Perang Saudara Sudan Berlanjut Meski Ada Kesepakatan Gencatan Senjata Saat Idul Fitri

Pertempuran sengit berlanjut di ibu kota Sudan bahkan meski tentara Sudan mengumumkan gencatan senjata, kata saksi mata penduduk setempat.

oleh Hariz BarakDiperbarui 26 April 2023, 22:57 WIB
Suasana perang antara kelompok militer dan paramiliter di Sudan. (Dok: AP News)

Liputan6.com, Khartoum - Pertempuran sengit berlanjut di ibu kota Sudan bahkan meski tentara Sudan mengumumkan gencatan senjata, kata saksi mata penduduk setempat.

Berlanjutnya pertempuran merupakan pukulan bagi upaya internasional untuk mengakhiri hampir satu minggu konflik antara militer dan kelompok paramiliter saingan.

Sebelumnya, tentara Sudan mengatakan pada Jumat malam 21 April bahwa pihaknya menyetujui gencatan senjata tiga hari untuk memungkinkan orang merayakan hari raya Idul Fitri.

Kelompok lawan, Pasukan Pendukung Cepat (RSF) mengatakan pada hari sebelumnya telah menyetujui gencatan senjata 72 jam, juga untuk menandai Idul Fitri.

"Angkatan bersenjata berharap para pemberontak akan mematuhi semua persyaratan gencatan senjata dan menghentikan setiap gerakan militer," kata pernyataan militer.

Pengumuman tentara itu menyusul satu hari permusuhan di Khartoum dan pengerahan perdana infanteri di ibu kota sejak pertempuran dimulai Sabtu pekan lalu.

Tentara dan orang-orang bersenjata dari RSF saling menembak di lingkungan di seluruh kota, termasuk sesaat sebelum orang orang melaksanakan salat Idul Fitri.

Konflik dipicu ketidaksepakatan atas rencana yang didukung internasional untuk membentuk pemerintahan sipil baru empat tahun setelah jatuhnya mantan pemimpin Omar al-Bashir akibat protes massa, dan dua tahun setelah kudeta militer.

Kedua belah pihak menuduh yang lain menggagalkan transisi.

Kedua belah pihak juga bertempur di wilayah Darfur di barat, di mana sebagian kesepakatan damai ditandatangani pada 2020 dalam konflik panjang yang berujung pada tuduhan kejahatan perang terhadap al-Bashir.

Sedikit Harapan untuk Gencatan Senjata

Gambaran suasana perang di Khartoum, Sudan, pada Senin (17/4/2023), tampak asap hitam mengepul. (Dok. AFP)

Penduduk di sekitar ibu kota melaporkan serangan artileri terus menerus.

Warga mengatakan ada pertempuran sengit dan konfrontasi langsung antara tentara dan RSF di bagian selatan ibu kota.

Meskipun ada upaya gencatan senjata kelima, penduduk di berbagai bagian negara itu mengatakan bentrokan terus berlanjut dan mereka yakin gencatan senjata tidak akan bertahan.

Suara tembakan terdengar tanpa jeda sepanjang hari, diselingi oleh dentuman artileri dan serangan udara. Rekaman drone menunjukkan kepulan asap di Khartoum dan kota Omdurman dan Bahri di Nil --salah satu kawasan perkotaan terbesar di Afrika.

Pertempuran itu telah menewaskan ratusan orang, terutama di Khartoum dan bagian barat Sudan. Konflik telah membuat negara terbesar ketiga di benua itu --di mana sekitar seperempat orang sudah bergantung pada bantuan pangan-- menjadi bencana kemanusiaan.

Pertempuran mempersulit orang-orang untuk meninggalkan rumah mereka dan bergabung dengan massa yang meninggalkan Khartoum.

Warga Khartoum Mohamed Saber Turaby (27) ingin mengunjungi orang tuanya 80km dari kota untuk Idul Fitri.

"Setiap kali saya mencoba keluar rumah, selalu ada bentrokan," katanya kepada kantor berita Reuters. "Ada penembakan tadi malam dan sekarang ada pasukan tentara di lapangan."

Organisasi Kesehatan Dunia mengatakan sedikitnya 413 orang tewas dan ribuan lainnya terluka, dengan rumah sakit diserang dan hingga 20.000 orang melarikan diri ke negara tetangga Chad.

“Semakin banyak orang yang kehabisan makanan, air, dan listrik, termasuk di Khartoum,” kata kantor kemanusiaan PBB.

Tag Terkait

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya