Liputan6.com, Jakarta Meraih 2 piala Golden Globe untuk Penyutradaraan dan Film Terbaik Drama, 1917 lantas diganjar 9 nominasi BAFTA dan 10 nominasi Oscar. Belum lagi, Minggu (19/1/2020) kemarin, 1917 memenangkan Producers Guild of America Awards 2020 atau PGA Awards 2020 kategori Film Terbaik.
Dalam cacatan Showbiz Liputan6.com, selama 30 tahun terakhir, ada 22 film terbaik PGA Awards menjadi film terbaik Oscars. Artinya, kans 1917 menjadi Film Terbaik Oscars tahun ini menguat.
Advertisement
Dalam “terawang gaib” kami, 1917 akan jadi film terbaik Oscars berbekal setidaknya 3 piala dari kategori teknis seperti Penyutradaraan, Sinematografi, dan Tata Suara. Pertanyaan yang kemudian muncul, sebagus apa 1917?
Meledaknya Perang Dunia I
Film 1917 memotret perang dunia pertama yang meledak di belahan utara Prancis. Jerman berhasil memukul mundur Inggris dan sekutunya. Pada 6 April 1917, tentara Jerman mundur. Aksi ini membuat Inggris percaya diri melancarkan serangan balasan. Namun Jenderal Erinmore (Colin) punya analisis lain.
Erinmore mengutus dua prajurit, yakni Will Schofield (George) dan Tom Blake (Dean) membawa sepucuk surat untuk Kolonel Mackenzie (Benedict) yang berada di garda depan. Isinya perintah pembatalan serangan. Erinmore yakin, menyerang Jerman berpotensi mengorbankan 1.600 prajurit termasuk kakak Tom, Joseph Blake (Richard).
Masalahnya, perjalanan dari markas Erinmore ke pos Mackenzie yang memimpin Batalyon Kedua Resimen Devon bukan perkara mudah. Mereka melintasi dataran berisi bangkai manusia maupun ratusan kuda tempur dan melewati markas tantara Jerman yang tak berpenghuni. Di tengah jalan, keduanya melihat pesawat Inggris dan Jerman saling kejar. Pesawat Jerman jatuh. Tragedi tak terduga pun terjadi.
Sinematografi Level Dewa
Bagi kami, 1917 adalah pencapaian teknis yang belum tentu muncul 10 tahun sekali. Sumbu ledak 1917 bertumpu pada sinematografi yang bikin syok, seolah selama hampir 2 jam, film ini dibuat dengan teknik one take oke alias satu shot. Kamera Roger Deakins membingkai Tom dan William sejak terlelap di perkebunan.
Lalu kamera itu tak berhenti bergerak membuntuti Tom-William yang berjalan dari perkebunan, markas Jenderal, parit, daratan berisi bangkai manusia serta binatang, dan lain-lain. Kita tahu, Roger mengambil gambar dengan teknik cut to cut. Namun kita tak tahu kapan cut to cut berlangsung, saking mulusnya pergerakan kamera Roger sejak awal.