Pemerintah dan pengembang gencar mempromosikan rumah murah dengan harga di bawah Rp 100 juta per unit. Strategi ini diharapkan bisa membantu masyarakat yang belum mempunyai tempat tinggal.
Namun, program ini tampaknya belum mendulang sukses besar. Terbukti masih banyak perumahaan murah yang tak kunjung terjual karena lokasinya yang terlampau jauh dari tempat bekerja. Belum lagi, dukungan infrastruktur yang minim.
Head of Reserach Jones Lang LaSalle, Anton Sitorus dalam perbincangan dengan liputan6.com, Rabu, (8/1/2012), mengakui rumah murah dengan lokasi tak strategis untuk saat ini, mungkin tak terlalu berhasil. Namun di jangka panjang, pemilik rumah murah bakal menikmati untung besar dari investasinya tersebut.
"Untuk properti perumahan, kebutuhan masih sangat besar. Walaupun pertumbuhannya lambat namun mereka naik secara konsisten," kata dia.
Anton justru optimistis pertumbuhan rumah murah memiliki prospek cerah di masa mendatang. Melihat data populasi penduduk Jabodetabek yang mencapai 20 juta orang, pengembang bisa mengambil untung besar hanya dengan mengambil porsi 50%-nya.
"Walaupun lokasi memang jauh dan harganya murah, pasar rumah murah masih tetap ada," kata dia.
Disinggung mengenai potensi investasi dari rumah murah, Anton memperkirakan pertumbuhan nilai untuk tempat tinggal kategori ini memang terbilang lambat. Bahkan diperkirakan pembeli rumah murah dengan lokasi tak strategis, harus menunggu 10-15 tahun untuk bisa menikmati hasil investasinya.
"Kalau daerah berkembang, infrastruktur bagus, dalam jangka panjang kenaikan harga rumah murah akan sangat besar," ujarnya. (SHD/IGW)
Namun, program ini tampaknya belum mendulang sukses besar. Terbukti masih banyak perumahaan murah yang tak kunjung terjual karena lokasinya yang terlampau jauh dari tempat bekerja. Belum lagi, dukungan infrastruktur yang minim.
Head of Reserach Jones Lang LaSalle, Anton Sitorus dalam perbincangan dengan liputan6.com, Rabu, (8/1/2012), mengakui rumah murah dengan lokasi tak strategis untuk saat ini, mungkin tak terlalu berhasil. Namun di jangka panjang, pemilik rumah murah bakal menikmati untung besar dari investasinya tersebut.
"Untuk properti perumahan, kebutuhan masih sangat besar. Walaupun pertumbuhannya lambat namun mereka naik secara konsisten," kata dia.
Anton justru optimistis pertumbuhan rumah murah memiliki prospek cerah di masa mendatang. Melihat data populasi penduduk Jabodetabek yang mencapai 20 juta orang, pengembang bisa mengambil untung besar hanya dengan mengambil porsi 50%-nya.
"Walaupun lokasi memang jauh dan harganya murah, pasar rumah murah masih tetap ada," kata dia.
Disinggung mengenai potensi investasi dari rumah murah, Anton memperkirakan pertumbuhan nilai untuk tempat tinggal kategori ini memang terbilang lambat. Bahkan diperkirakan pembeli rumah murah dengan lokasi tak strategis, harus menunggu 10-15 tahun untuk bisa menikmati hasil investasinya.
"Kalau daerah berkembang, infrastruktur bagus, dalam jangka panjang kenaikan harga rumah murah akan sangat besar," ujarnya. (SHD/IGW)