Rupiah Berpotensi Lesu pada Selasa 12 Juli 2022

Rupiah ditutup menguat tipis pada perdagangan Senin (11/7/2022).

oleh Gagas Yoga PratomoDiterbitkan 11 Juli 2022, 21:14 WIB
Karyawan menunjukkan uang dolar AS dan rupiah di Jakarta, Rabu (30/12/2020). Nilai tukar rupiah di pasar spot ditutup menguat 80 poin atau 0,57 persen ke level Rp 14.050 per dolar AS. (Liputan6.com/Johan Tallo)

Liputan6.com, Jakarta - Pada perdagangan Senin (11/7/2022) Rupiah ditutup menguat 4 poin walaupun sebelumnya sempat menguat 15 poin di level Rp 14.975. Sedangkan, pada penutupan perdagangan sebelumnya Rupiah berada di posisi 14.978.

Direktur PT Laba Forexindo Berjangka, Ibrahim Assuaibi mengatakan, Rupiah masih berpotensi melemah pada perdagangan Selasa, 12 Juli 2022. "Mata uang rupiah kemungkinan dibuka berfluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp 14.960 hingga Rp 14.990,” kata Ibrahim dalam keterangan tertulis, Senin (11/7/2022).

Secara internal, gerak rupiah dipengaruhi oleh gonjang ganjing ekonomi global soal resesi akibat harga-harga komoditas yang melambung tinggi, menyebabkan tingginya inflasi sehingga Bank Sentral global menaikkan suku bunga yang berdampak terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). 

Namun, dalam kondisi carut marut seperti itu, salah satu negara berkembang yaitu Indonesia, ekonominya tetap kuat dalam menghadapi ancaman yang datang dari eksternal. Indikasi ini bisa dilihat dari data ekonomi domestik yang menunjukan perbaikan. 

Bank Indonesia (BI) melaporkan cadangan devisa Indonesia naik dari USD  800 juta atau sekitar Rp 11,9 triliun menjadi USD 136,4 miliar (Rp 2.043 triliun) pada Juni 2022. 

Posisi cadangan devisa Juni 2022 menjadi yang tertinggi sejak Maret 2022. Kendati terjadi outflows tetapi peningkatan cadangan devisa disebabkan oleh penerbitan global bond serta penerimaan pajak dan jasa.

Kemudian dari sisi rilis data Indeks Keyakinan Konsumen (IKK), meski terjadi penurunan secara bulanan sebesar 0,7 poin, tetapi angka IKK menunjukkan konsumen tetap optimis. Dari enam sub-indeks IKK hanya dua sub-indeks yang mengalami penurunan yaitu sub-indeks untuk kondisi ekonomi saat ini dan pendapatan saat ini.

Sementara itu optimisme konsumen terhadap outlook ekonomi, ekspektasi pendapatan 6 bulan ke depan, ketersediaan lapangan kerja dibanding 6 bulan lalu serta ekspektasi ketersediaan lapangan kerja 6 bulan mendatang masih menunjukkan peningkatan.

Gejolak yang dialami oleh pasar keuangan Tanah Air masih tak bisa dilepaskan dari kondisi eksternal yang memang belum mendukung, namun pemerintah dan Bank Indonesia optimis bisa menanggulangi bersama-sama sehingga gejolak eksternal masih bisa diredam dengan data fundamental yang kuat.

 

 

 

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Dolar AS Menguat

Petugas bank menghitung uang dollar AS di Jakarta, Jumat (20/10). Nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat (USD) masih belum beranjak dari level Rp 13.500-an per USD. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Di sisi lain, Dolar menguat terhadap mata uang lainnya pada Senin, penyebabnya adalah kekhawatiran pertumbuhan global membantu safe-haven dolar naik lebih luas. Sedangkan patokan imbal hasil Treasury AS 10-tahun stabil di dekat level tertinggi lebih dari satu minggu sesi sebelumnya.

Gubernur Bank of Japan Haruhiko Kuroda mengatakan pada hari sebelumnya bank sentral “tidak akan ragu untuk mengambil langkah-langkah pelonggaran moneter tambahan yang diperlukan”.

Di China, Shanghai melaporkan kasus pertama dari sub-varian BA.5 omicron yang sangat menular pada Minggu dan memperingatkan risiko "sangat tinggi", memicu kekhawatiran akan lebih banyak penguncian. Beijing juga telah berjanji untuk menopang perekonomian.

Kekhawatiran akan inflasi yang tinggi dan perlambatan pertumbuhan ekonomi terus membebani pasar. Tingkat pengangguran AS tetap di 3,6 persen yang meredakan beberapa kekhawatiran resesi, meningkatkan ekspektasi pengetatan moneter lebih lanjut.

