Maut Kerap Mengintai Wartawan Perang

Para wartawan yang meliput langsung Perang Teluk II menghadapi berbagai risiko. Dari nyawa yang sewaktu-waktu bisa melayang hingga pemecatan oleh media massa tempatnya bernaung.

oleh Liputan6Diterbitkan 08 April 2003, 07:19 WIB
Liputan6.com, Irak: Medan tugas para wartawan atau jurnalis memang tak terbatas. Dari meliput bencana alam hingga kecamuk perang harus mereka tunaikan. Khusus meliput pertempuran di garis depan, seorang wartawan seakan memiliki nyawa rangkap atau nyali besar. Bukan apa-apa, soalnya maut selalu mengintai para wartawan baik media elektronik maupun cetak. Risiko terburuk adalah tewas di medan pertempuran. Para wartawan juga menghadapi ancaman diusir dari lokasi peliputan, bahkan pemecatan dari media tempat mereka bekerja.

Risiko tersebut juga mengancam para peliput Perang Teluk II. Sejak pasukan gabungan pimpinan Amerika Serikat menyerbu Irak pada 20 Maret silam, sedikitnya enam wartawan tewas dan sejumlah lainnya dinyatakan hilang di medan pertempuran. Nasib nahas yang dialami wartawan Washington Post Michael Kelly, misalnya. Jurnalis koran terkemuka Negeri Paman Sam ini tewas bersama seorang tentara setelah Divisi Infanteri III Angkatan Darat AS dihadang serdadu-serdadu Irak, Kamis malam pekan silam.

Dua hari kemudian, wartawan televisi National British Corporation David Bloom juga menemui ajal di medan pertempuran yang tengah diliputnya itu. Kelly dan Bloom melengkapi daftar sejumlah wartawan yang tewas saat bertugas di Perang Irak. Sebelumnya, seorang juru kamera jaringan televisi Australian Broadcasting Corporation Paul Moran dan tiga wartawan Inggris juga terbunuh di garis depan peperangan di Negeri 1.001 Malam. Moran tewas setelah kendaraan yang ditumpanginya terkena bom mobil ketika melintas di dekat Kota Halabja, bagian utara Irak [baca: Tiga Wartawan Asing Tewas di Irak].

Kenyataan tersebut jelas menimbulkan keprihatinan mengenai nasib para jurnalis yang meliput pertempuran di Kota Baghdad, atau di belakang garis pertahanan pasukan Irak yang secara militer jauh lebih lemah. Ancaman maut terhadap wartawan yang bertugas ternyata juga dilakukan pasukan AS. Buktinya, kemarin pagi, tentara AS secara brutal menembaki mobil yang ditumpangi sejumlah wartawan televisi Al-Jazeera. Penembakan terjadi ketika jurnalis televisi Qatar ini hendak meliput di wilayah Bandar Udara Internasional Saddam, pinggiran Baghdad. Sebelumnya, seorang juru kamera Al-Jazeera juga dinyatakan hilang setelah pasukan sekutu menghancurkan Kota Basra, wilayah selatan Irak. Seperti diketahui, tayangan alternatif televisi Qatar ini berkali-kali membuat gusar pihak AS [baca: Suguhan Alternatif Al-Jazeera Menggusarkan AS].

Risiko lebih ringan mungkin dialami sedikitnya 10 dari 600 wartawan media massa Barat yang "membonceng" konvoi pasukan koalisi AS. Mereka telah meninggalkan medan tempur setelah mengalami luka-luka dan trauma akibat menyaksikan tragedi kemanusiaan di Irak. Kini, setidaknya ada 20 wartawan yang mengajukan permohonan pulang. Namun, pihak Departemen Pertahanan AS atau Pentagon tak meluluskan keinginan mereka hengkang dari medan pertempuran.

Di sisi lain, Pentagon justru mengusir Geraldo Rivera. Soalnya, wartawan senior televisi Fox News ini dianggap terlalu detail memberitakan jalannya pertempuran. Nasib pahit juga dialami wartawan perang kawakan Peter Arnett (68). Secara mendadak, peliput Perang Vietnam dan Perang Teluk 1991 ini dipecat oleh stasiun televisi NBC dan The National Geographic Explorer lantaran tampil di televisi nasional Irak. Dalam wawancara tersebut, Arnett menyatakan rencana perang AS telah gagal karena rakyat Irak melakukan perlawanan dan bukannya menyambut pasukan sekutu dengan sukacita [baca: Perang Mulut Atas Nama Perang].

Bagi Arnett, pemecatan itu bukan yang pertama. Pada 1998, setelah 18 tahun bekerja untuk televisi Central News Network, Arnett dipecat CNN karena menayangkan film dokumenter Perang Vietnam, era 1960-an. Film ini menggambarkan secara gamblang pasukan AS menggunakan gas kimia beracun yang bernama agent orange dan menewaskan penduduk sipil. Nasib yang dialami Rivera dan Arnett jelas menjungkirbalikkan atau mengubah persepsi publik dunia tentang AS. Padahal, selama ini, Negeri Adikuasa itu kerap mendengung-dengungkan demokratisasi dan kebebasan pers.(ANS/Dhy)

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya