Jelang Akhir Pekan, Rupiah Menguat 15.380 per Dolar AS

Nilai tukar rupiah pada awal perdagangan Jumat naik seiring pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap terjaga.

oleh Liputan6.comDiperbarui 17 Maret 2023, 10:43 WIB
Pekerja menunjukan mata uang Rupiah dan Dolar AS di Jakarta, Rabu (19/6/2019). Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) sore ini Rabu (19/6) ditutup menguat sebesar Rp 14.269 per dolar AS atau menguat 56,0 poin (0,39 persen) dari penutupan sebelumnya. (Liputan6.com/Angga Yuniar )

Liputan6.com, Jakarta Nilai tukar rupiah pada awal perdagangan Jumat naik seiring pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap terjaga.

Rupiah pada Jumat pagi dibuka menguat sembilan poin atau 0,06 persen ke posisi 15.380 per dolar AS dibandingkan posisi pada penutupan perdagangan sebelumnya 15.389 per dolar AS.

"Gubernur BI sendiri cukup yakin dengan kondisi inflasi dalam negeri dan pertumbuhan ekonomi Indonesia. Hal ini bisa memberikan dampak positif bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia," kata analis ICDX Revandra Aritama dikutip dari Antara, Jumat (17/3/2023).

Bank Indonesia (BI) mengatakan pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap kuat didorong oleh peningkatan permintaan domestik dan ekspor.

Konsumsi rumah tangga diperkirakan makin kuat sejalan dengan peningkatan mobilitas di seluruh wilayah, penjualan eceran, dan membaiknya keyakinan konsumen.

Terkendalinya inflasi sebagai hasil dari respons kebijakan moneter BI serta eratnya sinergi pengendalian inflasi antara BI dengan pemerintah pusat dan daerah dalam Tim Pengendalian Inflasi Pusat (TPIP) dan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) melalui Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP) di berbagai daerah.

Sentimen Hasil RDG

Selain itu, Revandra mengatakan pergerakan rupiah hari ini juga mendapatkan sentimen dari hasil Rapat Dewan Gubernur BI yang memutuskan untuk kembali menahan suku bunga acuan BI di level 5,75 persen.

Dari eksternal, sentimen terhadap dolar AS masih terpengaruh oleh kolapsnya tiga bank AS, yakni Silicon Valley Bank (SVB), Silvergate Bank, dan Signature Bank, yang menyebabkan mengendurkan rencana Bank Sentral Amerika Serikat (AS) atau The Fed untuk meningkatkan pengetatan kebijakan moneter untuk melawan inflasi.

Ia memproyeksikan rupiah bergerak di kisaran 15.300 per dolar AS sampai dengan Rp15.450 per dolar AS.

 

Antisipasi Pertemuan The Fed

Teller tengah menghitung mata uang dolar di penukaran uang di Jakarta, Junat (23/11). Nilai tukar dolar AS terpantau terus melemah terhadap rupiah hingga ke level Rp 14.504. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Sementara itu, analis pasar uang Bank Mandiri Reny Eka Putri menambahkan pelaku pasar akan mengantisipasi hasil pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) atau dewan kebijakan Federal Reserve AS pekan depan yang diperkirakan akan tetap menaikkan Fed Funds Rate sebesar 25 basis poin (bps) menjadi ke kisaran 4,75-5 persen.

Selanjutnya, kondisi perbankan domestik dinilai tetap kuat dengan berlanjutnya pembiayaan perbankan terhadap dunia usaha yang tetap tinggi seiring dengan likuiditas yang masih longgar dan suku bunga yang masih bersaing.

BI telah melakukan stress test ketahanan perbankan dan menyimpulkan bahwa kondisi perbankan nasional tidak terdampak langsung oleh kasus penutupan tiga bank di AS.

Pada Kamis (16/3) rupiah ditutup merosot tujuh poin atau 0,05 persen ke posisi 15.389 per dolar AS dibandingkan posisi pada penutupan perdagangan sebelumnya 15.382 per dolar AS.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya