SPBU di Dekat Pemukiman Berbahaya

Dr Berlian T.P Siagian selaku Ahli kesehatan masyarakat menjelaskan bahwa keberadaan Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) yang berada di dekat kawasan pemukiman penduduk sangatlah berdampak negatif dengan masyarakat sekitar

oleh Liputan6Diterbitkan 23 Mei 2012, 07:41 WIB
Liputan6.com, Jakarta: Dr Berlian T.P Siagian selaku Ahli kesehatan masyarakat menjelaskan bahwa keberadaan Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) yang berada di dekat kawasan pemukiman penduduk sangatlah berdampak negatif dengan masyarakat sekitar.

Lantaran menurutnya, uap yang dihasilkan dari bongkar muat bahan bakar minyak (BBM) sangat berbahaya. "Dampak paling buruk dari keberadaan SPBU di dekat tempat tinggal itu sangat berdampak kepada orang disekitar. Jadi SPBU itu kan biasanya bongkar muat, dalam bongkar muat itu uapnya itu bisa jatuh hingga 100 meter. Karena dia bergerak dari udara," kata Siagian dalam diskusi di Gedung Juang Jakarta, Selasa (22/5) petang.

Kemudian lanjut Siagian, pengayaan bahan bakar itu suka ditambahkan dengan zat adiktif supaya kadar oktan dari BBM itu bisa sampai 92 hingga 98 persen. Karena itu menurutnya, jika zat tersebut tercampur dengan air bersih di dekat perumahan warga maka hal tersebut sangat berefek terhadap kesehatan masyarakat sekitar.

"Dan efek dari zatnya itu ketika sudah tercampur dengan air itu bisa buat kulit menjadi meelepuh karena dia larut dalam air, selain itu gejala yang ditimbulkan juga banyak seperti gangguan keseimbangan, muntah-muntah, hingga hilang kesadaran atau pingsan," tuturnya.

Oleh karena itu dirinya menghimbau agar siapapun calon gubernur yang akan terpilih dalam pilkada DKI Jakarta 2012 ini harus mengevaluasi pembangunan SPBU di ibukota Jakarta.

"Harapan saya cagub kedepan ini kiranya memberlakukan peraturan yang melindungi masyarakat dengan baik. Jadi kalo spbu itu mau dibangun itu jangan dekat dengan perumahan rakyat. Atau 100 meter dari tempat tidur. Apalagi rumah itu dihuni oleh anak balita. Karena zat tersebut sangat rentan sekali terkena kulit balita. Dan bahkan ketika ibu hamil itu bisa anaknya berkurang beratnya hingga 40 persen," pungkasnya. (ARI)

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya