Okupansi LRT Palembang Melonjak 25 Persen Sejak Ada Angkot Feeder

Oleh Liputan6.com pada 25 Okt 2022, 11:45 WIB
LRT Palembang Sumsel (Dok.Puspanagri Mas Bayu Sadewa / Nefri Inge)

Liputan6.com, Jakarta - Tingkat okupansi moda transportasi LRT Palembang Sumatera Selatan (Sumsel) melonjak dalam tiga bulan terakhir. Lonjakan ini terjadi setelah beroperasinya layanan angkutan kota feeder New Oplet Musi Emas mulai Juni 2022.

“Alhamdulillah peningkatan penumpang pasca-diluncurkannya angkot feeder ini mencapai 25 persen,” kata Kepala Balai Pengelola Kereta Api Ringan Sumatera Selatan (BPKARSS) Ditjen Perkeretaapian, Kemenhub, Dedik Tri Istiantara dikutip dari Antara, Selasa (25/10/2022). 

Peluncuran angkot feeder New Oplet Musi Emas dilakukan oleh Direktorat Jenderal Perkeretaapian (DJKA) melalui BPKARSS bekerjasama dengan Balai Pengelola Transportasi Darat Wilayah VII Provinsi Sumatera Selatan dan Provinsi Bangka Belitung dan Dinas Perhubungan Provinsi Sumatera Selatan, sebagai upaya memaksimalkan keterjangkauan LRT Sumsel dalam melayani masyarakat Kota Palembang.

Ia menyebutkan data rata-rata penumpang harian meningkat menjadi 9.066 penumpang per hari sejak diluncurkan angkot feeder pada periode Juli-Oktober 2022 dari sebelumnya 7.239 penumpang per hari  pada periode Januari-Juni 2022.

Sementara itu, peningkatan penumpang juga terjadi di Stasiun Punti Kayu dan di Stasiun Asrama Haji.

Dedik menambahkan antusiasme masyarakat dalam memanfaatkan LRT Sumsel dan menyambung perjalanan menggunakan angkot feeder, mendorong pemerintah untuk memperluas jangkauan layanan angkutan pengumpan tersebut.

Kata dia, pemerintah akan menambah lima koridor tambahan secara bertahap sehingga nantinya akan ada tujuh koridor angkot pengumpan yang melayani penumpang LRT Sumsel.

“Layanan angkot feeder ini turut melengkapi integrasi antarmoda LRT Sumsel setelah sebelumnya terintegrasi dengan layanan bus BRT dan Damri,” ujarnya.

 

2 dari 4 halaman

Tren Terus Meningkat

LRT Palembang (Liputan6.com / Nefri Inge)

Sementara itu, Plt. Direktur Jenderal Perkeretaapian Zulmafendi menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang sudah memanfaatkan LRT Sumsel sebagai moda transportasi sehari-hari.

“Hari ini tercatat jumlah penumpang yang terangkut oleh LRT Sumsel pada tahun 2022 hingga Oktober mencapai 2.352.714 penumpang, melonjak 47 persen dari tahun sebelumnya,” katanya.

Meskipun belum menyamai tingkat okupansi sebelum pandemi, namun Zulmafendi optimis bahwa tren peningkatan tingkat keterisian LRT Sumsel ini akan terus berlanjut seiring dengan beragam program yang dijalankan oleh DJKA.

“Peningkatan jumlah perjalanan menjadi 94 perjalanan/hari juga telah kami lakukan sehingga hari ini dapat kita lihat bersama bahwa LRT Sumsel sudah dipenuhi oleh masyarakat Palembang yang ingin menuju tempat aktivitasnya, terutama pada jam-jam sibuk,” ujarnya.

Zulmafendi juga menjelaskan bahwa DJKA melalui BPKARSS juga akan melakukan kolaborasi dengan berbagai stakeholder untuk mendorong penggunaan LRT Sumsel oleh masyarakat.

“Kami berharap beragam upaya yang kami lakukan ini dapat meningkatkan pengalaman perjalanan dengan LRT Sumsel sehingga moda transportasi ini menjadi andalan warga Palembang dan sekitarnya,” pungkasnya.

3 dari 4 halaman

Ridwan Kamil Minta Maaf Usai Sebut LRT Palembang Proyek Gagal, Ini Klarifikasinya

Para penumpang menunggu kedatangan kereta di Stasiun LRT Palembang, Sumatra Selatan, Minggu (5/7/2018). LRT ini akan menjadi salah satu solusi transportasi saat Asian Games mendatang. (Bola.com/Reza Bachtiar)

Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil meminta maaf atas pernyataan yang menyebut moda transportasi LRT Palembang sebagai sebuah proyek yang gagal.

Menurut sosok yang akrab disapa Kang Emil ini coba meluruskan maksud pernyataannya terkait LRT Palembang dalam diskusi Studi Pembangunan di Jababeka. Dalam hal ini, ia menyinggung pembangunan proyek transportasi massal di daerah dengan kebutuhan dana besar, semisal MRT.

"Konteksnya begin.Dalam diskusi, ada developer di bekasi-karawang tiba-tiba meminta dibangunkan MRT. Saya menjawab dgn berargumentasi, MRT itu mahal sekali, Rp 1 Trilyun per KM. Tidak ada anggaran pemerintah daerah yang sanggup kecuali DKI mungkin," tulis Ridwan Kamil melalui akun Instagram @ridwankamil, Senin (24/10/2022).

Kang Emil menenggarai, pembangunan MRT harus dilatarbelakangi dengan adanya populasi besar di daerah tersebut, supaya angkutan massal tersebut penuh dan cepat balik modal.

Selain itu, moda tersebut pun harus terkoneksi dengan angkutan transportasi pendukung (feeder) dan jaringannya musti luas. Dia lantas mencontohkan penggunaan LRT Palembang yang cenderung sepi karena belum memenuhi ketentuan itu.

"Jika populasi sedikit nanti ada tantangan seperti LRT Palembang yang kondisi ridershipnya penumpang hariannya belum maksimal (berdasarkan penglihatan saya saat kunjungan terakhir)," tutur Ridwan Kamil.

 

4 dari 4 halaman

Bersifat Akademis

Sebagai pembelaan, ia menyebut diskusi di Jababeka tersebut bersifat akademis. Dai pun mengakui kekhilafannya yang kini menjabat sebagai pejabat publik, yang kerap membandingkan suatu proyek dengan yang sudah eksisting.

"Mungkin kebiasaan saya sebagai mantan dosen yg selalu berargumen dengan memberi contoh studi kasus. Suka lupa bahwa dalam berstatemen akademik, melekat jabatan saya sbg pemimpin daerah, sehingga ada kritikan “urus aja atuh jabar, jangan sok komen pembangunan daerah lain”. Kritikan itu saya terima dengan lapang dada," bebernya.

"Namun jika itu kurang berkenan dan keliru, sekali lagi saya haturkan permohonan maaf. Mungkin saya harus update dan jalan-jalan lagi ke Kota Palembang yang pembangunannya memang keren, pesat dan luarbiasa," pungkas Ridwan Kamil.

 

Infografis LRT Jabodebek (Liputan6.com/Triyasni)

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya