Liputan6.com, Singapura - Bursa saham Asia Pasifik menguat pada perdagangan Kamis (2/11/2023) seiring investor merespons positif keputusan bank sentral Amerika Serikat (AS) atau the Federal Reserve (the Fed) yang pertahankan suku bunga acuan.
The Fed kembali pertahankan suku bunga acuan di tengah tanda-tanda pertumbuhan ekonomi. Sedangkan kondisi pasar tenaga kerja dan inflasi tetap berada di atas target bank sentral. Keputusan tersebut juga mencakup peningkatan penilaian umum the Fed terhadap perekonomian. Demikian mengutip dari CNBC, Kamis pekan ini.
Advertisement
Selain itu, investor juga kembali analisis data inflasi dari Korea Selatan. Data dari Korea Selatan menunjukkan indeks harga konsumen meningkat selama tiga bulan berturut-turut pada Oktober 2023 dengan consumer price index (CPI) atau indeks harga konsumen meningkat 3,8 persen year on year (YoY). Ekonom yang disurvei oleh Reuters perkirakan kenaikan 3,6 persen.
Indeks Nikkei 225 menguat 1,22 persen. Indeks Topix bertambah 0,95 persen, dan sentuh level tertinggi dalam tiga minggu. Indeks Kospi Korea Selatan menguat 1,6 persen. Indeks Kosdaq mendaki 2,1 persen.
Indeks Hang Seng berjangka berada di posisi 17.157, dan lebih tinggi dari penutupan perdagangan terakhir di kisaran 17.101,78.
Di Australia, indeks ASX menguat 1,17 persen dan menyentuh level tertinggi dalam dua minggu.
Bursa saham Amerika Serikat (AS) atau wall street melesat dalam tiga bulan terakhir pada Rabu pekan ini setelah the Fed pertahankan suku bunga acuan. Hal itu membuat investor berpikir bank sentral akan tetap mempertahankan suku bunganya hingga sisa tahun ini.
Indeks Dow Jones melesat 0,67 persen, indeks S&P 500 bertambah 1,05 persen, sempat melewati rata-rata pergerakan 200 hari. Indeks Nasdaq melejit 1,64 persen.
Penutupan Bursa Saham Asia pada 1 November 2023
Sebelumnya diberitakan, bursa saham Asia Pasifik menguat pada perdagangan saham Rabu, 1 November 2023. Bursa saham Jepang memimpin kenaikan di kawasan Asia Pasifik setelah bank sentral Jepang meningkatkan fleksibilitas dalam kebijakan pengendalian kurva imbal hasil sementara investor mengamati kebijakan dari the Federal Reserve (the Fed) atau bank sentral Amerika Serikat (AS).
Dikutip dari CNBC, the Fed akan mengakhiri pertemuan kebijakan moneter dua harinya pada Rabu, 1 November 2023 dengan pasar mengharapkan bank sentral untuk mempertahankan suku bunga.
Data menunjukkan ekspor Korea Selatan pada Oktober naik 5,1 persen tahun ke tahun, pertama kalinya dalam 13 bulan. Sementara itu, aktivitas pabriknya mengalami kontraksi yang sedikit lebih dalam.
Secara terpisah, PMI manufaktur global Caixin/S&P China turun menjadi 49,5 pada Oktober 2023 dari 50,6 pada September, menandai kontraksi pertama sejak Juli dan meleset dari perkiraan analis sebesar 50,8 dengan selisih yang besar.
Angka itu mencerminkan angka yang resmi yang dirilis oleh biro statisik nasional pada Selasa, 31 Oktober 2023.
Indeks Nikkei 225 menguat 2,41 persen ke posisi 31.601,65. Indeks Topix bertambah 2,53 persen ke posisi 2.310,68, mencapai level tertinggi dalam hampir tiga minggu.
