TIM Harus Berubah karena Tuntutan Zaman

TIM membutuhkan banyak pembaharuan dari segi sarana dan prasarana. Sebab tidak hanya memikul hasil karya seni temporer, tetapi juga harus memikul beban masalah kesenian yang baru.

oleh Liputan Enam diperbarui 21 Des 2019, 21:00 WIB
Acara Revitalisasi TIM: Membayangkan Pusat Kesenian Ideal Masa Depan/AM Awwal

Liputan6.com, Jakarta Indonesiana dan Teras Budaya menggelar diskusi budaya bertema Revitalisasi TIM: Membayangkan Pusat Kesenian Ideal Masa Depan. Acara yang terbuka untuk umum ini digelar di Palmerah, Jakarta, Jumat, 20 Januari, pukul 19.00 WIB.

Diskusi ini mempertemukan Kepala UPT PKJ Taman Ismail Marzuki (TIM), Imam Hadi Purnomo, serta sastrawan yang juga penyair asal Kupang, Mario F Lawi, dengan Plt Sekjen dan Ketua Komite Film Dewan Kesenian Jakarta, Hikmat Darmawan.

TIM membutuhkan banyak pembaharuan dari segi sarana dan prasarana. Sebab, tidak hanya memikul hasil karya seni temporer, TIM juga harus memikul beban masalah kesenian yang baru.

Kemudian, digagaslah revitalisasi TIM. Rancang bangunnya dimenangi oleh arsitek Andra Matin pada 2007. Namun dalam perjalanannya, muncul beberapa polemik, terutama dari seniman dan pegiat seni lainnya.

Kepala UPT PKJ Taman Ismail Marzuki (TIM), Imam Hadi Purnomo, mengatakan bahwa revitalisasi TIM ini guna memperbaiki sarana dan prasarana yang tidak layak.

"Bagaimana caranya mengemas ekosistem yang baik di TIM? Di sana ada banyak sekali aktivitas, seperti Institut Kesenian Jakarta, teater, dan galeri. Tidak hanya kegiatan kesenian, tetapi di sana juga ada kegiatan sains, seperti planetarium dan itu akan menjadi cagar budaya nantinya," terang Imam di Palmerah, Jakarta (20/12).

Sastrawan dan penyair, Mario F Lawi, menanggapi bahwa pusat kesenian adalah bukan hanya pada segi tempat, tetapi juga pada segi suasana atau ekosistem.

Mario menyayangkan dan ikut hanya mengomentari masalaah bagaimana caranya agar di daerah-daerah juga mendapatkan tempat, seperti TIM.

Mario mengatakan bahwa di daerah kami, tidak ada tempat seperti TIM. "Sayangnya, di daerah kami tidak cukup (tempat) memadai bagi kesenian itu sendiri," ujarnya.

Plt Sekjen dan Ketua Komite Film Dewan Kesenian Jakarta, Hikmat Darmawan, menanggapi bahwa adanya revitalisasi TIM ini perlu dilakukan sebab mutu (seni) sekarang berubah, dan hiburan juga berubah sekarang. "Jadi TIM perlu direvitalisasi, itu tuntutan zaman saja," katanya kepada Liputan6.com.

 

Akhmad Mundzirul Awwal/PNJ.

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya