Liputan6.com, Labuan: Populasi badak Jawa atau badak bercula satu (Rhinoceros Sondaicus) di kawasan Hutan Taman Nasional Ujung Kulon, Kabupaten Pandeglang, Banten mendapat dua keturunan. Selama tahun 2011 ada penambahan dua.
"Populasi Badak Jawa terus berkembang biak karena pada 2010 juga bertambah keturunannya tiga ekor dan itu tidak terlepas dari pengawasan yang terus dilakukan," kata Hendra Purnama petugas Evaluasi dan Data di Balai Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK), Senin (6/2).
Hendra mengatakan penambahan populasi satwa langka di dunia tersebut berdasarkan pada hasil video yang dipasang di sejumlah titik di kawasan Semenanjung Ujung Kulon 2011 yang tercatat berjumlah 35 ekor. Dari video di blok Cikeusik tersebut terlihat kawanan dengan dua anakan yang diperkirakan berumur lima sampai sembilan bulan. Anak badak tersebut dipastikan betina. Anakan tersebut biasanya akan diasuh induknya hingga berumur antara empat sampai lima tahunan.
"Saya yakin Badak itu bertambah regenerasi hasil jebakan video dan mereka hidup di habitatanya relatif aman," ujarnya. Pemasangan kamera video tersebut dimaksudkan untuk mengetahui habitat, jumlah populasi, perilaku dan pengasuhan anaknya. Kini terdapat 30 buah kamera yang dipasang di berbagai titik. Idealnya, menurut Hendra butuh 120 unit kamera sehingga bisa lebih memastikan jumlah populasi seluruhnya. Pemasangan kamera tersebut berada pada radius dua kilometer dalam habitat badak Jawa.
"Kami akan melakukan pemasangan "video trap" sekitar 60 titik dan kemungkinan jumlah populasi Badak mencapai 100 ekor," ujarnya.
Musim kawin badak Jawa adalah empat tahun sekali sehingga menyulitkan penambahan jumlah populasinya. Pelestarian badak Jawa direncanakan akan dilakukan juga di selatan Gunung Honje.
Makanan satwa langka ini berupa daun Sulangkor dan Bisoro yang berada di kawasan Semenanjung Ujung Kulon.
"Saya kira untuk makanan badak tidak ada masalah karena ada 114 jenis dedaunan yang dijadikan pakan mereka," ujar Hendra. (ANT/Vin)
"Populasi Badak Jawa terus berkembang biak karena pada 2010 juga bertambah keturunannya tiga ekor dan itu tidak terlepas dari pengawasan yang terus dilakukan," kata Hendra Purnama petugas Evaluasi dan Data di Balai Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK), Senin (6/2).
Hendra mengatakan penambahan populasi satwa langka di dunia tersebut berdasarkan pada hasil video yang dipasang di sejumlah titik di kawasan Semenanjung Ujung Kulon 2011 yang tercatat berjumlah 35 ekor. Dari video di blok Cikeusik tersebut terlihat kawanan dengan dua anakan yang diperkirakan berumur lima sampai sembilan bulan. Anak badak tersebut dipastikan betina. Anakan tersebut biasanya akan diasuh induknya hingga berumur antara empat sampai lima tahunan.
"Saya yakin Badak itu bertambah regenerasi hasil jebakan video dan mereka hidup di habitatanya relatif aman," ujarnya. Pemasangan kamera video tersebut dimaksudkan untuk mengetahui habitat, jumlah populasi, perilaku dan pengasuhan anaknya. Kini terdapat 30 buah kamera yang dipasang di berbagai titik. Idealnya, menurut Hendra butuh 120 unit kamera sehingga bisa lebih memastikan jumlah populasi seluruhnya. Pemasangan kamera tersebut berada pada radius dua kilometer dalam habitat badak Jawa.
"Kami akan melakukan pemasangan "video trap" sekitar 60 titik dan kemungkinan jumlah populasi Badak mencapai 100 ekor," ujarnya.
Musim kawin badak Jawa adalah empat tahun sekali sehingga menyulitkan penambahan jumlah populasinya. Pelestarian badak Jawa direncanakan akan dilakukan juga di selatan Gunung Honje.
Makanan satwa langka ini berupa daun Sulangkor dan Bisoro yang berada di kawasan Semenanjung Ujung Kulon.
"Saya kira untuk makanan badak tidak ada masalah karena ada 114 jenis dedaunan yang dijadikan pakan mereka," ujar Hendra. (ANT/Vin)