Rupiah Melemah Tembus 15.575 per Dolar AS Dampak Ketakutan Pengetatan Moneter

Pada Kamis (20/10/2022), rupiah melemah 77 poin atau 0,5 persen ke posisi 15.575 per dolar AS.

oleh Liputan6.comDiperbarui 20 Oktober 2022, 10:58 WIB
Karyawan menunjukkan uang dolar AS dan rupiah di Jakarta, Rabu (30/12/2020). Nilai tukar rupiah di pasar spot ditutup menguat 80 poin atau 0,57 persen ke level Rp 14.050 per dolar AS. (Liputan6.com/Johan Tallo)

Liputan6.com, Jakarta - Nilai tukar rupiahterhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada Kamis pagi bergerak melemah. Pelemahan nilai tukar rupiah masih dipicu kekhawatiran terjadinya resesi global akibat pengetatan moneter yang agresif oleh bank sentral.

Pada Kamis (20/10/2022), rupiah  melemah 77 poin atau 0,5 persen ke posisi 15.575 per dolar AS dibandingkan posisi pada penutupan perdagangan sebelumnya 15.498 per dolar AS.

"Ekspektasi kenaikan suku bunga The Federal Reserve (Fed) lebih banyak mendorong imbal hasil obligasi AS," tulis Tim Riset Monex Investindo Futures dikutip dari Antara. 

Imbal hasil obligasi AS melonjak di tengah data dan prospek perusahaan yang suram, yang menekan selera risiko investor. Imbal hasil obligasi AS saat ini berada di level tertinggi sejak krisis keuangan 2008 yaitu 4,136 persen, karena prospek kenaikan suku bunga lebih banyak membuat investor membuang obligasi. Hal itu juga mendorong kenaikan dolar AS.

Sementara itu komentar hawkish dari pejabat The Fed mengguncang pasar minggu ini. Presiden The Fed Minneapolis Neel Kashkari memperingatkan bahwa inflasi yang terlalu panas dapat memacu The Fed untuk menaikkan suku bunga acuan di atas 4,75 persen, level tertinggi sejak 2007.

Komentar tersebut datang hanya beberapa hari setelah data menunjukkan inflasi AS tetap keras di dekat level tertinggi 40 tahun meskipun serangkaian kenaikan suku bunga tajam tahun ini.

Sedangkan Presiden The Fed Atlanta Raphael Bostic juga menekankan perlunya mengendalikan inflasi, mengutip tekanan pada pasar tenaga kerja dari kenaikan suku bunga dan harga.

Pelaku pasar mengkhawatirkan kenaikan suku bunga bank sentral untuk menahan inflasi dapat mendorong ekonomi global mengalami kontraksi.

Rupiah Berpotensi Menguat Tipis pada Perdagangan 20 Oktober 2022

Teller menghitung mata uang rupiah di bank, Jakarta, Rabu (22/1/2020). Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengatakan penguatan nilai tukar rupiah yang belakangan terjadi terhadap dolar Amerika Serikat sejalan dengan fundamental ekonomi Indonesia dan mekanisme pasar. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Sebelumnya, Direktur PT Laba Forexindo Berjangka, Ibrahim Assuaibi mengatakan, Rupiah berpotensi menguat pada perdagangan Kamis, 20 Oktober 2022. 

“Mata uang rupiah kemungkinan dibuka berfluktuatif namun ditutup menguat tipis di rentang Rp 15.470 hingga Rp 15.540,” kata Ibrahim dalam keterangan tertulis, Rabu, 19 Oktober 2022.

Secara internal, di tengah kesuraman ekonomi dunia akibat krisis keuangan, pangan, dan energi  yang terjadi saat ini dan ditambah dengan tekanan inflasi yang tinggi  sehingga bank sentral global melakukan pengetatan menjadikan dunia dibayangi dengan ancaman resesi.

Dengan adanya ketidakpastian yang terutama diakibatkan oleh The Perfect Storm, sejumlah lembaga internasional memproyeksikan pertumbuhan ekonomi dunia pada 2023 berada pada kisaran 2,3 persen hingga 2,9 persen. 

Proyeksi tersebut mengalami penurunan dibandingkan dengan pertumbuhan ekonomi dunia pada 2022 yang berada pada kisaran 2,8 persen hingga 3,2 persen. Saat gejolak terjadi Indonesia menjadi titik terang di tengah-tengah kesuraman ekonomi dunia.

Titik terang tersebut bisa menambah tingkat kepercayaan pemimpin dunia terhadap perekonomian Indonesia dan ini bisa dibuktikan dari data neraca perdagangan Indonesia (NPI) pada September 2022 yang kembali surplus  sebesar USD 4,99 miliar atau sekitar Rp 77,3 triliun pada September 2022. 

Walaupun kondisi ekonomi Indonesia kemungkinan akan membaik, namun semua pihak untuk tetap berhati-hati dalam menyikapinya dan tetap waspada resesi di depan mata masih ada. 

Berdasarkan informasi  dari International Moneter Fund (IMF) sudah ada 28 negara yang sudah mengantri, namun baru 16 negara yang sudah menjadi pasien IMF.

 

 

Indeks Dolar AS Menguat

Teller tengah menghitung mata uang dolar di penukaran uang di Jakarta, Junat (23/11). Nilai tukar dolar AS terpantau terus melemah terhadap rupiah hingga ke level Rp 14.504. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Dolar AS naik lebih tinggi, memantul dari level terendah dua minggu, setelah inflasi Inggris melonjak ke level tertinggi 40 tahun dan serangkaian komentar hawkish dari pejabat Fed.

Inflasi Inggris meningkat lebih dari yang diharapkan pada September, dengan indeks harga konsumen naik menjadi 10,1 persen pada basis tahunan, menyamai level tertinggi 40 tahun yang dicapai pada Juli.

Sementara angka ini akan meningkatkan tekanan pada Bank of England untuk melanjutkan pengetatan kebijakan moneter, itu juga menunjukkan pendapatan rumah tangga akan tetap tertekan, kemungkinan mengarah ke perlambatan ekonomi seiring berjalannya tahun.

Sentimen risiko telah meningkat akhir-akhir ini, dibantu oleh pembalikan rencana pemotongan pajak Inggris yang tidak didanai, pendapatan perusahaan yang solid meningkatkan pasar ekuitas, dan cuaca yang lebih hangat membantu harga gas Eropa turun.

Selain itu, Presiden Fed Minneapolis Neel Kashkari mengatakan The Fed dapat mendorong suku bunga acuannya di atas 4,75 persen jika inflasi yang mendasarinya tidak mereda. 

Infografis Nilai Tukar Rupiah (Liputan6.com/Trie Yas)

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya