Rony Helmi, Muslimpreneur yang Jatuh Bangun hingga Sukses di Dunia Bisnis Sesuai Syariat

Rony Helmi yang dikenal sebagai muslimpreneur, memiliki sejumlah bidang usaha atau bisnis di beberapa sektor sesuai syariat Islam.

oleh Ruly RiantrisnantoDiperbarui 22 Februari 2023, 12:46 WIB
Muslimpreneur Rony Helmi. (Dok. IST)

Liputan6.com, Jakarta Sosok Rony Helmi bagi sebagian orang yang sedang belajar bisnis atau para pemerhati bisnis syariah, mungkin sudah tak asing lagi. Pria berdarah Minangkabau ini gemar menyampaikan kiat sukses berwirausaha sesuai syariat dan tuntunan ajaran Islam melalui Instagram dan YouTube.

Pemilik akun instagram @ronyhelmi ini kerap mengunggah sejumlah konten edukasi bisnis mulai dari bagaimana memulai bisnis, cara mengatur keuangan, dan sejumlah tips berbisnis ala Nabi Muhammad SAW.

Saat ini, Rony Helmi dikenal sebagai muslimpreneur yang memiliki sejumlah bidang usaha di beberapa sektor. Mulai dari ritel, travel umroh dan haji, percetakan, penjualan obat herbal, hingga food and beverage.

Namun siapa sangka di balik kesuksesannya, pria yang akrab disapa Bang Rony ini kerap mengalami jatuh bangun.

 


Bakat Bisnis Sejak SD

Rony menceritakan bahwa ketertarikannya dengan bisnis dimulai sejak bangku sekolah dasar (SD). Di masa kecilnya, Rony sudah terbiasa diajarkan untuk menabung jika memiliki keinginan untuk membeli sesuatu.

Sejak SD hingga SMP, Rony sempat berjualan mainan layangan hingga petasan sebagai tambahan uang saku.

"Dari SD itu, karena memang kondisi keluarga, Papa Mama itu tidak ngajarin kita dikasih fasilitas, jadinya akhirnya aku nabung untuk bisa beli mainan, mau ngapain nabung dulu dan akhirnya waktu itu mulai beli layangan, jual-beli layangan, pakai sepeda, terus jualin," ungkap Rony saat ditemui di Jakarta, Jumat (10/2/2023).

 


Sempat Bangkrut Akibat Ditipu Rekan Bisnis

Beranjak dewasa, perjalanan Rony menjadi pengusaha tak selamanya mulus. Saat merintis bisnis sambil menyelesaikan studinya di Guangzhou, Tiongkok, Rony pernah ditipu rekan bisnisnya hingga mengakibatkan usahanya jatuh bangkrut.

"Kita dapat klien yang ekspor dari China ke Indonesia, itu satu kontainer 60 feet. Selesailah semua pekerjaan itu. Apa yang terjadi qadarullah sudah ambil kantor, sudah sewa kantor, sudah ngerapihin dan lain sebagainya, sudah akad hitam di atas putih, ada materai dan lain sebagainya," ungkap pria jebolan Jinan University, Tiongkok itu.

"Tapi walhasil emang dasarnya mungkin pesannya itu sudah salah, dan akhirnya pada saat selesai project, payment sudah beres, uangnya menguap. Orangnya enggak tahu ke mana, itu partner hilang," sambungnya.

Lanjut Baca:

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya