Harga Minyak Dunia Naik 2% Gara-gara Stok Diesel Rendah Jelang Musim Dingin

Banyak investor tetap khawatir bahwa kenaikan inflasi akan mengurangi permintaan bahan bakar. harga minyak dunia hari ini pun turun.

oleh Tira SantiaDiperbarui 14 Oktober 2022, 06:25 WIB
Ilustrasi Harga Minyak Dunia. Foto: AFP

Liputan6.com, Jakarta Harga minyak duniamencuat naik sekitar 2 persen dipicu tingkat persediaan diesel yang rendah menjelang musim dingin telah memicu pembelian. Serta membalikkan kerugian awal yang mengikuti stok minyak mentah dan bensin yang lebih tinggi dari perkiraan.

Melansir laman CNBC, Jumat (14/10/2022), harga minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman Desember naik USD 2,22 menjadi USD 96,47 per barel, naik 2,4 persen, setelah sempat turun pada hari sebelumnya. Harga minyak mentah AS naik USD 1,93, atau 2,2 persen menjadi USD 89,20 per barel.

Stok minyak sulingan, yang meliputi solar dan minyak pemanas, turun 4,9 juta barel dalam pekan yang berakhir 7 Oktober menjadi 106,1 juta barel, terendah sejak Mei. Ini merupakan data Lembaga Administrasi Informasi Energi AS, lebih rendah dari ekspektasi turun sebanyak 2 juta barel.

Hal itu mendorong investor untuk mengabaikan adanya 2 juta stok bensin dan kenaikan yang lebih besar dari perkiraan jika stok persediaan minyak mentah mendekati 10 juta barel.

“Bagian yang paling mengganggu dari laporan (EIA) adalah persediaan penyulingan jauh di bawah rata-rata. Musim dingin akan datang,” kata Phil Flynn, Analis Price Futures Group di Chicago.

"Pasar melihat gambaran besarnya, berlawanan dengan angka permintaan jangka pendek yang terkena dampak badai," jelas dia.

Banyak investor tetap khawatir bahwa kenaikan inflasi akan mengurangi permintaan bahan bakar. Badan Energi Internasional memperingatkan bahwa ekonomi global mungkin masuk ke dalam resesi.

 

 

Intervensi Joe Biden

Ilustrasi Harga Minyak

Di sisi lain, harga konsumen AS meningkat lebih dari yang harapan pada bulan lalu dan tekanan inflasi yang mendasarinya terus meningkat.

Ini memperkuat ekspektasi bahwa Federal Reserve akan memberikan kenaikan suku bunga 75 basis poin keempat bulan depan.

Chief Executive Officer JPMorgan Chase & Co Jamie Dimon memperingatkan bahwa inflasi yang terus-menerus dan tinggi dapat memacu suku bunga naik lebih tinggi dari 4,5 persen.

Presiden Joe Biden mengatakan harga bensin AS tetap terlalu tinggi dan dia akan berbicara minggu depan tentang menurunkan biaya.

Hal lain yang membebani harga adalah peringatan oleh IEA bahwa keputusan OPEC+ minggu lalu untuk memangkas pasokan sebesar 2 juta barel per hari (bph) dapat menyebabkan resesi global.

"Rencana OPEC+ ... telah menggelincirkan lintasan pertumbuhan pasokan minyak sepanjang sisa tahun ini dan berikutnya, dengan tingkat harga yang lebih tinggi yang dihasilkan memperburuk volatilitas pasar dan meningkatkan kekhawatiran keamanan energi," kata IEA.

 

Turunkan Prediksi

Ilustrasi Harga Minyak Dunia Hari Ini. Foto: AFP

IEA sedikit menurunkan perkiraan pertumbuhan permintaan minyaknya di tahun ini menjadi 1,9 juta barel per hari. Kemudian 470.000 barel per hari pada 2023 menjadi 1,7 juta barel per hari.

OPEC pada hari Rabu memangkas prospek pertumbuhan permintaan tahun ini sebesar 460.000 barel per hari menjadi 2,64 juta barel per hari.

Ini mengutip kebangkitan adanya langkah-langkah penahanan COVID-19 China dan inflasi yang tinggi. Ini menurunkan perkiraan permintaan minyak 2023 sebesar 360.000 barel per hari menjadi 2,34 juta barel per hari.

"Prospek pertumbuhan berkelanjutan memburuk dengan cepat karena tekanan inflasi yang mengakar, pengetatan kuantitatif, kenaikan biaya pinjaman yang berkelanjutan, dolar yang kuat, dan kendala terkait COVID di ekonomi terbesar kedua di dunia, China," kata Analis PVM Tamas Varga.

Pasar energi juga berada di bawah tekanan dari dolar AS, yang telah menguat secara luas, termasuk terhadap mata uang berimbal hasil rendah seperti yen.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya