Cegah Bahaya Merkuri Melalui Pemilahan Sampah

Mahasiswa ITS mengadakan penyuluhan atau sosialisasi tentang bahaya merkuri dan memberikan tempat sampah " Gratis " khusus LHE yang sudah rusak atau yang sudah tidak layak.

oleh Liputan6Diterbitkan 13 Mei 2012, 10:43 WIB
Citizen6, Keputih: Mercury atau yang biasa disebut air raksa oleh kebanyakan masyarakat luas ini merupakan golongan logam transisi. Berwarna keperakan dan merupakan satu dari lima unsur (cesium, fransium, galium, brom) yang berbentuk cair dalam suhu kamar, serta mudah menguap. Banyak disekitar kita benda - benda yang mengandung merkuri tapi tak banyak masyarakat yang mengetahui dan peduli tentang dampak dan bahaya merkuri terhadap lingkungan.

Salah satu contoh benda yang mengandung merkuri yang sering kita jumpai dilingkungan sekitar kita yaitu termometer, baterai handphone, kosmetik, dan Lampu hemat energi (LHE). Kandungan merkuri pada LHE mengakibatkan dampak yang negatif (jika pecah) terhadap lingkungan sekitarnya dan apabila uap merkuri di hirup oleh manusia maka kesehatan manusia itu akan terganggu. Contohnya gangguan pencernaan, gangguan pda otak dan bisa menyebabkan kebutaan.

Cara pencegahan bahaya merkuri yang di tekankan adalah merkuri di dalam LHE. Karena penggunaan Lampu Hemat Energi (LHE) di Indonesia semakin banyak dengan adanya penyemarakan atau usulan dari pemerintah supaya menggunakan LHE untuk penghematan energi.
Penggunaan LHE memang menghemat energi, tetapi dampak dari penggunaan LHE sangat mencemari lingkungan jika masyarakat.

Terlebih jika membuang LHE yang sudah rusak atau mati disembarang tempat. Jika LHE tersebut pecah, akan sangat beresiko mencemari lingkungan karena LHE mempunyai kandungan mercury yang membahayakan lingkungan dan kesehatan manusia. Jumlah rata-rata kandungan mercury di dalam LHE amat kecil yaitu lima miligram. Namun jika LHE yang pecah dalam jumlah yang cukup banyak, maka semakin banyak pula kandungan merkuri yang mencemari lingkungan. Berdasarkan sumber yang didapat mengatakan bahwa sekitar 1.200 sampai 2.900 ton setiap tahunnya uap mercury dilepaskan oleh manusia. Sekitar 4% dari total pemanfaatan mercury adalah untuk penerangan atau lampu.

Langkah awal menuju Indonesia terbebas dari bahaya merkuri yaitu melakukan perubahan kecil dengan mengadakan penyuluhan atau sosialisasi tentang bahaya merkuri dan memberikan tempat sampah " Gratis " khusus LHE yang sudah rusak atau yang sudah tidak layak. Hal ini supaya warga setempat terangsang untuk melakukan pemisahan sampah biasa dengan sampah LHE. Sasaran utama sosialisasi adalah warga keputih R. 03 dan Rt. 04/08 karena tempat tinggalnya di dekat tempat
pembuangan sampah akhir ( TPA ).

Program ini telah dilaksanakan oleh Ludianto Dwi Saputra dengan timnya yaitu Ahmad Azkia, Reni Nurhayanti dan Didit Setyo Widodo, yang mana mereka semua adalah mahasiswa ITS (Institut Teknologi Sepuluh November). Tujuan dari program ini agar masyarakat mengetahui tentang bahaya mercury. Diharapkan program ini dapat di terapkan dan dilaksanakan di masyarakat luas agar bahaya mercury dapat di cegah dan diantisipasi. (Pengirim: Idul Kun)

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya