Liputan6.com, Jakarta Ada banyak kisah tentang penyakit jiwa Skizofrenia yang diangkat ke layar lebar tapi Rose memberi perspektif unik. Ia mengajak penonton menyelami pikiran pasien, tokoh-tokoh fiktif yang berkelebatan di benaknya, hingga yang paling penting berempati kepadanya.
Film Rose adalah karya sineas Niels Arden Oplev yang naskahnya digarap sendiri. Berdiri dengan fondasi drama keluarga yang intens, ditaburi serpihan komedi yang mewujud dalam dialog-dialog sederhana para tokoh, dan tak lupa sejumput elemen hati nurani di dalamnya.
Advertisement
Rose tak hanya mengandalkan kekuatan naskah yang intim sejak awal. Di baris depan, ada Sofie Grabol, Lene Maria Christensen, dan Anders W. Berthelsen yang menggerakkan cerita dengan chemistry yang lengket hingga ke menit-menit akhir tanpa kehilangan tensi.
Berikut resensi film Rose. Jangan mencari film ini di biskop (karena memang tidak tayang regular dalam format layar lebar di Indonesia), apalagi di situs bajakan. Rose dapat Anda akses secara legal mulai bulan ini di platform streaming KlikFilm.
Inger dan Paris
Suatu hari, Inger (Sofie Grabol) yang mengidap Skizofrenia dijemput kakaknya, Ellen (Lene Maria Christensen) dan suaminya, Vagn (Anders W. Berthelsen) untuk jalan-jalan ke Paris. Sejumlah obat telah disiapkan sebagai bekal selama perjalanan dengan bus.
Ibunda Inger dan Ellen, Gudrun (Karen Lise Mynster) waswas karena ini kali pertama Inger ke Paris setelah bertahun-tahun. Paris menyakitkan bagi Inger. Di sana, ia pernah jatuh cinta pada Jacques (Jean Pierre Lorit) yang ternyata sudah punya istri. Hubungan mereka kandas.
Putus cinta membuat jiwa Inger terguncang hebat. Di dalam bus, Inger memperkenalkan diri sebagai pengidap Skizofrenia. Ini membuat turis lain syok. Namun, kejujuran Inger menyita perhatian Christian (Luca Riechardt Ben Coker).
Bocah laki-laki ini pelesir ke Paris bersama orangtua, Andreas (Soren Malling) dan Margit (Christiane Gjellerup Koch). Andreas memperingatkan putranya untuk tidak terlalu dekat dengan Inger. Makin dilarang, inteaksi Christian dan Inger malah menguat.
* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS
Mudah Dicintai Penonton
Yang membuat Rose mudah dicintai penonton, Inger tak ditempatkan sebagai pesakitan tanpa daya. Ia tampak manusiawi bahkan saat penyakitnya kambuh, kita bisa memahami dan tetap sayang. Kadang, perilakunya menyebalkan.