Suporter Arab Saudi Tempuh Perjalanan 1.600 Kilometer untuk Saksikan Piala Dunia 2022 Qatar

Suporter Arab Saudi, Abdullah al-Sulmi (33 tahun) mendapatkan sambutan hangat dari orang-orang Saudi di Qatar

oleh Muhammad RizalDiterbitkan 05 November 2022, 21:30 WIB
Seorang pendukung Arab Saudi berdiri di tengah tribun penonton usai laga melawan Uruguay pada pertandingan kedua Grup A Piala Dunia 2018 di Rostov Arena, Rabu (20/6). Kalah 0-1, Arab Saudi menjadi tim kedua yang tersingkir setelah Maroko. (AFP/JOE KLAMAR)

Liputan6.com, Jakarta - Suporter Arab Saudi Abdullah al-Sulmi melakukan perjalanan selama 55 hari dari tanah kelahiran ke Qatar menjelang Piala Dunia 2022. Sosok berusia 33 tahun itu dilaporkan telah tiba di Doha.

al-Sulmi menyelesaikan perjalanan 1.600 kilometer pada 30 Oktober ke Qatar di mana ia akan menghadiri pertandingan Piala Dunia yang akan dimulai pada 20 November.

Dalam sebuah wawancara dengan Al Arabiya, al-Sulmi mengatakan bahwa pencapaian itu tidak terlepas dari tantangan yang meliputi menahan suhu panas dan melintasi medan gurun yang melelahkan.

Al-Sulmi, yang melakukan perjalanan dari Jeddah hanya dengan ransel, mengatakan bahwa dia telah mempersiapkan diri dengan baik sebelum memulai perjalanannya terutama dalam hal keselamatan.

Ia menambahkan, untuk memberikan kabar terbaru kepada kerabatnya, dirinya memasang alat pelacak yang terhubung ke telepon saudaranya dan ke telepon beberapa teman.

Al-Sulmi, yang telah menjadi trekker selama lima tahun, mengatakan kepada televisi Saudi Al Ekhbariya sesaat sebelum tiba di Qatar bahwa bagian terbaik dari perjalanannya adalah sambutan hangat orang-orang Saudi.

"Orang-orang Saudi sangat ramah, memberi semangat, sejujurnya, bagian terbaik dari perjalanan saya adalah sambutan hangat ini," katanya seperti dilansir Al-Arabiya.

 
 

Mimpi Jadi Kenyataan

Ilustrasi backpacker (dok. Unsplash.com/Usman Omar)

Setibanya di Qatar, al-Sulmi mengatakan bahwa tiba di Qatar adalah mimpi yang menjadi kenyataan. Dia yakin pencapaian itu tidak hanya karena ketekunannya, tetapi juga berkat dorongan orang-orang yang memotivasinya sepanjang perjalanannya.

"Saya mengalami pasang surut, tetapi ketika saya mendengar orang-orang menyambut saya dan mengatakan mereka akan menindaklanjuti perjalanan saya dan mendukung saya, saya merasa terdorong dan saya terus maju," katanya kepada France 24 saat dalam perjalanan ke Qatar.

"Setelah tiba di sini, saya berpikir, apa yang telah saya lakukan? Itu tidak mungkin. Tapi (Anda tahu), ketika saya pertama kali memulai perjalanan ini, yang saya pikirkan hanyalah tiba di Doha dan tiba di Piala Dunia,"

"Terima kasih Tuhan untuk itu, karena (itu membuat saya) mengatasi semua tantangan (perjalanan)," katanya kepada stasiun radio al-Wisal Oman setelah tiba di Qatar.

Lanjut Baca:

Hal serupa dilakukan oleh pria asal Spanyol yang memilih berjalan kaki dari kampung halamannya di Madrid menuju Doha. Namun ia dilaporkan orang tuanya hilang pada 17 Oktober. Santiago Sanchez diyakini ditahan di Iran di mana ia hilang lebih dari tiga pekan lalu, kata keluarganya, Rabu 26 Oktober 2022. Mengutip VOA Indonesia, Kamis (27/10/2022), petualang Spanyol itu berencana pergi ke Teheran, ibu kota Iran, di mana sebuah stasiun televisi ingin mewawancarainya.  Langkah selanjutnya adalah Bandar Abbas, sebuah pelabuhan di Iran Selatan di mana ia akan naik kapal ke Qatar. Kendati demikian, semua jejaknya menghilang bahkan sebelum ia mencapai Teheran, kata orang tuanya. "Kami mengetahui (Rabu) pagi ini dari kementerian luar negeri (Spanyol) bahwa ada kemungkinan 99 persen ia ditangkap,'' kata Celia Cogedor, ibu dari trekker Santiago Sanchez berusia 41 tahun itu, kepada Associated Press.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya