Liputan6.com, Jakarta - Pasar kripto dan Bitcoin terus mengalami penurunan setelah keputusan The Federal Reserve (the Fed) atau bank sentral Amerika Serikat yang menahan laju kenaikan suku bunga di kisaran 5,25 hingga 5,5 persen. Namun, tidak hanya itu ada beberapa faktor lain yang membuat harga Bitcoin terus tertekan.
Harga Bitcoin kini kembali di bawah USD 27.000 atau setara Rp 415,2 juta (asumsi kurs Rp 15.378 per dolar AS) melewati garis support dan terus bergerak turun. Penurunan bitcoin ini berkorelasi dengan indeks pasar saham AS yang juga mengalami koreksi.
Advertisement
Trader Tokocrypto, Fyqieh Fachrur menjelaskan, Wall Street juga merosot dalam aksi jual luas pada Kamis karena selera risiko investor pupus oleh kekhawatiran kebijakan moneter ketat The Fed akan tetap berlaku lebih lama dari yang diperkirakan.
“Keputusan The Fed yang kasih jeda ini dianggap sebagai sentimen netral karena berarti suku bunga acuan belum naik sehingga dianggap kondisi perekonomian mulai membaik walau harga makanan dan energi seperti bensin masih terus naik,” kata Fyqieh dalam siaran pers, dikutip Jumat (22/9/2023).
Fyqieh menambahkan, walau bersifat netral, saat ini dolar AS berhasil bergerak naik dan imbal hasil obligasi pemerintah AS mencapai puncaknya dalam 16 tahun sehari setelah Ketua The Fed, Jerome Powell memperingatkan inflasi masih memiliki jalan panjang sebelum mendekati target sebesar 2 persen.
Pasar kripto cenderung mendapatkan sentimen yang bearish lebih tinggi. Hal ini terlihat dari penurunan indeks Fear and Greed pada Jumat di angka 43 poin kategori Fear, anjlok dari 47 poin kategori Neutral pada Kamis.
Investor mungkin merasa khawatir tentang volatilitas yang tinggi dan ketidakpastian yang terkait dengan pergerakan harga Bitcoin.
"Sentimen bearish ini bisa mendorong lebih banyak investor untuk menjual kripto mereka, yang pada gilirannya dapat memperkuat penurunan harga,” pungkas Fyqieh.
Harga Bitcoin Diprediksi Sentuh Rp 568 Juta pada Akhir 2023
Sebelumnya, kuartal terakhir setiap tahun secara historis merupakan yang terkuat bagi bitcoin (BTC) dalam hal kinerja, dengan pengembalian rata-rata lebih dari 35 persen selama sembilan tahun terakhir.
Dalam laporan terbaru penyedia layanan kripto Matrixport, Rabu, 20 September 2023 memprediksi harga Bitcoin dapat menyentuh USD 37.000 atau setara Rp 568,5 juta (asumsi kurs Rp 15.368 per dolar AS).
“Jika sejarah adalah panduan, bitcoin bisa mencapai USD 37,000 pada akhir tahun,” tulis kepala penelitian Matrixport, Markus Thielen dalam laporannya, dikutip dari CoinDesk, Kamis (21/9/2023).
Thielen menjelaskan, Oktober juga menjadi bulan yang sangat kuat, dengan pengembalian bitcoin yang positif dalam tujuh dari sembilan tahun terakhir, dengan pengembalian rata-rata 20 persen.
Analisis teknis Matrixport menunjukkan bitcoin baru-baru ini membuat sinyal terobosan baru. Sepuluh kali terakhir model ini dipicu, harganya naik rata-rata lebih dari 9 persen dalam waktu singkat.
Katalis potensial lainnya pada bulan Oktober adalah tenggat waktu kedua untuk pengajuan dana yang diperdagangkan di bursa spot (ETF) bitcoin, ketika Komisi Sekuritas dan Bursa (SEC) harus mengumumkan atau menunda keputusannya untuk menyetujui ETF ini, tambah laporan itu.
Regulator mengatakan pada Agustus mereka menunda keputusannya apakah akan menyetujui semua aplikasi ETF bitcoin spot atau tidak hingga Oktober.
Disclaimer: Setiap keputusan investasi ada di tangan pembaca. Pelajari dan analisis sebelum membeli dan menjual Kripto. Liputan6.com tidak bertanggung jawab atas keuntungan dan kerugian yang timbul dari keputusan investasi.
The Fed Bakal Tahan Kenaikan Suku Bunga, Bagaimana Dampaknya untuk Pasar Kripto?
Sebelumnya, Bitcoin dan mayoritas aset kripto menguat di tengah sikap wait and see pelaku pasar menunggu kebijakan bank sentral Amerika Serikat (AS) The Federal Reserve (The Fed).
Kenaikan sebagian harga aset kripto salah satunya karena meningkatnya kepercayaan pelaku pasar The Fed akan mempertahankan suku bunga acuannya pada pertemuan minggu ini. Meski data pekan lalu menunjukkan inflasi AS mengalami peningkatan.
Financial Expert Ajaib Kripto, Panji Yudha, menjelaskan secara teknikal pergerakan Bitcoin, sempat berupaya breakout dari resistance USD 26.800 atau setara Rp 412,5 juta (asumsi kurs Rp 15.392 per dolar AS) hingga naik mencapai ke harga USD 27.411 atau setara Rp 421,6 juta.
“Namun belum mampu breakout MA-50 yang saat ini menjadi area dynamic resistance, sehingga kembali turun di bawah USD 26.800 atau setara Rp 412,5 juta pada Selasa,” kata Panji dalam siaran pers, dikutip Rabu (20/9/2023).
Pekan lalu, terdapat rilis data tingkat inflasi Amerika Serikat di mana adanya lonjakan inflasi pada Agustus disebabkan dari krisis pasokan bahan bakar minyak (BBM) usai sejumlah negara OPEC+ memperketat kebijakan ekspor minyak mentah.
“Pekan ini, pelaku pasar akan mencermati keputusan The Fed yang akan merilis tingkat suku bunga acuannya atau Fed Funds Rate pada Rabu. Sekaligus, pada hari yang sama, para pengamat pasar juga akan menantikan Proyeksi Ekonomi FOMC, pernyataan FOMC,” jelas Panji
Konferensi Pers FOMC. Menurut CME FedWatch Tool menunjukan peluang sebesar 98 persen bank sentral akan mempertahankan suku bunga acuannya di angka 5,25 persen hingga 5,50 persen pada pertemuan bulan ini.
Dampak Rapat The Fed untuk Harga Kripto
Hasil FOMC akan berdampak secara langsung yang berpotensi menyebabkan volatilitas signifikan ke harga Aset Kripto.
Sementara jika melihat pada Juni 2023 lalu, The Fed juga sempat menahan suku bunganya dimana ketika itu suku bunga acuan berada di kisaran 5,00 persen hingga 5,25 persen dan berhasil mendorong Bitcoin hingga mencapai harga USD 31.400 atau setara Rp 483 juta pada Juni lalu.
“Maka tidak menutup kemungkinan, jika pekan ini The Fed kembali menahan suku bunga acuannya di kisaran 5,25 persen hingga 5,50 persen seharusnya berdampak positif ke harga kripto,” ujar Panji.
Sentimen Dalam NegeriSementara dari dalam negeri pertumbuhan adopsi Aset Kripto di Indonesia mengalami peningkatan meski pada 2022 lalu dibayangi berbagai sentimen negatif di industri seperti kegagalan FTX serta tekanan dari sisi ekonomi global terutama inflasi yang tinggi pada tahun 2022 lalu yang menyebabkan anjloknya harga mayoritas kripto.
Pertumbuhan adopsi Aset Kripto di Indonesia menurut Indeks Adopsi Kripto Global 2023 Chainalysis menunjukkan Indonesia berada di peringkat ke-7. Dalam Indeks Adopsi Kripto Global Chainalysis tahun lalu, Indonesia menempati peringkat 20.
Pertumbuhan adopsi tersebut juga mendongkrak naik jumlah investor kripto di Indonesia. Per Juli 2023 data Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) mencatat jumlah investor kripto di Indonesia telah mencapai 17,67 juta orang.