Liputan6.com, Jakarta: Kalender Indonesia mencatat 23 Juli sebagai Hari Anak Nasional. Namun, tak semua anak dapat memperingati dan merayakan hari khusus untuk para bocah itu. Ketika sebagian anak sedang bermanja dengan orangtua atau mencicipi pelajaran di sekolah, sebagian temannya justru tengah bergelut dengan pekerjaan. Mengamen, menyemir sepatu, meminta-minta, menjadi polisi cepek dan berbagai aktivitas lain. Sekolah mereka adalah jalanan. Masa depannya juga dikais di jalanan.
Kemacetan lalu lintas atau perempatan lampu merah Jakarta kerap menjadi lahan para pengamen cilik untuk mendulang rezeki. Banyak anak usia sekolah yang naik turun kendaraan umum atau loncat sana sini menyanyi diiringi tepukan tangan atau krincingan dengan suara pas-pasan untuk mengisi perut. Ya, terkadang ulah mereka mengesalkan. Tapi, tak jarang menggelikan dan menarik simpati.
Bagus termasuk anak yang saban hari mengamen. Bocah berumur tujuh tahun ini mengamen untuk membiayai sekolah. Dengan hasil Rp 4.000 per hari, laki-laki bertubuh berisi itu bisa membayar iuran bulanan sebesar Rp 20 ribu. Agar bisa mendapat uang, anak tukang sol sepatu ini baru boleh pulas sekitar jam 12.00 WIB.
Siswa kelas dua Madrasah Ibtidaiyah ini menganggap malam adalah waktu yang tepat untuk bekerja. Sebab, dia harus menuntut ilmu di siang hari. Selain itu, pada waktu terang, jalanan masih dikuasai pengamen senior. Bocah yang memiliki empat saudara kandung itu juga harus menyisihkan sebagian penghasilannya untuk membantu ekonomi keluarga.
Lain lagi dengan Sambon. Rekan seprofesi Bagus ini tidak seberuntung temannya yang masih memiliki keluarga utuh. Dia juga tak pernah merasakan bangku sekolah. Bocah berusia 10 tahun ini bahkan tidak tahu di mana orangtuanya sekarang. Dia terdampar di jalan karena dibawa sekelompok pengemis jalanan. Cita-cita Sambon sederhana: mengumpulkan uang banyak supaya bisa hidup enak.
Bagus dan Sambon adalah potret sebagian anak yang harus berjuang menghidupi dirinya sendiri. Padahal, anak seusia mereka mempunyai hak untuk bermain, bergelendotan manja pada orangtua, dan untuk mendapat pendidikan. Gawatnya, tak sedikit anak yang berpikiran menjadi anak jalanan sudah menjadi nasib. Ironis memang.(TNA/Nina Estanto dan Satya Pandya)
Kemacetan lalu lintas atau perempatan lampu merah Jakarta kerap menjadi lahan para pengamen cilik untuk mendulang rezeki. Banyak anak usia sekolah yang naik turun kendaraan umum atau loncat sana sini menyanyi diiringi tepukan tangan atau krincingan dengan suara pas-pasan untuk mengisi perut. Ya, terkadang ulah mereka mengesalkan. Tapi, tak jarang menggelikan dan menarik simpati.
Bagus termasuk anak yang saban hari mengamen. Bocah berumur tujuh tahun ini mengamen untuk membiayai sekolah. Dengan hasil Rp 4.000 per hari, laki-laki bertubuh berisi itu bisa membayar iuran bulanan sebesar Rp 20 ribu. Agar bisa mendapat uang, anak tukang sol sepatu ini baru boleh pulas sekitar jam 12.00 WIB.
Siswa kelas dua Madrasah Ibtidaiyah ini menganggap malam adalah waktu yang tepat untuk bekerja. Sebab, dia harus menuntut ilmu di siang hari. Selain itu, pada waktu terang, jalanan masih dikuasai pengamen senior. Bocah yang memiliki empat saudara kandung itu juga harus menyisihkan sebagian penghasilannya untuk membantu ekonomi keluarga.
Lain lagi dengan Sambon. Rekan seprofesi Bagus ini tidak seberuntung temannya yang masih memiliki keluarga utuh. Dia juga tak pernah merasakan bangku sekolah. Bocah berusia 10 tahun ini bahkan tidak tahu di mana orangtuanya sekarang. Dia terdampar di jalan karena dibawa sekelompok pengemis jalanan. Cita-cita Sambon sederhana: mengumpulkan uang banyak supaya bisa hidup enak.
Bagus dan Sambon adalah potret sebagian anak yang harus berjuang menghidupi dirinya sendiri. Padahal, anak seusia mereka mempunyai hak untuk bermain, bergelendotan manja pada orangtua, dan untuk mendapat pendidikan. Gawatnya, tak sedikit anak yang berpikiran menjadi anak jalanan sudah menjadi nasib. Ironis memang.(TNA/Nina Estanto dan Satya Pandya)