Investor sekarang menunggu Indeks Harga Konsumen (CPI) AS, yang akan dirilis Rabu ini, yang diperkirakan akan mendekati 9 persen, tertinggi baru empat dekade.

Rupiah Melemah di Tengah Ekspektasi Kenaikan Suku Bunga The Fed

Petugas menghitung uang rupiah di penukaran uang di Jakarta, Senin (9/11/2020). Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS bergerak menguat pada perdagangan di awal pekan ini Salah satu sentimen pendorong penguatan rupiah kali ini adalah kemenangan Joe Biden atas Donald Trump. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Sebelumnya, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada Senin pagi dibuka melemah. Pelemahan nilai tukar rupiah ini terjadi di tengah ekspektasi kenaikan suku bunga oleh bank sentral Amerika Serikat (AS), Federal Reserve (Fed).

Pada Senin, 11 Juli 2022, rupiah pagi ini bergerak melemah empat poin atau 0,03 persen ke posisi 14.983 per dolar AS dibandingkan posisi pada penutupan perdagangan sebelumnya 14.979 per dolar AS.

"Dolar AS dalam tren penguatannya di tengah pasar yang mempertimbangkan ekonomi AS menciptakan lebih banyak pekerjaan daripada ekspektasi di bulan Juli," kata analis Monex Investindo Futures Faisyal dikutip dari Antara.

Data tersebut memperkuat ekspektasi untuk kenaikan suku bunga lainnya sebesar 75 basis poin pada pertemuan kebijakan Federal Reserve pada akhir bulan ini.

Jumlah tenaga kerja di luar sektor pertanian atau Non Farm Payroll (NFP) tumbuh 372.000 pekerjaan pada bulan lalu, ungkap departemen tenaga kerja AS pada Jumat 8 Juli 2022.

Angka tersebut lebih tinggi dari estimasi ekonom untuk pertumbuhan 268.000 pekerjaan jumlah tenaga kerja baru pada bulan lalu.

Ekspektasi pasar meningkat terhadap peluang kenaikan suku bunga The Fed pada pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) pada 28 Juli 2022 mendatang.

Pelaku pasar pun nampak memilih melakukan aksi beli dolar AS, yang memangkas minat terhadap aset-aset berisiko seperti bursa indeks.

BI Klaim Pelemahan Rupiah Tak Seburuk Ringgit Malaysia

Karyawan menunjukkan uang dolar AS dan rupiah di Jakarta, Rabu (30/12/2020). Nilai tukar rupiah di pasar spot ditutup menguat 80 poin atau 0,57 persen ke level Rp 14.050 per dolar AS. (Liputan6.com/Johan Tallo)

Sebelumnya, Bank Indonesia (BI) mengklaim, pelemahan nilai tukar Rupiah atau Depresiasi masih lebih baik ketimbang sejumlah negara berkembang lainnya di tengah tekanan geopolitik dunia akibat konflik Rusia dan Ukraina.

Tercatat, nilai tukar Rupiah sampai dengan 22 Juni 2022 terdepresiasi sekitar 4,14 secara year to date (ytd).

Gubernur BI Perry Warjiyo bilang, capaian tersebut lebih baik dibandingkan dengan depresiasi mata uang sejumlah negara berkembang kawasan Asia Selatan maupun Asia Tenggara. Seperti India 5,17 persen, Malaysia 5,44 persen, dan Thailand 5,84 persen.

"Depresiasi Rupiah masih lebih baik ketimbang mata uang sejumlah negara berkembang lainnya," ujarnya dalam video konferensi Hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bulanan BI - Juni 2022, Kamis (23/6/2022).

Perry menjelaskan, depresiasi Rupiah tersebut sejalan dengan meningkatnya ketidakpastian pasar keuangan global akibat pengetatan kebijakan moneter yang lebih agresif di berbagai negara untuk merespons peningkatan tekanan inflasi dan kekhawatiran perlambatan ekonomi global.

Sementara itu, pasokan valas domestik tetap terjaga dan persepsi terhadap prospek perekonomian Indonesia tetap positif.

Ke depan, Bank Indonesia terus mencermati perkembangan pasokan valas dan memperkuat kebijakan stabilisasi kurs Rupiah sesuai dengan bekerjanya mekanisme pasar dan nilai fundamentalnya untuk mendukung upaya pengendalian inflasi dan stabilitas makroekonomi.

"Hal ini untuk mendukung pemulihan ekonomi nasional," ujar dia.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya