Liputan6.com, Jakarta Sebulan pertama merintis usaha kuliner, semua berjalan mulus. Pendapatan bersih perlahan terlihat jelas. Masalahnya, memasuki bulan kedua dan ketiga mulai terlihat fluktuasi pendapatan. Bulan keempat, entah mengapa surut. Entahlah mungkin orang mulai bosan karena jenis makanan belum bervariasi.
Apa boleh buat, bisa menangangi pesanan dalam waktu cepat setiap hari saja sudah bagus. Belum kepikiran untuk bikin menu baru. Akibatnya, jumlah pesanan terus menurun. Aku tak mau mati konyol. Lantas kuputar otak untuk meminjam modal usaha. Tapi kepada siapa? Terlintas di benakku nama Pak Astono.
Advertisement
Mumpung Yami belum pulang, aku menghubungi Pak Astono sekadar menanyakan kabar dan perkembangan penggarapan album baru Gea. Pak Astono langsung mengangkat teleponku. Dia bilang tak bisa berbincang lama. Namun lusa, ia senggang karena kadung ambil cuti demi acara keluarga tapi acara tersebut batal.
Aku Sudah Mati Rasa
Pak Astono memintaku menemuinya di sebuah kedai kopi di kawasan Setiabudi, Jakarta Selatan. Dia bilang, ada yang mau disampaikan kepadaku. Perasaanku tak enak tapi aku sudah bisa membayangkan apa topiknya. Terlalu banyak hal tak enak yang belakangan terjadi di hidupku. Aku mulai mati rasa.
Karenanya, kabar tak enak terasa enak-enak saja. Lusa yang dinanti tiba. Aku menanti di pojok kedai, dengan secangkir cokelat hangat di meja. Belum sampai 15 menit duduk, Pak Astono dengan kemeja lengan panjang hitam polos dan celana jin biru menghampiri lalu menjabat tanganku.
“Telat 12 menit, mohon maaf Mbak Isha,” katanya sambil tersenyum. “Mencari tempat parkir di jam makan siang makin susah, ya?” sambungnya sambil menanti kopi pahit pesanannya. “Enggak apa-apa, Pak. Pak Astono sehat-sehat, kan?” tanyaku.
Aku Yang Disingkirkan
“Sehat, sampai akhirnya saya tahu Gea punya manajer baru yang perilakunya sama songongnya dengan anak Anda belakangan ini. Sorry kalau saya langsung terus terang,” jawabnya. Manajer baru? Tak kaget. Kalau ibunya sendiri disingkirkan, otomatis dia sudah menyiapkan pengganti yang sesuai dengan keinginan.
“Sudah berapa lama Pak Astono berkomunikasi dengan manajernya yang ganteng itu,” tanyaku sambil membantu pramusaji meletakkan makanan yang kami pesan. Salad, sup, dan kentang goreng seporsi.