Indeks Kospi Korea Selatan naik 1,03 persen ke posisi 2.301,56. Indeks Kosdaq menguat 0,43 persen ke posisi 739,23. Indeks Hang Seng Hong Kong membalikkan kenaikan sebelumnya dan turun sedikit. Indeks CSI 300 sedikit tergelincir dan ditutup ke posisi 3.571,03. Di Australia, indeks ASX 200 menguat 0,85 persen ke posisi 6.838,30.
Penutupan Wall Street pada 1 November 2023
Sebelumnya diberitakan, bursa saham Amerika Serikat (AS) atau wall street melesat pada perdagangan Rabu, 1 November 2023. Wall street menguat dari tiga bulan perdagangan yang suram setelah bank sentral AS atau the Federal Reserve (the Fed) mempertahankan suku bunga untuk kedua kalinya berturut-turut.
Hal ini membuat investor berpikir bank sentral akan tetap mempertahankan suku bunga selama sisa tahun ini. Demikian dikutip dari laman CNBC, Kamis (2/11/2023).
Pada penutupan perdagangan wall street, indeks Dow Jones melonjak 221,71 poin atau 0,67 persen ke posisi 33.274,58. Indeks S&P 500 melesat 1,05 persen menjadi 4.237,86. Indeks S&P 500 melewati rata-rata pergerakan selama 200 hari. Indeks Nasdaq bertambah 1,64 persen menjadi 13.061,47.
Saham-saham teknologi mencatat kinerja lebih baik dengan naik sekitar 2 persen. Saham Semiconductor Advanced Micro Devices dan Micron Technology masing-masing naik 9,7 persen dan 3,8 persen. Saham Nvidia bertambah 3 persen.
The Fed mempertahankan suku bunga pada kisaran 5,25 persen-5,5 persen seperti yang diperkirakan. Bank sentral juga mengatakan aktivitas ekonomi berkembang dengan kecepatan yang kuat pada kuartal III. Dalam pernyataan sebelumnya, the Fed mencatat ekonomi tumbuh pada kecepatan yang solid.
Mengingat kenaikan imbal hasil baru-baru ini, the Fed cenderung tidak menaikkan suku bunga pada Desember. Kemungkinan the Fed menaikkan suku bunga nanti untuk terus mengurangi inflasi, demikian disampaikan Portfolio Strategist Global X, Damanick Dantes.
“Kondisi keuangan yang lebih ketat sejak pertemuan FOMC pada September telah mencapai sebagian tujuan the Fed,” ujar dia.
Imbal Hasil Obligasi
Namun, ketua the Fed Jerome Powell tidak mengesampingkan kenaikan suku bunga bulan depan. Ia menuturkan, sulit untuk menaikkan suku bunga setelah jeda selama dua pertemuan adalah salah.
Imbal hasil obligasi turun setelah keputusan suku bunga dan Departmene Keuangan AS mengumumkan rencana penjualan obligasi sehingga meningkatkan saham. Imbal hasil obligasi bertenor 10 tahun turun di bawah level 4,8 persen pada Rabu pekan ini setelah pergerakan di atas 5 persen pada Oktober 2023 yang membuat pasar ketakutan. Sementara itu, imbal hasil treasury bertenor 2 tahun turun di bawah 5 persen.
Sebelum sesi, Departemen Keuangan AS merinci rencana penjualan obligasi pada masa depan di tengah meningkatnya kekhawatiran kenaikan beban utang pemerintah AS. Pekan depan, Departemen Keuangan akan melelang utang senilai USD 112 miliar, sebagian besar sesuai harapan wall street.
Investor menyerap data ekonomi lainnya yang keluar pada Rabu pekan ini menunjukkan tanda-tanda melambatnya ekonomi dan pasar tenaga kerja.
Indeks manufaktor (ISM) menunjukkan aktivitas manufaktor mengalami kontraksi lebih dari yang diperkirakan pada Oktober. Wall street mengalami Oktober yang suram sebagian dipicu oleh kekhawatiran atas kenaikan imbal hasil yang cepat.