Dedi Mulyadi Yakin Angka Golput di Jabar Turun di Hari Pencoblosan

Analisis Departemen Politik dan dan Pemerintahan UGM menunjukkan percakapan mengenai sikap golongan putih (golput) di media sosial terpusat di Pulau Jawa.

oleh Liputan6.com diperbarui 28 Feb 2019, 21:19 WIB
Warga menunjukan pin anti golput usai melakukan pendaftaran daftar pemilih tetap (DPT) di kawasan Car Free Day, Jakarta, Minggu (21/10). Pos pendaftaran ini bertujuan mendata warga yang belum terdaftar dalam DPT Pemilu 2019. (Merdeka.com/Iqbal S. Nugroho)

Liputan6.com, Pangandaran - Analisis Departemen Politik dan dan Pemerintahan UGM menunjukkan percakapan mengenai sikap golongan putih (golput) di media sosial terpusat di Pulau Jawa. Berdasarkan Analisis Big Data di Twitter menunjukkan, potensi golput paling tinggi ada Jawa Barat dengan prosentase 21,60 persen.

Ketua Tim Kampanye Daerah Jawa Barat Jokowi-Ma'ruf Amin, Dedi Mulyadi menilai, golput menjadi hal biasa yang selalu muncul jelang pemilihan umum. Namun, politikus Golkar itu beranggapan, jumlahnya bakal berkurang pada hari pemilihan.

"Biasanya isu itu hanya sampai sebelum pemilihan," kata Dedi, di Lapangan Boulevard Pangandaran, Jawa Barat, Kamis (28/2/2019).

Dia meyakini, angka golput di Jawa Barat lebih kecil dibanding saat pemilihan kepala daerah.

"Misalnya pemilihan gubernur, pemilihan kepala daerah kabupaten kota itu relatif rata-rata di atas 55 persen (partisipasi politik) hingga 70 persen," jelas Dedi.

Sebagai catatan, pilkada serentak di Jawa Barat angka partisipasi masyarakat cukup tinggi. Mencapai angka 73 persen.

"Saya pikir angka demokrasi di Indonesia angka demokrasi yang terbaik di dunia," tambah Dedi.

 

Reporter: Ahda Bayhaqi

Sumber: Merdeka

 

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya