Petasan Tak Lagi Mericuh Jakarta

Di hari kedua bulan puasa ini, ledakan suara petasan tak terlalu membahana di wilayah Jakarta. Para pedagang lebih memilih menjual kembang api ketimbang petasan karena takut ditangkap polisi.

oleh Liputan6Diterbitkan 07 November 2002, 17:24 WIB
Liputan6.com, Jakarta: Larangan penjualan petasan yang dibarengi razia oleh Kepolisian Daerah Metro Jaya menjelang Ramadan ini tampaknya cukup ampuh. Buktinya, tak seperti tahun-tahun sebelumnya, kini perdagangan benda berbahaya itu tak marak lagi. Kalaupun ada, biasanya dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Demikian pemantauan SCTV di beberapa wilayah Ibu Kota, Rabu (6/11).

Sebagai ganti petasan, para penjual lebih memilih menjajakan kembang api. Sebab, menurut seorang pedagang bernama Bismar, hiburan itu tak bakal disita polisi dan untungnya pun lumayan. "Sehari bisa sampai Rp 200 ribu," kata dia. Padahal, lanjut Bismar, laba penjualan kembang api pada tahun sebelumnya paling-paling cuma mencapai Rp 70 ribu. Barang dagangan yang dijual pedagang musiman ini kebanyakan berlabel Cina dan Jerman. Semuanya didapat dari Pasar Pagi Mangga Dua, Jakarta Barat.

Dua pekan sebelum bulan puasa, Polda Metro Jaya memang telah wanti-wanti agar masyarakat tak main petasan dan sejenisnya [baca: Selama Bulan Puasa, Jakarta Bebas Petasan]. Jika dilanggar, polisi mengancam akan menangkap dan menghukum para pembakar, bahkan penjual dan pembuat mercon.(MTA/Jeremy Teti dan Dwi Nindyas)

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya