Rambo Last Blood: Aki-Aki Ngamuk Gara-Gara Keponakannya Dijual Muncikari

Rambo Last Blood mampu mempertahankan ciri khas sebagai ikon hiburan Amerika Serikat

oleh Liputan6.comDiterbitkan 30 September 2019, 09:00 WIB
Rambo Last Blood mampu mempertahankan ciri khas sebagai ikon hiburan Amerika Serikat (Lionsgate)

Liputan6.com, Jakarta Agak repot menempatkan Rambo Last Blood sebagai film bagus karena memang enggak bagus-bagus amat. Dibilang jelek juga tak bisa mengingat alur ceritanya fokus ke satu titik konflik, intens dengan catatan, akar konflik tak menancap dalam. Kentara sekali Rambo Last Blood dikemas dalam bujet terbatas.

Meski demikian Rambo Last Blood mampu mempertahankan ciri khas sebagai ikon hiburan Amerika Serikat. Konon ia juga jadi pernyataan sikap politik luar negeri AS meski terasa samar. Soal aksi, jelas bisa memuaskan fans lawas.

 

Mari kita cek bagaimana Rambo menjadi duta AS di negeri orang. Jilid keempat Rambo yang dilempar ke pasar pada 2008 menampilkan petualangan John Rambo di Myanmar. Ia menyelamatkan kawanan misionaris atau pemberita injil. Dua dekade sebelumnya, Rambo III menyapa publik dengan kisah John Rambo di Afganishtan.

Tiga tahun sebelum aksi Rambo di Afganistan, ada Rambo First Blood dengan latar Vietnam Utara. Di usia tak lagi muda dan rambut tak lagi gondrong, John Rambo di jilid Last Blood menjajal formula baru.


Gabriella Mencari Ayah

Rambo: Last Blood (Youtube/Lionsgate Movies)

John Rambo (Sylvester Stallone) di jilis Last Blood tinggal di terowongan bawah tanah tak jauh dari rumah kawan lamanya, Maria Beltran (Adriana Barraza). Maria merawat cucunya, Gabriela (Yvette Monreal) yang bersiap kuliah. Gabriela hidup sebatang kara. Ibunya mangkat akibat kanker sementara ayahnya pergi ke Meksiko demi wanita lain.

Maria sejak awal melarang Gabriela melacak keberadaan ayahnya, Miguel (Rick Zingale). Diam-diam, Gabriela menghubungi temannya, Gizele (Fanessa Pineda) yang bekerja di Meksiko untuk mencari informasi seputar Miguel.

Suatu malam, Gizele mengabari Gabriela soal rumah baru Miguel. Tanpa memberi tahu John dan Maria, Gabriela menemui sang ayah. Sayang, Miguel tak menyambut hangat. Kalut, Gabriela diajak Gizele ke diskotik. Di sanalah masalah berasal. Gabriela dijadikan barang dagangan oleh Hugo Martinez (Sergio Peris-Mencheta) dan Oscar Martinez (Oscar Jaenada).

Selain menjual perempuan, Hugo-Oscar punya bisnis narkoba. Sadar Gabriela dalam bahaya, John berupaya menyelamatkan dengan bantuan perempuan bernama Carmen (Paz Vega).

Lanjut Baca:

Bujet produksi Rambo Last Blood yang terbatas tampak dari konfigurasi pemain. Hanya Sylvester Stallone yang punya nama besar. Villain dan karakter pendukung diperankan aktor-aktris yang kurang familier, setidaknya bagi pencinta film Tanah Air. John Rambo yang sudah aki-aki alias sepuh menyepi di kawasan Arizona. Pekerjaannya tak begitu jelas. Ia hanya berkuda, menikmati hari tua dengan hidup di terowongan bawah tanah yang ia bangun. Visi terhadap terowongan pun sekadar untuk berjaga-jaga. Dari sini kita tahu, ada yang diantisipasi John Rambo dan biasanya terjawab di menit-menit akhir. Karena sudah sepuh pula, konflik Rambo yang semula level internasional bergeser ke area pribadi. Dendam, mata ganti mata, gigi ganti gigi, dan semangat menegakkan keadilan dengan cara sendiri mewarnai sepanjang durasi. Jangan tanya ke mana perginya polisi dan mengapa mereka tak berkarya nyata di sini. Jelas sudah, problem Rambo Last Blood terletak pada naskah. 

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya