3 Tanggapan Jokowi soal Gagalnya Kesepakatan Gencatan Senjata Rusia-Ukraina

Presiden Joko Widodo atau Jokowi turut angkat bicara soal gagalnya kesepakatan gencatan senjata antara Rusia-Ukraina.

oleh Devira PrastiwiDiperbarui 10 Maret 2022, 17:13 WIB
Presiden Joko Widodo (Jokowi) memberikan keterangan pers terkait Perkembangan COVID-19 di Istana Kepresidenan Bogor, Jawa Barat, Jumat (28/1/2022) sore. (Dok Sekretariat Kabinet RI)

Liputan6.com, Jakarta - Presiden Joko Widodo atau Jokowi turut angkat bicara soal gagalnya kesepakatan gencatan senjata antara Rusia-Ukraina. Dia menilai, hal tersebut justru mendorong bertambah korban jiwa.

Selain itu, menurut Jokowi, gagalnya kesepakatan gencatan senjata antara Rusia-Ukraina juga berdampak terhadap krisis kemanusian di Ukraina.

"Gagalnya kesepakatan gencatan senjata di Ukraina bukan hanya mendorong eskalasi konflik bersenjata tetapi semakin bertambahnya korban jiwa dan krisis kemanusian di Ukraina," kata Jokowi melalui akun twitternya @jokowi, Selasa 8 Maret 2022.

Seperti diketahui, Rusia telah mengusulkan gencatan senjata baru dan menunjukkan bahwa mereka siap untuk membuka koridor evakuasi dari Kiev, Chernihiv, Sumy, Kharkiv dan Mariupol.

Namun, Ukraina belum secara resmi menyetujui proposal gencatan senjata, demikian dikutip dari laman CNN, Selasa 8 Maret 2022.

Oleh karenanya, Mantan Gubernur DKI Jakarta itu pun mengajak semua pihak untuk bersama-sama mencegah agar krisis ini tak terus berlanjut.

Berikut 3 tanggapan Presiden Jokowi soal gagalnya kesepakatan gencatan senjata antara Rusia-Ukraina dihimpun Liputan6.com:

 

1. Dinilai Bisa Dorong Bertambahnya Korban Jiwa dan Krisis Kemanusiaan

Presiden Joko Widodo (Jokowi) memberikan sambutan secara virtual pada Peringatan Dharma Santi Nasional Hari Suci Nyepi Tahun Baru Saka 1943, Sabtu (27/3/2021). (Biro Pers Sekretariat Presiden)

Presiden Joko Widodo atau Jokowi mengatakan gagalnya kesepakatan gencatan senjata antara Rusia-Ukraina mendorong bertambah korban jiwa.

Tak hanya itu, hal ini juga berdampak terhadap krisis kemanusian di Ukraina.

"Gagalnya kesepakatan gencatan senjata di Ukraina bukan hanya mendorong eskalasi konflik bersenjata tetapi semakin bertambahnya korban jiwa dan krisis kemanusian di Ukraina," kata Jokowi melalui akun twitternya @jokowi, Selasa 8 Maret 2022.

 

2. Ingatkan Perang Hanya Tentang Ego

Presiden Jokowi meresmikan Jalan Tol Balikpapan-Samarinda terintegrasi akses ibu kota negara di Kalimantan Timur. (Foto: Liputan6.com/Abelda Gunawan)

Kemudian, Jokowi mengingatkan bahwa perang adalah persoalan ego dan hanya menonjolkan kepentingan. Total ada 1,2 juta manusia yang harus mengungsi ke negara lain akibat perang Rusia-Ukraina.

"Perang adalah persoalan ego, melupakan sisi kemanusiaan, dan hanya menonjolkan kepentingan dan kekuasaan," ujarnya.

"Menurut UNHCR, sudah 1,2 juta orang harus mengungsi ke negara lain karena perang di Ukraina," sambung Jokowi.

 

3. Ajak Semua Pihak Cegah Krisis Berlanjut

Sambutan Presiden Joko Widodo (Jokowi) pada Pembukaan Munas IX Korpri Tahun 2022 pada 28 Januari 2022. (Dok Biro Pers Sekretariat Presiden RI)

Jokowi lantas mengajak semua pihak untuk bersama-sama mencegah agar krisis ini tak terus berlanjut. Pasalnya, apabila terjadi akan timbul krisis pengungsi terbesar sepanjang abad.

"Apabila krisis berlanjut niscaya akan terjadi “krisis pengungsi terbesar sepanjang abad”. Inilah yang harus kita sama-sama cegah agar jangan sampai terjadi," tutup Jokowi.

Kejengkelan Jokowi dan Ancaman Reshuffle Kabinet

Infografis Kejengkelan Jokowi dan Ancaman Reshuffle Kabinet. (Liputan6.com/Abdillah)

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya