Cak Nur: Wajar, Demo Pro-Kontra Gus Dur

Demonstrasi pro dan anti-Gus Dur dinilai Cak Nur sebagai kewajaran dalam negara demokrasi. Kendati demikian, PKB memberlakukan Siaga Satu di seluruh basis partai tersebut.

oleh Liputan6Diterbitkan 25 November 2000, 20:07 WIB
Liputan6.com, Jakarta: Akhir-akhir ini aksi unjuk rasa yang pro maupun yang anti-Presiden Abdurrahman Wahid semakin marak saja. Cendikiawan muslim Nurcholis Madjid menilai aksi yang berbeda pemihakan tersebut adalah hal yang wajar dalam alam demokrasi. Kendati demikian, aksi tersebut diharapkan terhindar dari bentrokan fisik. "Paling tidak, keduanya harus menahan emosi dan tidak terprovokasi," kata Cak Nur di Jakarta, Sabtu (25/11).

Sementara itu Sekretaris Jenderal Partai Kebangkitan Bangsa Muhaimin Iskandar pagi tadi mengatakan bahwa PKB telah memberlakukan Siaga Satu di seluruh pusat konsentrasi partai tersebut. Meskipun demikian, lanjut dia, partainya tidak akan menggelar aksi demontrasi tandingan.

Sepekan terakhir ini demontrasi menuntut Presiden Abdurrahman Wahid mundur dari jabatannya memang tak kunjung reda. Pada Jumat (24/11), para pengunjuk rasa kembali mendesak MPR untuk menggelar Sidang Istimewa yang meminta pertanggungjawaban Gus Dur. Tak lama sekitar 10.000 massa dan pendukung Gus Dur, juga muncul sehingga sempat terjadi ketegangan antara kedua kubu tersebut. Polisi pun sempat mengamankan berbagai senjata tajam dan senjata tumpul lainnya [Baca: Demonstran Pro dan Anti-Gus Dur Nyaris Bersitegang, 24/11/2000].

Seakan ingin menggenapkan aksi demo, siang tadi pun sekitar 250 pengunjuk rasa menggelar demonstrasi di Bundaran Hotel Indonesia. Mereka mengaku berasal dari Provinsi Banten. Dalam orasinya mereka menilai Gus Dur telah gagal mengelola negara. Tak heran bila mereka menuntut janji-janji reformasi Sang Presiden mulai dari penegakan hukum, perbaikan ekonomi, hingga pembentukan pemerintahan yang bersih dari aksi korupsi, kolusi, dan nepotisme. Termasuk, mereka juga mengkritik mantan pimpinan Nahdlatul Ulama ini lantaran sering jalan-jalan ke luar negeri.(YYT/Tim Liputan 6 SCTV)

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya