Mantan Napiter Sesalkan Bom Bunuh Diri di Medan

BT kini mengaku sudah bertaubat dan menyadari kesalahannya.

oleh Liputan6.com diperbarui 16 Nov 2019, 19:32 WIB
Polisi memeriksa jenazah seorang yang diduga sebagai pelaku bom bunuh diri di Mapolrestabes Medan, Sumatera Utara, Rabu (13/11/2019). Satu orang terduga pelaku bom bunuh diri tewas di lokasi kejadian. (ATAR/AFP)

Liputan6.com, Jakarta - Bom bunuh diri di Polrestabes Medan, Rabu 13 November menyisakan keprihatinan bagi banyak pihak, termasuk seorang mantan napi teroris (napiter) berinisial BT yang kini tinggal di Depok, Jawa Barat. 

Meski pernah menjadi salah satu pelaku aksi teroris dikawasan Beji, Depok beberapa tahun silam, BT kini mengaku  sudah bertaubat dan menyadari kesalahannya.

BT mengatakan kesadaran itu muncul setelah dia berada didalam penjara menjalani masa tahanan. Dia mengaku awal mula dirinya masuk kedalam jaringan teroris  karena merasa simpatik dengan nasib Islam terzalimi seperti di Palestina. 

Namun ketika berada didalam jeruji besi, ia justru menyadari bahwa keputusan dirinya untuk bergabung kedalam jaringan teroris merupakan kesalahan terbesar dalam hidupnya. 

Kehidupan yang damai dan tenang di bumi Indonesia tidak seharusnya dinodai dengan aksi teroris yang memakan korban jiwa dari orang-orang yang tak berdosa. 

Apalagi ternyata di Indonesia tidak ada pelarangan bagi umat Islam untuk beribadah juga tidak ada kejadian-kejadian tragis seperti halnya yang dialami umat Islam di Palestina. 

"Tuhan saja tidak pernah mencabut nyawa hambanya jika memang belum waktunya. Apa kita harus mendahului ketetapan Allah dengan menjadikannya sebagai korban aksi teroris?", ujar BT, Kamis, (14/11/2019)

Selama menjalani masa tahanan di Nusa Kambangan, BT juga hidup berdampingan bersama kelompok-kelompok teroris yang pernah beraksi di Indonesia seperti ISIS, JI, dan JAT yang berhasik ditangkap aparat.

Namun menurutnya meski mereka sama-sama merupakan kelompok teroris, didalam kesehariannya ternyata antara kelompok jaringan teroris satu dengan lainnya saling membentuk kelompok sendiri-sendiri dan tidak ada kepedulian terhadap sesama rekan teroris.

Dari situ pula BT kemudian tersadar, jika jihad (berjuang) harusnya untuk kebaikan diri sendiri pula dengan memperbaiki ahlak dan ibadah terhadap Allah, seperti salat lima waktu serta melakukan kewajiban berbakti kepada orangtua dan keluarga. 

Begitu bebas dari penjara dan kembali menghirup udara segar diluar, BT kini menjalani kehidupan normal bersama istri dan seorang anak. 

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya