Dennis Rodman identik dengan cap "bengal": tato yang memenuhi tubuh, tindikan di sana-sini, rambut yang dicat warna cerah, dan sikapnya yang 'nakal'.
Lama tak terdengar kabarnya, mantan pemain NBA berjuluk "cacing" itu dilaporkan bertolak ke Korea Utara. Di akan bertindak seolah duta basket, di tengah ketegangan antara Pyongyang dengan Amerika Serikat.
Rodman bersama tiga anggota tim basket Harlem Globetrotters, koresponden VICE, dan kru sebuah rumah produksi ke Korut dalam rangka syuting untuk acara terbaru HBO yang bakal tayang awal April depan.
Rodman menjadi tokoh dari AS kedua yang mengunjungi Korut. Sebelumnya ada CEO Google, Eric Schmidt, yang bertemu sejumlah penjabat dan melakukan tur di sejumlah laboratorium komputer Januari lalu, hanya beberapa minggu setelah Korut meluncurkan roket ke angkasa, yang diprotes dunia.
Sementara, VICE mengatakan, para tamu diharapkan bisa melakukan "diplomasi basket" di Korut, dengan membuat kamp basket untuk anak-anak, dan bermain bersama penduduk lokal. Juga berlatih melawan tim atlet terkemuka Korut. Pemimpin muda, Kim Jong Un -- yang dikenal suka basket -- diharapkan hadir dalam pertandingan persahabatan itu.
"Pada saat tensi hubungan dua negara meninggi, penting artinya untuk tetap membuka komunikasi kultural," kata Shane Smith, pendiri VICE, seperti dimuat News.com.au, Selaswa (26/2/2013). "Penting artinya untuk menunjukkan pada rakyat Korut, AS bukan musuh mereka. Bermain basket adalah langkah pertama menuju kebaikan."
Juga termasuk dalam agenda adalah mengunjungi monumen Korut, studio animasi SEK, dan taman bermain skate yang baru selesai dibangun di Pyongyang.
Departemen Luar Negeri AS, belum dikontak mengenai rencana perjalanan tersebut. Pihak Deplu tidak menganjurkan warga AS melakukan perjalanan pribadi ke Korut.
Kunjungan bos Google, lalu Rodman sejalan dengan kebijakan utama pemerintahan Kim Jong Un: memajukan teknologi dan olahraga.
Meski, penampilan Rodman -- tato mirip labirin, hidung beranting, dan rambut dicat mencolok adalah gaya yang sama sekali berbeda dengan penampilan para pria Korut, yang memakai celana khaki ala militer dan potongan rambut yang gayanya diatur pemerintah.
Saat foto Rodman ditunjukkan pada salah satu warga Korut, tanggapannya: "dia mirip monster."
Basket adalah salah satu olahraga paling tenar di Korut, selain sepakbola. Adalah pemandangan wajar menjumpai ring basket di parkiran hotel maupun halaman sekolah.
Di sisi lain, AS adalah musuh nomor wahid Korut. Negara paling tertutup di dunia itu juga membatasi pengaruh budaya AS. Meski demikian, warga Korut tahu benar siapa sosok Michael Jordan --mantan rekan setim Rodman di Chicago Bulls tahun 1990-an.
Jordan bahkan dicintai warga Korut, di studio seni Mansudae, potret Jordan, lengkap dengan replika tanda tangannya, dilukis di sudut ruangan, nampak aneh saat dijajarkan di antara poster propaganda dan vas dari tanah liat. (Ein)
Lama tak terdengar kabarnya, mantan pemain NBA berjuluk "cacing" itu dilaporkan bertolak ke Korea Utara. Di akan bertindak seolah duta basket, di tengah ketegangan antara Pyongyang dengan Amerika Serikat.
Rodman bersama tiga anggota tim basket Harlem Globetrotters, koresponden VICE, dan kru sebuah rumah produksi ke Korut dalam rangka syuting untuk acara terbaru HBO yang bakal tayang awal April depan.
Rodman menjadi tokoh dari AS kedua yang mengunjungi Korut. Sebelumnya ada CEO Google, Eric Schmidt, yang bertemu sejumlah penjabat dan melakukan tur di sejumlah laboratorium komputer Januari lalu, hanya beberapa minggu setelah Korut meluncurkan roket ke angkasa, yang diprotes dunia.
Sementara, VICE mengatakan, para tamu diharapkan bisa melakukan "diplomasi basket" di Korut, dengan membuat kamp basket untuk anak-anak, dan bermain bersama penduduk lokal. Juga berlatih melawan tim atlet terkemuka Korut. Pemimpin muda, Kim Jong Un -- yang dikenal suka basket -- diharapkan hadir dalam pertandingan persahabatan itu.
"Pada saat tensi hubungan dua negara meninggi, penting artinya untuk tetap membuka komunikasi kultural," kata Shane Smith, pendiri VICE, seperti dimuat News.com.au, Selaswa (26/2/2013). "Penting artinya untuk menunjukkan pada rakyat Korut, AS bukan musuh mereka. Bermain basket adalah langkah pertama menuju kebaikan."
Juga termasuk dalam agenda adalah mengunjungi monumen Korut, studio animasi SEK, dan taman bermain skate yang baru selesai dibangun di Pyongyang.
Departemen Luar Negeri AS, belum dikontak mengenai rencana perjalanan tersebut. Pihak Deplu tidak menganjurkan warga AS melakukan perjalanan pribadi ke Korut.
Kunjungan bos Google, lalu Rodman sejalan dengan kebijakan utama pemerintahan Kim Jong Un: memajukan teknologi dan olahraga.
Meski, penampilan Rodman -- tato mirip labirin, hidung beranting, dan rambut dicat mencolok adalah gaya yang sama sekali berbeda dengan penampilan para pria Korut, yang memakai celana khaki ala militer dan potongan rambut yang gayanya diatur pemerintah.
Saat foto Rodman ditunjukkan pada salah satu warga Korut, tanggapannya: "dia mirip monster."
Basket adalah salah satu olahraga paling tenar di Korut, selain sepakbola. Adalah pemandangan wajar menjumpai ring basket di parkiran hotel maupun halaman sekolah.
Di sisi lain, AS adalah musuh nomor wahid Korut. Negara paling tertutup di dunia itu juga membatasi pengaruh budaya AS. Meski demikian, warga Korut tahu benar siapa sosok Michael Jordan --mantan rekan setim Rodman di Chicago Bulls tahun 1990-an.
Jordan bahkan dicintai warga Korut, di studio seni Mansudae, potret Jordan, lengkap dengan replika tanda tangannya, dilukis di sudut ruangan, nampak aneh saat dijajarkan di antara poster propaganda dan vas dari tanah liat. (Ein)