Potret Miris Bocah Pemulung Berusia 10 Tahun

Ali adalah satu dari sekian banyak anak di dunia yang terpaksa ikut membantu orangtuanya mencari uang dengan cara memulung.

oleh Sulung Lahitani diperbarui 19 Feb 2021, 23:43 WIB
Doc: AP Photo/Anupam Nath

Liputan6.com, Jakarta Tak seperti kebanyakan anak-anak seusianya, Imradul Ali yang berusia 10 tahun bergegas pulang setelah sekolah. Usai mengganti seragamnya, ia pun memulai pekerjaannya sebagai pemulung.

Membawa karung besar, ia melangkah menuju ke tempat pembuangan sampah di daerah kumuh Gauhati, ibu kota negara bagian Assam, India. Di tempat itulah ia mengais-ngais tumpukan sampah, mencari botol plastik, gelas, atau apa pun yang dapat didaur ulang atau dijual.

 

Doc: AP Photo/Anupam Nath

Ali berasal dari keluarga pemulung. Ayah, ibu, bahkan kakak laki-lakinya mendapatkan penghasilan dari memulung. Bocah ini mulai ikut memulung lebih dari setahun lalu untuk membantu keluarganya.

 

Doc: AP Photo/Anupam Nath

Keluarga Ali adalah satu dari sekian banyak keluarga yang terpukul akibat pandemi Covid-19. Mereka berjuang untuk tetap hidup selama lockdown dilakukan di India dengan bantuan makanan dari organisasi amal.

Bocah ini menghasilkan hingga 100 rupee atau sekitar Rp 19 ribu per hari. Sementara anggota keluarganya yang lain masing-masing menghasilkan sekitar 250 rupee atau kira-kira Rp 48 ribu.

 

Doc: AP Photo/Anupam Nath

Ali mengaku tak ingin menghabiskan hidupnya untuk memulung, tapi dia tak tahu bagaimana masa depannya.

"Saya ingin melanjutkan sekolah dan menjadi orang kaya," katanya.

Ayah Ali ingin putranya terus bersekolah. Ia berharap kelak Ali akan memiliki toko sendiri atau mendapatkan pekerjaan di pemerintah saat besar nanti, sehingga dapat mengakhiri penderitaan keluarga. 

Imradul Ali (10) memakai kemeja saat ibunya Anuwara Beghum (30) menuangkan minyak rambut ke kepalanya saat akan ke sekolah, di kamar sewaan mereka di Gauhati, India (5/2/2021). Ali berasal dari keluarga yang sebagian besar mata pencahariannya bekerja sebagai pemulung. (AP Photo/Anupam Nath)

Thadeus Kujur yang menjalankan kelompok amal Snehalaya, mengatakan selalu sedih melihat anak-anak mengumpulkan sampah untuk bertahan hidup. Kelompoknya menjalankan lima lembaga pengasuhan anak, merawat 185 anak laki-laki dan perempuan, serta telah membantu 20.000 anak selama tujuh tahun.

“Kami melaksanakan program motivasi bagi orang tua miskin untuk menyadari nilai pendidikan sebelum menyekolahkan anak,” ujarnya.

Imradul Ali (10) menggambar di buku salinannya saat ibunya, Anuwara Beghum (30) enyiapkan makanan di kamar kontrakan mereka di dekat tempat pembuangan sampah di pinggiran Gauhati, India (4/2/2021). (AP Photo/Anupam Nath)

Menurut analisis baru World Bank Group dan U.N. Children’s Fund, diperkirakan satu dari enam anak, atau 356 juta di seluruh dunia, hidup dalam kemiskinan ekstrem sebelum pandemi dimulai dan jumlahnya diperkirakan akan memburuk secara signifikan.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya