Liputan6.com, Lombok Timur: Kemiripan Muhammad Fawazi dengan sketsa wajah pengebom Bali kembali dibantah. Sanggahan kali ini disampaikan beberapa teman Fawazi di Tsanawiyah dan Aliyah Pondok Pesantren Marakit Taqlimat, Desa Mamben Lauk, Kecamatan Wanasaba, Lombok Timur, Nusatenggara Barat. Pasalnya, ciri wajah sketsa dan foto yang diedarkan sama sekali tak mirip dengan Fawazi. Demikian diungkapkan mereka kepada SCTV, baru-baru ini [baca: Fawazi, Calon Tersangka Baru Pengebom Bali].
Haizi, misalnya, dia meyakini bahwa sketsa itu tak mirip dengan temannya yang sempat menuntut ilmu di Ponpes Marakit Taqlimat selama enam tahun. "Itu bukan wajah Fawazi. Kalau Fawazi jelas mempunyai alis yang tebal, sedangkan di sketsa tidak," ungkap Haizi. Sedangkan sejumlah teman dan keluarga Fawazi di Desa Mamben Lauk, mengaku terakhir kali bertemunya pada akhir September 2002. Mereka berharap jika polisi mengaku pernah menahan dan melepaskan Fawazi di Bali, beberapa waktu silam, mestinya dapat menjelaskan keberadaannya saat ini [baca: Ibunda Fawazi Shock].
Tim Investigasi Kasus Peledakan Bom Bali masih bekerja keras memburu sejumlah tersangka [baca: Tim Khusus Pemburu Tersangka Bom Bali Disebar]. Reporter SCTV Alam Burhanan melaporkan dari Bali, Wakil Ketua Tim Investigasi Brigadir Jenderal Polisi Edward Aritonang memastikan bahwa Eko S. atau berinisial ES yang sempat diinterogasi tak terkait dengan peledakan di kawasan Legian, Kuta, 12 Oktober 2002. Menurut Aritonang, wajah Eko hanya mirip dengan satu di antara sketsa pengebom Bali yang disebar polisi. Saat diperiksa, Eko mengaku berasal dari Ambon, Maluku, dan saat kejadian hendak pulang ke kampungnya.
Menyoal keberadaan Fawazi, Aritonang mengungkapkan, polisi tak pernah memeriksanya dengan sangkaan terkait kasus peledakan. Hanya, Aritonang menjelaskan, identitas Fawazi sempat tercecer di tempat kejadian perkara [baca: Kapolri: Ada Barang Bukti KTP Berinisial MF]. Apalagi, keluarga Fawazi mengatakan bahwa dia hanya mencari pekerjaan ke Bali.
Lebih jauh Kepala Bagian Hubungan Masyarakat Markas Besar Polri ini mengungkapkan, sejumlah perwira polisi telah berangkat ke Australia. Keberangkatan mereka untuk mengorek keterangan dari beberapa saksi yang telah kembali ke Negeri Kangguru. Juga sekaligus mencocokkan hasil penyelidikan yang dibuat Polisi Federal Australia, termasuk sketsa wajah pengebom. Ketika ditanyakan mengenai dua tiket pesawat ke Australia yang dipesan pada malam kejadian, Aritonang mengaku tak mengetahui hal itu.(ANS/Adhar Hakim)
Haizi, misalnya, dia meyakini bahwa sketsa itu tak mirip dengan temannya yang sempat menuntut ilmu di Ponpes Marakit Taqlimat selama enam tahun. "Itu bukan wajah Fawazi. Kalau Fawazi jelas mempunyai alis yang tebal, sedangkan di sketsa tidak," ungkap Haizi. Sedangkan sejumlah teman dan keluarga Fawazi di Desa Mamben Lauk, mengaku terakhir kali bertemunya pada akhir September 2002. Mereka berharap jika polisi mengaku pernah menahan dan melepaskan Fawazi di Bali, beberapa waktu silam, mestinya dapat menjelaskan keberadaannya saat ini [baca: Ibunda Fawazi Shock].
Tim Investigasi Kasus Peledakan Bom Bali masih bekerja keras memburu sejumlah tersangka [baca: Tim Khusus Pemburu Tersangka Bom Bali Disebar]. Reporter SCTV Alam Burhanan melaporkan dari Bali, Wakil Ketua Tim Investigasi Brigadir Jenderal Polisi Edward Aritonang memastikan bahwa Eko S. atau berinisial ES yang sempat diinterogasi tak terkait dengan peledakan di kawasan Legian, Kuta, 12 Oktober 2002. Menurut Aritonang, wajah Eko hanya mirip dengan satu di antara sketsa pengebom Bali yang disebar polisi. Saat diperiksa, Eko mengaku berasal dari Ambon, Maluku, dan saat kejadian hendak pulang ke kampungnya.
Menyoal keberadaan Fawazi, Aritonang mengungkapkan, polisi tak pernah memeriksanya dengan sangkaan terkait kasus peledakan. Hanya, Aritonang menjelaskan, identitas Fawazi sempat tercecer di tempat kejadian perkara [baca: Kapolri: Ada Barang Bukti KTP Berinisial MF]. Apalagi, keluarga Fawazi mengatakan bahwa dia hanya mencari pekerjaan ke Bali.
Lebih jauh Kepala Bagian Hubungan Masyarakat Markas Besar Polri ini mengungkapkan, sejumlah perwira polisi telah berangkat ke Australia. Keberangkatan mereka untuk mengorek keterangan dari beberapa saksi yang telah kembali ke Negeri Kangguru. Juga sekaligus mencocokkan hasil penyelidikan yang dibuat Polisi Federal Australia, termasuk sketsa wajah pengebom. Ketika ditanyakan mengenai dua tiket pesawat ke Australia yang dipesan pada malam kejadian, Aritonang mengaku tak mengetahui hal itu.(ANS/Adhar Hakim)