Liputan6.com, Jakarta Pele dan Muhammad Ali, dua legenda olahraga dari cabang yang berbeda. Pele bersinar lewat kakinya, sementara Ali populer lewat kepalan tangannya. Meski berada di jalur yang berbeda, kepergian kedua atlet legendaris itu merupakan kehilangan besar bagi dunia olahraga.
Ali lebih dulu berpulang. Pria dengan nama lengkap Cassius Marcellus Clay Jr itu meninggal dunia, 3 Juni 2016 usai berjuang melawan penyakit parkinson yang dideritanya bertahun-tahun.
Advertisement
Semasa hidupnya, Muhammad Ali dijuluki "The Greatest". Artinya yang terbaik.
Di eranya, Ali merebut sabuk juara dunia di tiga badan tinju berbeda. Rekornya juga tidak main-main. Ali pensiun usai tampil 61 kali dengan catatan 61 kali menang (37KO) dan 5 kali kalah.
Namun Ali bukan sekadar atlet. Dia adalah superstar. Pria kelahiran Kentucky, Amerika Serikat tersebut mengubah olahraga baku pukul jadi pertunjukan yang menghibur dan penuh drama.
Pele dua tahun lebih tua dari Ali. Pria dengan nama lengkap Edson Arantes do Nascimento melesat lewat sepak bola. Banyak rekor yang lahir dari kaki pria kelahiran 23 Oktober 1940 itu. Sebagian bahkan belum terpecahkan hingga kini, termasuk oleh Cristiano Ronaldo dan Lionel Messi.
Pele merupakan satu-satunya pemain yang mampu memenangkan tiga gelar Piala Dunia (1958, 1962, dan 1970). Dia juga jadi pemain termuda yang mampu memenangkan turnamen itu. Usianya baru 19 tahun saat membawa Brasil memenangkan Piala Dunia 1958 di Swedia.
Seperti Ali, Pele juga bukan atlet biasa. Neymar Jr yang bermain di PSG menyebut, Pele sebagai seniman. Lewat kaki dan kepalanya, Pele mengubah sepak bola jadi karya seni yang menghibur.
Pertemuan Bersejarah
Pele mengakhiri kariernya dari dunia sepak bola pada 1 Oktober 1977. Laga perpisahan berlangsung di Giants Stadium, New Jersey, Amerika Serikat, dengan mempertemukan dua klub yang pernah diperkuat Pele sepanjang kariernya, yakni New York Cosmos dan Santos.
Di babak pertama, Pele memperkuat Cosmos, tim terakhir yang diperkuat sebelum pensiun. Sementara di babak kedua, Pele bermain untuk Santos, tim yang membesarkan namanya.