Bencana Susulan Hantui Penyintas Korban Banjir Bandang di Banggai

Warga terdampak banjir bandang di Kecamatan Luwuk Timur, Kabupaten Banggai, meminta normalisasi sungai segera dilakukan agar tidak kembali meluap.

oleh Heri Susanto diperbarui 04 Sep 2022, 05:00 WIB
Petugas SAR membantu membersihkan rumah warga pascabanjir bandang di Desa Pohi, Kabupaten Banggai, Kamis (1/9/2022). (Foto: Basarnas Palu).

Liputan6.com, Banggai - Pascabanjir bandang yang menerjang 2 desa di Kecamatan Luwuk Timur, Banggai, warga mengaku masih resah dan khawatir banjir susulan akan terjadi. Pasalnya hujan di wilayah itu masih kerap terjadi dan berpotensi membuat sungai meluap.

Kepala Desa Pohi, Syahrial mengungkapkan untuk meminimalisasi risiko pihaknya berharap pengerukan atau normalisasi sungai baik oleh BPBD maupun Dinas PU bisa segera diselesaikan.

“Alat berat sudah ada tapi sampai Kamis kemarin belum bisa kerja karena air masih meluap dan hujan,” kata Syahrial, Jumat (2/9/2022).

Pengerukan menurutnya adalah solusi darurat untuk mengantisipasi dampak curah hujan tinggi. Untuk penanganan jangka panjang dia berharap tepi-tepi sungai itu juga dibuatkan penahan air atau tanggul.

Banjir bandang di desa itu sendiri bukan yang pertama kali terjadi. Syahrial menceritakan tahun sebelumnya 2 kali desanya dilanda banjir. Namun yang terjadi 30 Agustus, 2022 diakuinya merupakan yang terparah. 81 rumah tercatat rusak dan 40 hektare sawah tertutup lumpur, serta ratusan warga mengungsi akibat bencana itu.

Tiga hari pascabencana, warga Desa Pohi dan Indang Sari yang menjadi lokasi terdampak parah banjir dibantu petugas masih membersihkan rumah dan jalan desa dari material yang terbawa banjir. Dapur umum masih menjadi sumber penyedia pangan bagi warga terdampak.

 

Simak Video Pilihan Ini:

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya