Tuntaskan Masalah di Papua, BPIP Utamakan Pendekatan Kultural

Romo Benny juga meminta, kepada tokoh asal Papua yang ada di sejumlah daerah juga membuka ruang dialog untuk menyelesaikan masalah tersebut.

oleh Yopi Makdori diperbarui 20 Agu 2019, 16:02 WIB
Romo A Benny Susetyo memberikan pernyataan seputar penunjukan Komjen Budi Gunawan sebagai Kapolri oleh Presiden Joko Widodo di gedung PGI Jakarta, Sabtu (17/1/2015). (Liputan6.com/Herman Zakharia)

Liputan6.com, Jakarta - Staf Khusus Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), Romo Benny Susetyo menginginkan, pendekatan kultural dikedepankan dalam menyelesaikan kerusuhan yang sempat terjadi di Papua.

Menurutnya, seharusnya para kepala daerah menggunakan cara itu. Selain itu juga membuka dialog dengan mahasiswa dan pemuda.

"Kalau ada konflik-konflik yang melibatkan mereka, harusnya jangan libatkan ormas-ormas lain. Harusnya dibangun persuasif," ujar Romo Benny kala dihubungi Liputan6.com di Jakarta, Senin (20/8/2019).

Romo Benny juga meminta, kepada tokoh asal Papua yang ada di sejumlah daerah juga membuka ruang dialog untuk menyelesaikan masalah tersebut. Tak hannya itu, mereka juga harus meluruskan berita-berita yang tidak benar yang beredar di media sosial

"Jangan seperti kemarin itu seolah dipertontonkan. Sekarang ini kan gampang diviralkan, semua orang punya HP," katanya.

Menurut Romo Benny, pendekatan kultural juga bisa dilakukan dengan cara membangun dialog bersama pihak-pihak terkait.

Ia berpendapat, kerusuhan yang sempat terjadi di Papua, salah satunya dipicu oleh trauma sejarah.

"Papua itu harus mendapatkan perhatian khusus dalam berbagai bidang. Terus menampilkan di ruang publik orang Papua yang berprestasi," kata Romo.

Jika hal itu dijalankan, Romo Benny percaya, bisa mencegah konflik antara sesama anak bangsa.

Saksikan video pilihan berikut ini:

2 dari 2 halaman

Rusuh di Manokwari

Massa turun ke jalan dalam unjuk rasa yang berujung kerusuhan di Manokwari, Papua, Senin (19/8/2019). Mereka membakar gedung DPR juga memblokade jalan dengan membakar ban sebagai buntut dari peristiwa yang dialami mahasiswa Papua di Surabaya dan Malang, serta Semarang beberapa hari lalu. (STR / AFP)

Sebelumnya, pada Senin 19 Agustus 2019 massa memblokade sejumlah jalan utama di Manokwari, Papua Barat. Mereka memblokade jalan dengan cara membakar ban.

Aksi massa ini membuat arus transportasi di daerah ini lumpuh. Seperti dikutip dari Antara, aksi ini ditengarai akibat kemarahan masyarakat Papua sebagai buntut dari peristiwa yang dialami mahasiswa asal Papua di Surabaya dan Malang, Jawa Timur serta Semarang Jawa Tengah beberapa hari lalu.

Aksi massa ini dilakukan di Jalan Trikora Wosi, Jalan Yossudarso dan Jalan Merdeka Manokwari. Aparat TNI dan Polri berjaga-jaga di setiap titik.

Kerusuhan di Manokwari, Papua Barat kini menjalar ke Jayapura, Papua. Massa memblokir jalan utama menuju Bandara Sentani. Demonstrasi itu merupakan aksi berantai menyusul kerusuhan di Manokwari.

Kapendam XVII/Cenderawasih Letkol Inf Eko Daryanto menyampaikan, pihaknya belum tau pasti arah pergerakan para pengunjuk rasa.

"Belum tahu, masih beda wilayah. Masih 5, 3 kilometer dari Jayapura. Itu di Uncen (Universitas Cendrawasih)," turur Eko saat dihubungi Liputan6.com, Senin (19/8/2019).

Menurut Eko, sejauh ini belum ada kerusuhan yang ditimbulkan para demonstran di Manokwari. Termasuk jatuhnya korban jiwa dan pengerusakan fasilitas umum.

"Tapi sudah aksi penutupan jalan ke bandara," jelas dia.

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya