Rupiah Terbebani Inflasi AS

Rupiah melemah ke 17.948 per dolar AS. Kenaikan inflasi AS menjadi 3,7% memperkuat ekspektasi kebijakan hawkish The Fed.

Diterbitkan 15 Oktober 2026, 11:00 WIB
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Nilai tukar rupiah melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan perdagangan Kamis (15/10/2026). Pelemahan ini terjadi di tengah kenaikan inflasi AS pada September 2026 yang memperkuat ekspektasi pasar terhadap kebijakan suku bunga ketat bank sentral AS atau Federal Reserve (The Fed).

Rupiah turun 45 poin atau 0,25 persen menjadi 17.948 per dolar AS, dibandingkan penutupan sebelumnya di level 17.903 per dolar AS.

Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede menilai kenaikan inflasi AS menjadi salah satu faktor yang mendorong pelemahan mata uang Garuda.

“Inflasi CPI AS meningkat sebesar 0,6 persen MoM (Month on Month) pada September 2026, meningkat dari 0,4 persen MoM pada bulan sebelumnya, namun masih sesuai dengan ekspektasi pasar,” ucapnya dikutip Antara, Kamis (15/10/2026).

Secara tahunan, inflasi utama atau headline inflation AS naik menjadi 3,7 persen pada September 2026, dari 3,4 persen pada bulan sebelumnya. Angka tersebut juga melampaui konsensus pasar sebesar 3,6 persen.

Inflasi September 2026 itu menjadi yang tertinggi sejak Mei 2026. Josua menjelaskan, kenaikan inflasi utama terutama dipengaruhi oleh meningkatnya biaya energi.

Perkembangan tersebut menjadi perhatian pelaku pasar karena inflasi yang bertahan tinggi dapat memengaruhi arah kebijakan moneter AS. Jika tekanan harga belum mereda, The Fed berpotensi mempertahankan kebijakan suku bunga tinggi lebih lama atau mengambil langkah yang lebih ketat.

Kondisi ini turut memengaruhi pergerakan dolar AS dan nilai tukar negara lain, termasuk rupiah.

 

Daya Tarik Aset Berdenominasi Dolar AS

Selain inflasi utama, tekanan harga di AS juga terlihat pada inflasi inti yang tidak memasukkan komponen pangan dan energi. Inflasi inti meningkat menjadi 2,6 persen secara tahunan pada September 2026, dari 2,4 persen pada bulan sebelumnya. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan ekspektasi pasar sebesar 2,5 persen.

Josua menyebut kenaikan inflasi inti terutama didorong oleh peningkatan biaya tempat tinggal atau shelter serta kendaraan.

“Data inflasi yang lebih tinggi dari perkiraan tersebut memperkuat ekspektasi terhadap sikap The Fed yang hawkish, sehingga mendukung penguatan dolar AS,” ungkap Josua.

Sikap hawkish merujuk pada kecenderungan bank sentral untuk mempertahankan atau menaikkan suku bunga guna mengendalikan inflasi. Suku bunga AS yang relatif tinggi dapat meningkatkan daya tarik aset berdenominasi dolar AS bagi investor.

Hingga Kamis pagi, Josua menyampaikan bahwa investor masih memperkirakan kenaikan suku bunga kebijakan berikutnya akan terjadi pada Desember 2026.

Ekspektasi tersebut menjadi salah satu faktor yang dicermati pasar dalam menentukan arah pergerakan dolar AS dan mata uang negara berkembang. Apabila dolar AS terus menguat, tekanan terhadap rupiah berpotensi berlanjut, meskipun pergerakan nilai tukar juga dipengaruhi perkembangan ekonomi domestik dan sentimen pasar global lainnya.

Karena itu, pelaku pasar akan mencermati perkembangan inflasi AS berikutnya serta sinyal kebijakan The Fed untuk memperkirakan arah pergerakan nilai tukar rupiah.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6