Meski Turun, Cadangan Devisa Indonesia Cukup untuk Stabilkan Rupiah

BI memastikan bahwa dengan sisa cadangan devisa cukup untuk memenuhi kebutuhan impor hingga stabilisasi nilai tukar rupiah.

oleh Pipit Ika RamadhaniDiterbitkan 07 April 2020, 17:30 WIB
Aktivitas penukaran uang dolar AS di gerai penukaran mata uang asing PT Ayu Masagung, Jakarta, Kamis (19/3/2020). Nilai tukar Rupiah pada Kamis (19/3) sore ini bergerak melemah menjadi 15.912 per dolar Amerika Serikat, menyentuh level terlemah sejak krisis 1998. (merdeka.com/Imam Buhori)

Liputan6.com, Jakarta - Bank Indonesia (BI) akui cadangan devisa menurun pada akhir Maret menjadi USD 121 miliar, dari USD 130,4 miliar pada akhir Februari 2020.

Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo dalam pemaparannya, Selasa (7/4/2020), mengakui hal tersebut sekaligus membeberkan rinciannya.

"Sekitar USD 2 miliar itu memang di bulan lalu ada utang pemerintah yang jatuh tempo sehingga kami bayar, dan sekitar USD 7 miliar itu kami gunakan untuk melakukan stabilisasi nilai tukar rupiah, khususnya pada minggu kedua dan ketiga, dimana pada waktu itu terjadi kepanikan global, yang kemudian mendorong para investor global melepas sahamnya, melepas obligasinya," ujarya.

Kemudian, lanjut Perry, di situlah peran dari bank sentral, dalam hal ini Bank Indonesia, berkomitmen berada di pasar, menstabilkan nilai tukar rupiah, karena stabilitas nilai tukar salah satu pilar penting dari stabilitas ekonomi.

Kendati demikian, BI memastikan bahwa dengan sisa cadangan devisa tersebut sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan impor hingga stabilisasi nilai tukar rupiah.

"Kami pastikan bahwa tingkat kecukupan cadangan devisa kita USD 121 miliar ini lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan impor dan pembayaran utang luar negeri, kurang lebih sekitar 7 bulan impor dan juga lebih dari cukup untuk melakukan stabilisasi nilai tukar rupiah," jelas Perry.

 

**Ayo berdonasi untuk perlengkapan medis tenaga kesehatan melawan Virus Corona COVID-19 dengan klik tautan ini.

Corona Bikin Cadangan Devisa Indonesia Turun Jadi USD 121 Miliar di Maret 2020

Teller tengah menghitung mata uang dolar AS di penukaran uang di Jakarta, Rabu (10/7/2019). Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup stagnan di perdagangan pasar spot hari ini di angka Rp 14.125. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Bank Indonesia (BI) mencatat penurunan cadangan devisa akibat wabah virus Corona. Posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Maret 2020 sebesar USD 121 miliar.

"Lebih rendah dibandingkan dengan posisi akhir Februari 2020 sebesar USD 130,4 miliar," kata Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia, Onny Wijanarko dalam keterangan pers, Selasa (7/4/2020).

Penurunan cadangan devisa di Maret 2020 dipengaruhi oleh pembayaran utang luar negeri pemerintah dan keperluan stabilisasi nilai tukar rupiah di tengah kondisi “extraordinary”. Sebab terjadi kepanikan di pasar keuangan global dipicu pandemi Covid-19 secara cepat dan meluas ke seluruh dunia.

Kepanikan pasar keuangan global dimaksud telah mendorong aliran modal keluar Indonesia. Kemudian juga mengakibatkan peningkatan tekanan rupiah khususnya pada minggu kedua dan ketiga bulan Maret 2020.

Meski begitu, posisi cadangan devisa tersebut setara dengan pembiayaan 7,2 bulan impor atau 7,0 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah. Jumlahnya berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor.

"Bank Indonesia menilai bahwa cadangan devisa saat ini lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah serta kebutuhan untuk stabilisasi nilai tukar rupiah," kata Onny.

Stabilisasi

Petugas menata tumpukan uang kertas di Cash Center Bank BNI di Jakarta, Kamis (6/7). Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) pada sesi I perdagangan hari ini masih tumbang di kisaran level Rp13.380/USD. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Lewat langkah stabilisasi dan penguatan bauran kebijakan Bank Indonesia, berkoordinasi erat dengan Pemerintah dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), kondisi pasar berangsur-angsur pulih dan mekanisme pasar kembali berjalan sejak minggu terakhir Maret 2020.

Bank Indonesia, kata Onny, memandang tingkat nilai tukar Rupiah dewasa ini relatif memadai dan secara fundamental undervalued.

Bank Indonesia memperkirakan akan bergerak stabil dan cenderung menguat ke arah Rp 15.000 per dolar AS di akhir tahun 2020. Selain itu, Bank Indonesia akan terus menjaga kecukupan cadangan devisa guna mendukung ketahanan eksternal dan stabilitas makro ekonomi dan sistem keuangan.

Reporter: Anisyah Al Faqir

Sumber: Merdeka.com  

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya