyah menunjukkan surat pernyataan penyerahan diri yang dibuat Panglima Komando Operasi Pusat GAM Wilayah Tiro. Surat tersebut ditunjukkan dalam konferensi pers di Markas Polda NAD di Banda Aceh, siang tadi. Dalam surat pernyataan, Teungku Amri menulis bahwa niat menyerahkan diri lantaran perjuangan GAM dianggap telah melenceng dari tujuan semula.

Teungku Amri sendiri bergabung dengan GAM sejak 1998. Lelaki kelahiran Kota Lhokseumawe, Aceh Utara, 33 tahun yang silam ini terakhir menduduki jabatan sebagai Panglima Komando Operasi Pusat GAM Wilayah Tiro. Semasa terjadinya perundingan dengan Indonesia, Teungku Amri kemudian ditunjuk oleh GAM menjadi utusan dalam JSC.

Sehubungan penyerahan diri tersebut, petang tadi, reporter SCTV Eva Yunizar mewawancarai Teungku Amri. Berikut cuplikan wawancaranya:

(T). Apa yang menyebabkan Teungku berpikir untuk kembali ke Republik Indonesia? (J). Setelah saya berpikir, saya melihat bahwa konflik ini [Aceh] membuat rakyat Aceh menderita. Ini akibat ulah kelompok yang sedang terjadi saat ini. Yaitu, saya katakan kelompok Gerakan Aceh Merdeka. Dan, saya melihat bahwa pemimpin-pemimpin dari GAM itu seperti meninggalkan tanggung jawab terhadap masyarakat Aceh. Mereka [GAM] cuma melihat apa yang menjadi kehendak atas kepentingan mereka sendiri. Jadi, mereka tak melihat situasi dan kondisi Aceh pada saat ini. Padahal, posisi kami [utusan GAM di Joint Security Committee] sedang berunding dengan pihak Indonesia. Dan kita juga melihat Aceh tengah diancam oleh penyelundupan [senjata] yang begitu gencar. [Termasuk] ancaman kemelut dan pertumpahan darah lagi. Tapi, dalam hal ini, saya juga tak melihat adanya argumentasi-argumentasi yang dikeluarkan pemerintah Swedia menyangkut masyarakat Aceh. Itulah salah satunya yang menjadi pertimbangan dan rasa berdosa saya terhadap masyarakat atas apa yang sudah saya lakukan selama ini.

(T). Sekarang apa yang akan dilakukan Anda? (J). Itulah mereka seperti tak ada rasa tanggung jawab secara lebih khusus terhadap rakyat Aceh. Sedangkan apa yang saya lakukan di GAM itu tidak ada pemaksaan. Dan saya bekerja untuk kepentingan dan kemakmuran rakyat Aceh. Sampai sore ini, mereka cuma memberikan janji-janji belaka. Saya pun keluar dari GAM bukan karena ancaman atau paksaan apa pun, tapi murni dari keinginan saya sendiri. Itu sudah saya pikirkan secara matang-matang. Dan sepatutnya saya kembali kepangkuan Ibu Pertiwi. Dan saya mengakui seluruh kesalahan saya selama ini.

(T). Apakah Anda akan menyerukan hal sama terhadap anggota GAM lainnya? (J). Saya juga mengajak seluruh anggota GAM kembali ke pangkuan Ibu Pertiwi. [Apalagi] saya juga menganggap pemerintah Indonesia tak akan menghianati terhadap anggota GAM yang kembali atau menyerahkan diri.(ANS/Tim Liputan 6 SCTV)

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya