Banyak Dikritik, Begini Respon Komite Penyelenggara Piala Dunia 2022

Berbagai kritikan, terbaru dari Australia, mendapat respon cepat dari Qatar dan menunjukkan mereka makin terbuka menanggapi berbagai isu yang ada terkait Piala Dunia 2022.

oleh Yo KavyaDiterbitkan 31 Oktober 2022, 23:00 WIB
Pekerja melintas di depan pembangunan Stadion Lusail di Qatar, Jumat (20/12). Lusail akan menjadi stadion untyuk partai pembuka dan penutup piala dunia 2022 di Qatar. (AFP/Giuseppe Cacace)

Liputan6.com, Jakarta Qatar makin terbuka dan responsif menerima banyak kritikan terhadap masalah hak asasi manusia jelang Piala Dunia 2022 berlangsung. Terbaru, melalui Supreme Committee for Delivery & Legacy - komite yang bertanggung jawab atas semua pembangunan dan penyediaan infrastruktur Piala Dunia di Qatar (Komite Penyelenggara Piala Dunia 2022) mereka memberikan respon terhadap protes Australia.

 Meski kritik dan proters terus berdatangan, namun Presiden FIFA, Gianni Infantino mengungkapkan bahwa dengan diadakannya turnamen di Qatar, maka momen itu akan mengubah stigma orang-orang terhadap negara di Timur Tengah.

Sebanyak enam belas pemain Australia baru-baru ini menyuarakan keprihatinan tentang catatan pelanggaran hak asasi manusia Qatar. Melalui sebuah video, mereka menyerukan reformasi pekerja lebih lanjut serta dekriminalisasi hubungan sesama jenis.

"Kami memuji para pesepak bola yang menggunakan platform mereka untuk meningkatkan kesadaran akan hal-hal penting," demikian isi pernyataan Komite Penyelenggara mengapresiasi pernyataan para pemain Australia, seperti dikutip dari Fox Sports.

Qatar akan menjadi negara Timur Tengah pertama yang menjadi tuan rumah Piala Dunia ketika turnamen dimulai pada 20 November. Catatan tentang hak asasi manusia di negara tersebut telah mendapat sorotan dari berbagai organisasi dan pesepak bola di seluruh dunia, termasuk Socceroos, julukan timnas Australia.

Menurut komite itu, Piala Dunia ini telah berkontribusi pada warisan kemajuan, latihan yang lebih baik, dan peningkatan kehidupan, dan ini adalah warisan yang akan bertahan lama setelah bola terakhir ditendang.


Tantangan

Bangun Stadion Piala Dunia, Qatar Gunakan Kerja Paksa (AFP)

"Setiap negara - tuan rumah acara besar atau tidak - memiliki tantangannya sendiri," katanya.

Komite itu juga menyatakan, segala upaya telah dilakukan untuk memastikan bahwa Piala Dunia ini memiliki dampak transformatif dalam meningkatkan kehidupan, terutama bagi mereka yang terlibat dalam pembangunan tempat kompetisi dan non-kompetisi.

"Melindungi kesehatan, keselamatan, keamanan, dan martabat setiap pekerja yang berkontribusi pada Piala Dunia ini adalah prioritas kami," tulis pernyataan tersebut.

Socceroos, termasuk kapten Mat Ryan, mengakui adanya reformasi tempat kerja yang baru-baru ini dilakukan oleh pemerintah Qatar. "Tetapi implementasinya tetap tidak konsisten dan membutuhkan perbaikan," kata para pemain dalam pernyataan mereka.

Lanjut Baca:

Komite itu juga mengatakan, reformasi baru-baru ini yang diprakarsai oleh pemerintah Qatar akan mengubah budaya tempat kerja tetapi membutuhkan waktu untuk diterapkan sepenuhnya. Reformasi ketenagakerjaan pemerintah Qatar diakui oleh ILO (Organisasi Buruh Internasional), ITUC, (Konfederasi Serikat Buruh Internasional) dan banyak organisasi hak asasi manusia sebagai patokan di kawasan itu.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya