China Sensor Tayangan Malam Tahun Baru Lantaran Situasi Buruk Akibat COVID-19

China menyensor tayangan tentang malam tahun baru karena perayaan yang terhambar akibat COVID-19.

oleh Benedikta Miranti T.VDiperbarui 31 Desember 2022, 18:10 WIB
Pengunjung memakai masker saat mengunjungi dekorasi lampu di sebuah mal di Beijing, Jumat, 30 Desember 2022. China berada di jalan terjal untuk kembali ke kehidupan normal ketika warganya kembali ke sekolah, pusat perbelanjaan, dan restoran setelah berakhirnya kebijakan pembatasan paling parah di dunia diakhiri secara tiba-tiba, bahkan ketika rumah sakit dibanjiri pasien Covid-19 yang demam dan meriang parah. (AP Photo/Ng Han Guan)

Liputan6.com, Beijing - Malam Tahun Baru di China memicu curahan refleksi secara online, yang beberapa di antaranya kritis, tentang kebijakan ketat nol-COVID-19 yang dipatuhi negara tersebut selama hampir tiga tahun.

Dilansir Channel News Asia, Sabtu (31/12/2022), China bulan ini membatalkan pengujian massal berulang kali, karantina terpusat untuk orang yang terinfeksi, dan penguncian, ciri khas dari kebijakan yang bertujuan memberantas semua wabah COVID-19.

Perubahan mendadak untuk hidup dengan virus telah mendorong gelombang infeksi di seluruh negeri, penurunan aktivitas ekonomi dan kekhawatiran internasional, dengan Inggris dan Prancis menjadi negara terbaru yang memberlakukan pembatasan pada pelancong dari China.

Pada hari Sabtu (31 Desember), ribuan pengguna Weibo, media yang mirip Twitter di China mengkritik penghapusan video viral yang dibuat oleh outlet lokal Netease News yang mengumpulkan kisah nyata dari tahun 2022 yang telah memikat publik China.

Banyak cerita yang dimasukkan dalam video, yang tidak dapat dilihat atau dibagikan di platform media sosial domestik, menyoroti kesulitan yang dihadapi orang Tionghoa biasa sebagai akibat dari kebijakan nol-COVID yang ketat.

Weibo dan Netease tidak segera membalas permintaan komentar.

Satu tagar yang beredar di Weibo tentang video tersebut mengumpulkan hampir 4 juta klik sebelum menghilang dari platform sekitar tengah hari pada hari Sabtu. Pengguna media sosial membuat tagar baru untuk membuat komentar terus mengalir.

Penyensoran

Para pembeli kembali ke distrik perbelanjaan Xidan di Beijing, Kamis, 29 Desember 2022. Strategi "nol-Covid" mengurung jutaan keluarga di rumah mereka selama berminggu-minggu, menutup sebagian besar perjalanan masuk dan keluar China, dan mengosongkan jalan-jalan ramai di kota-kota besar. (AP Photo/Ng Han Guan)

Hilangnya video dan tagar, yang dilihat oleh banyak orang sebagai tindakan penyensoran, menunjukkan bahwa pemerintah China masih melihat narasi seputar penanganan penyakit tersebut sebagai masalah yang sensitif secara politik.

Banyak pengguna Weibo mengeluh tentang bagaimana gelombang infeksi telah merusak suasana perayaan di Malam Tahun Baru.

"Virus ini seharusnya pergi dan mati, tidak percaya tahun ini saya bahkan tidak dapat menemukan teman yang sehat yang dapat pergi bersama saya dan merayakan tahun baru," tulis seorang pengguna yang berbasis di provinsi Shandong timur.

Harapan Tahun Baru

Pengantar barang melintasi persimpangan di Beijing, Kamis, 29 Desember 2022. China berada di jalan terjal untuk kembali ke kehidupan normal ketika warganya kembali ke sekolah, pusat perbelanjaan, dan restoran setelah berakhirnya kebijakan pembatasan paling parah di dunia diakhiri secara tiba-tiba, bahkan ketika rumah sakit dibanjiri pasien Covid-19 yang demam dan meriang parah. (AP Photo/Ng Han Guan)

Yang lain menyatakan harapan Tahun Baru akan menandai kembalinya China ke kehidupan pra-pandemi.

"Saya hidup dan bekerja di bawah COVID-19 sepanjang tahun 2022 ... Saya harap tahun 2023 adalah saat semuanya dapat kembali seperti sebelum tahun 2020," kata seorang pengguna yang berbasis di provinsi tetangga Jiangsu.

Sementara otoritas kesehatan mengutip "pelemahan" dalam varian Omicron sebagai alasan di balik penghapusan kebijakan nol-COVID-19, pembukaan kembali dimulai hanya beberapa hari setelah China diguncang oleh ketidakpuasan publik terbesar sejak Presiden China. Xi Jinping mulai menjabat pada tahun 2012.

Protes nasional meletus pada akhir November sebagian besar menyerukan diakhirinya pembatasan nol-COVID. Beijing belum secara terbuka mengakui protes tersebut.

Angka Infeksi

Penumpang yang memakai masker berjalan melalui terminal bandara Ibukota di Beijing, China, Selasa (13/12/2022). Pada Rabu (28/12/2022) AS mengumumkan persyaratan pengujian COVID-19 baru untuk semua pelancong dari China, bergabung dengan negara lain yang memberlakukan pembatasan karena dari lonjakan infeksi. (AP Photo/Ng Han Guan)

China telah secara besar-besaran mengurangi pelaporan angka infeksi COVID-19 secara nasional.

Infeksi kumulatif di China kemungkinan mencapai 18,6 juta pada bulan Desember, menurut perkiraan perusahaan data kesehatan Airfinity yang berbasis di Inggris pada hari Kamis.

Tetapi beberapa perkiraan dari media pemerintah menunjukkan jumlah infeksi jauh lebih tinggi. Tingkat infeksi di provinsi Sichuan, yang berpenduduk lebih dari 84 juta, lebih dari 64%, menurut Health Times yang dikelola pemerintah.

Infografis Covid-19 Melonjak, China Bebaskan Warga Melancong, Italia Kena Getahnya (Liputan6.com/Triyasni)

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya