Petani Muda di Ngawi Sukses Kembangkan Pertanian Hidroponik, Sehari Produksi Sampai 20 kg

Dengan kapasitas produksi tersebut, Cocok Pangan mampu menghasilkan Selada hidroponik hingga sekitar setengah ton setiap bulannya. Hal itu dicapai dengan lahan seluas 200 meter persegi saja.

oleh stella maris diperbarui 15 Jun 2023, 09:31 WIB
Ilustrasi petani selada/Youtube Kementerian Pertanian RI.

Liputan6.com, Ngawi Petani muda di Kabupaten Ngawi, Jawa Timur yang tergabung dalam ‘Cocok Pangan Project’ sukses mengembangkan usaha pertanian hidroponik dengan komoditas Selada. Mereka bahkan berhasil memproduksi dengan kapasitas yang cukup besar setiap bulannya. 

"Kami mulai sejak pandemi, sekitar dua tahun lalu dan selama setahun penuh ini (12 bulan), kami berhasil panen rutin setiap hari, melewati musim hujan dan kemarau, dengan rata-rata kapasitas produksi 15-20 kg/hari," kata Dicky, salah satu anggota Cocok Pangan Project. 

Dengan kapasitas produksi tersebut, Cocok Pangan mampu menghasilkan Selada hidroponik hingga sekitar setengah ton setiap bulannya. Hal itu dicapai dengan lahan seluas 200 meter persegi saja. 

"Keuntungan pertanian modern salah satunya itu. Intervensi teknologi memungkinkan kita bisa mengoptimalkan ruang. Juga bisa produksi rutin, seperti mesin, asalkan mau disiplin," ujar Dicky.

Cocok Pangan Project diinisiasi oleh empat anak muda lulusan perguruan tinggi ternama dan memiliki minat pada pertanian. Kini mereka mengelola dua greenhouse dengan kapasitas produksi 6.000-an lubang tanam yang terletak di Desa Kasreman, Kecamatan Geneng, Kabupaten Ngawi, Jawa Timur. 

Adapun pembiayaan untuk membangun pertanian hidroponik ini, Cocok Pangan memanfaatkan program Kredit Usaha Rakyat (KUR). Mereka mendapatkan akses kredit untuk membuat greenhouse dan instalasi hidroponiknya.

"Kami manfaatkan dana KUR. Prosesnya mudah kok, dan bunganya rendah, apalagi waktu itu ada program khusus pandemi, jadi lebih terjangkau," katanya. 

Mudahnya akses pembiayaan itu mendorong Cocok Pangan untuk terus berkembang, apalagi peluang pasarnya masih sangat terbuka lebar. 

"Saat ini kami masih merasa kecil, dan pengen nambah greenhouse lagi, tentu ingin berkembang terus. Peluang pasarnya juga masih bagus kok. Bahkan kalau bisa hingga skala industri," ujar Dicky.

Masa depan pertanian itu, menurut Dicky, salah satunya terletak pada pertanian modern. Dengan konsep pertanian-industri (industrial agriculture), hal itu akan memungkinkan pertanian yang selama ini dimaknai secara konvensional dengan bergantung pada alam, lalu dapat bergeser pada pertanian yang mampu berproduksi seperti mesin secara kontinyu.

"Pertanian modern (hidroponik) memungkinkan untuk itu. Konsep ini dapat menjadikan produksi pertanian yang berlimpah dengan luas lahan yang minim, bahkan bisa meminimalkan dampak perubahan cuaca. Jadi produksi bisa terus jalan, apapun gejolak cuacanya," kata alumnus Universitas Indonesia ini.

"Kuncinya pada pendekatan sains, intervensi teknologi, tata laksana yang presisi, repetisi, dan skala yang masif. Konsep industri itu yang pengen kita bawa pada pertanian," ujarnya. 

Sebelumnya, Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo mendorong petani milenial untuk membangun sektor pertanian secara masif dan berkelanjutan. Menurutnya petani milenial merupakan tulang punggung pertanian di masa depan. 

Dalam tujuan itu, Mentan Syahrul menegaskan jika pemerintah sudah menyiapkan akses permodalan maupun sarana dan prasarana pertanian. Khusus untuk modal, Kementerian Pertanian menyiapkan program KUR sebagai dukungan terhadap jalannya usaha tani. Menurutnya, jika banyak petani milenial yang berhasil akses KUR, usaha yang dijalankan bakal lebih berkembang. 

"Jika usaha lebih berkembang, akan tercipta ketahanan pangan nasional," ujar Mentan Syahrul.

 

(*)

 

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya