Liputan6.com, Lombok - Di Indonesia, tantangan yang dihadapi pengusaha ultra mikro dan mikro sering kali disederhanakan menjadi persoalan kurangnya modal. Padahal, bagi banyak pelaku usaha di berbagai daerah, hambatan yang mereka hadapi jauh lebih kompleks.
Mulai dari akses pengetahuan, teknologi, legalitas usaha, hingga keterhubungan dengan pasar dan rantai pasok yang dapat mendukung pertumbuhan usaha dalam jangka panjang.
Advertisement
Salah satu pengusaha yang menghadapi kondisi tersebut adalah Ernawati, petani cabai di Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB).
Selama bertahun-tahun, Ernawati menjalankan usahanya dengan skala yang terbatas dan mengandalkan pembiayaan mikro sebesar Rp 5 juta per tahun untuk kebutuhan dasar usaha, seperti pembelian bibit cabai.
"Namun, tantangan usaha yang dihadapi tidak berhenti pada modal. Di tengah kondisi cuaca yang semakin tidak menentu, saya harus menjaga kualitas hasil panen agar tidak cepat rusak sebelum dipasarkan," ujar Ernawati, Rabu (1/7/2026).
Dia melanjutkan, selama ini, proses pengeringan cabai masih bergantung pada metode penjemuran tradisional yang sangat dipengaruhi kondisi cuaca. Ketika hujan turun saat proses pengeringan berlangsung, risiko kerusakan hasil panen meningkat dan berdampak pada pendapatan usaha.
Tantangan Lainnya
Kondisi tersebut menunjukkan, tantangan pengusaha mikro tidak hanya berada pada akses pembiayaan. Banyak pelaku usaha berada dalam rantai nilai yang belum memberikan ruang untuk meningkatkan nilai tambah produk, mengurangi risiko usaha, maupun memperluas akses pasar.
Bagi pengusaha ultra-mikro seperti Ernawati, persoalannya bukan hanya bagaimana membeli bibit setiap musim tanam. Tantangan yang lebih besar adalah menjaga kualitas hasil panen, mengolah produk agar memiliki nilai ekonomi yang lebih tinggi, dan memastikan hasil usaha tetap memiliki pasar di tengah perubahan iklim yang semakin tidak menentu.
Tantangan yang dihadapi Ernawati tidak berdiri sendiri. Banyak pelaku usaha mikro menghadapi persoalan serupa, di mana kemampuan menjalankan usaha seringkali belum diimbangi dengan akses terhadap sistem pendukung yang dapat membantu usaha berkembang.
"Pertumbuhan usaha tidak akan terjadi dalam sistem yang terfragmentasi. Karena itu, yang perlu diperkuat bukan hanya pengusahanya, tetapi juga keterhubungan antara pembiayaan, pasar, teknologi, aggregator, koperasi, dan rantai pasok yang mendukung mereka," kata Founder & Chairperson KUMPUL Impact Faye Wongso.
Dia mengatakan, berdasarkan pemahaman tersebut, KUMPUL Impact mengembangkan pendekatan yang tidak hanya berfokus pada pengusaha secara individu, tetapi juga pada sistem yang mempengaruhi pertumbuhan usaha mereka.
"KUMPUL Impact bekerja bersama mitra lokal, sektor swasta, pemerintah, dan komunitas untuk memperkuat keterhubungan antara pembiayaan, peningkatan kapasitas, teknologi, rantai pasok, dan akses pasar," ucap Faye.
Membangun Rantai Pasok yang Lebih Inklusif
Faye menjelaskan, pendekatan tersebut diterapkan melalui berbagai program yang dijalankan KUMPUL Impact. Salah satunya melalui program EmPower II yang dilaksanakan bersama UN Women dan PT Permodalan Nasional Madani (PNM).
Melalui program ini, kata dia, perempuan wirausaha ultra mikro dan petani kecil tidak hanya memperoleh akses pembiayaan, tetapi juga dukungan yang relevan dengan kebutuhan usaha mereka.
Di Lombok misalnya, Ernawati memperoleh akses terhadap pengering tenaga surya, pengetahuan pascapanen, dan peluang mengembangkan produk olahan cabai yang memiliki nilai tambah lebih tinggi.
"Ini pertama kalinya saya mengikuti pelatihan rutin. Saya belajar banyak dari para pelatih dan mendapat kesempatan untuk lebih terhubung dengan perempuan lain di komunitas. Saya bisa mulai berpikir apalagi yang bisa saya lakukan dengan cabai yang saya miliki," ucap Ernawati.
Hingga saat ini, KUMPUL Impact dan UN Women, berkolaborasi dengan PT PNM melalui program EmPower II telah membantu lebih dari 6.000 perempuan wirausaha ultra mikro dan petani kecil memperoleh akses terhadap pembiayaan hijau dan pelatihan peningkatan kapasitas untuk memperkuat penghidupan perempuan di tengah perubahan iklim.
Di Lombok, penggunaan pengering tenaga surya mengurangi ketergantungan petani terhadap cuaca dan membantu petani mengolah cabai segar menjadi produk bernilai tambah yang memiliki daya simpan lebih panjang dan peluang pasar yang lebih luas.
Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa penguatan UMKM tidak dapat dipisahkan dari penguatan rantai pasok. Ketika pelaku usaha memperoleh akses terhadap teknologi, pengolahan produk, pembiayaan, dan pasar secara bersamaan, peluang untuk menciptakan nilai tambah dan meningkatkan ketahanan usaha menjadi lebih besar.
Menutup Kesenjangan Digital untuk Daya Saing UMKM
Di sisi lain, transformasi digital menghadirkan tantangan baru bagi pelaku UMKM. Tantangan pengembangan usaha tidak hanya terjadi pada sektor produksi dan rantai pasok.
Faye kembali menjelaskan, di saat yang sama, transformasi digital juga mulai memengaruhi cara pelaku usaha mengakses pasar, mengelola operasional, dan mengambil keputusan bisnis. Kondisi ini menciptakan kebutuhan baru terhadap keterampilan dan teknologi yang semakin relevan bagi pertumbuhan usaha.
"Berdasarkan data yang dirangkum dalam KUMPUL Impact Report, kurang dari 1 persen pekerja Indonesia memiliki kemampuan digital tingkat lanjut, sementara sekitar 50 persen tenaga kerja baru memiliki kemampuan digital dasar hingga menengah," ucap dia.
Kesenjangan ini, kata Faye, menjadi tantangan penting bagi daya saing UMKM di masa depan. Ketika teknologi berkembang semakin cepat, pelaku usaha yang tidak memiliki akses terhadap keterampilan dan pemanfaatan teknologi berisiko semakin tertinggal dalam mengakses pasar, meningkatkan produktivitas, maupun berpartisipasi dalam ekonomi digital.
"Karena itu, KUMPUL Impact memandang pengembangan kapasitas digital dan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) sebagai bagian dari upaya membangun kesiapan ekonomi jangka panjang," ucap dia.
"Fokusnya bukan semata mengajarkan penggunaan teknologi, melainkan memahami bagaimana pelaku usaha dapat memanfaatkan teknologi untuk menyelesaikan tantangan usaha sehari hari dan tetap relevan dalam perubahan ekonomi yang berlangsung," sambung Faye.
Pahami Hambatan yang Dihadapi
Faye mengatakan, melalui program AI for MSME Advancement in ASEAN (AIM ASEAN) bersama ASEAN Foundation dan AI Ignition Indonesia, KUMPUL Impact bekerja langsung dengan pelaku UMKM untuk memahami hambatan adopsi teknologi, kebutuhan keterampilan yang paling relevan, serta peluang pemanfaatan AI dalam aktivitas usaha sehari hari.
"Temuan lapangan dari ribuan peserta program tersebut turut menjadi masukan dalam berbagai diskusi dan upaya advokasi kebijakan terkait kesiapan AI bagi UMKM yang melibatkan ASEAN Coordinating Committee on Micro, Small and Medium Enterprises (ACCMSME), ASEAN Foundation, pemerintah, serta berbagai pemangku kepentingan lainnya. Pendekatan ini membantu memastikan bahwa pengembangan kebijakan AI bagi UMKM dibangun berdasarkan kebutuhan nyata pelaku usaha," papar dia.
"Bersama dengan KUMPUL Impact, program AIM ASEAN menargetkan jangkauan terhadap lebih dari 32.000 pelaku UMKM di lebih dari 20 kota di Indonesia dengan lebih dari 128.000 jam pelatihan. Sementara melalui AI Ignition Indonesia, lebih dari 9.000 talenta digital telah terlibat dan sekitar 4.500 peserta memperoleh sertifikasi keterampilan digital," sambung Faye.
Menurut dia, dampak tersebut mulai terlihat dalam aktivitas usaha sehari-hari. Salah satunya dialami oleh Bu Neneng, pengusaha keripik tempe yang menjalankan usahanya sejak 2018.
Melalui AI Ignition Indonesia, Neneng mulai memanfaatkan AI untuk membuat materi promosi, mengembangkan identitas merek, dan menyelesaikan kebutuhan desain produk secara mandiri.
Penggunaan teknologi tersebut membantunya mengurangi ketergantungan pada jasa eksternal serta mempercepat proses pengembangan materi pemasaran usaha.
Bangun Fondasi Pertumbuhan Ekonomi yang Berkelanjutan
Menurut Faye, pada 2025, KUMPUL Impact mendampingi 511 UMKM di berbagai wilayah Indonesia, termasuk lebih dari 200 usaha yang dikelola perempuan di Lombok, Sumbawa, dan berbagai wilayah lain di Nusa Tenggara Barat.
Dia menyampaikan, bagi KUMPUL Impact, angka tersebut merupakan bagian dari upaya yang lebih besar untuk membangun model pertumbuhan ekonomi yang relevan dengan kebutuhan lokal dan dapat direplikasi di berbagai daerah.
Menurut Faye, setiap program dirancang bersama mitra ekosistem untuk memperkuat keterhubungan antara pelaku usaha, pasar, teknologi, pembiayaan, dan rantai nilai yang mendukung pertumbuhan usaha.
Pengalaman Ernawati dan Neneng menunjukkan bahwa pertumbuhan usaha tidak ditentukan oleh satu jenis intervensi. Akses pembiayaan membantu usaha bertahan, penguatan rantai pasok menciptakan nilai tambah, sementara pemanfaatan teknologi membuka peluang efisiensi dan akses pasar yang lebih luas.
"Ketiga elemen tersebut saling berkaitan dalam membentuk fondasi pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. Melalui pendekatan tersebut, KUMPUL Impact berupaya memperkuat fondasi ekonomi lokal yang lebih inklusif, tangguh terhadap perubahan iklim, dan siap menghadapi transformasi teknologi yang terus berkembang," pungkas Faye.