Liputan6.com, Jakarta: Satu di antara ciri khas Betawi adalah alat transportasi beroda dua yang ditarik seekor kuda, delman. Sayangnya, kini jumlah delman yang beroperasi di Ibu Kota berkurang. Namun di akhir pekan, delman dapat lebih mudah dijumpai di Lapangan Silang Monumen Nasional, Jakarta Pusat. Di antaranya adalah delman milik Mat Sani. Menurut Mat Sani, baru-baru ini, sekitar 150 tukang delman mengadu nasib di kawasan ini setiap akhir pekan.
Seperti rekan-rekan seprofesinya, pemuda asli Betawi asal Cengkareng, Jakarta Barat, ini setiap Sabtu pagi sudah tiba di Monas dan baru pulang pada Ahad malam. Beberapa karung rumput dan sehelai tikar menjadi bekal Mat Sani untuk bermalam. Dengan demikian, dia dapat lebih berkonsentrasi mencari uang hingga larut malam. Namun, Mat Sani menyatakan, delman yang beroperasi di kawasan Monas sudah terlalu banyak. Dia juga diwajibkan membayar pajak parkir sebesar Rp 15 ribu dan uang kebersihan seikhlasnya.
Karena menjadi sandaran hidup, Mat Sani harus telaten merawat kuda dan delmannya. Mat Sani mengaku tidak terus menerus memaksa si Anton--kuda miliknya--untuk menarik delman. Sekali dalam sepekan, Mat Sani libur dari menarik delman tuanya dan berkonsentrasi merawat kesehatan Anton.
Mat Sani mengatakan, harga seekor kuda dan delman saat ini mahal. "Kuda dan delman masing-masing bisa mencapai Rp 4 juta," kata Mat Sani. Bahkan, harga aksesoris kuda seperti kalung atau tali leher harganya dapat mencapai ratusan ribu rupiah. Tak lupa, makanan si Anton juga harus benar-benar diperhatikan, terutama rumput kelintingan yang sulit ditemukan di musim kemarau. Kuda coklat yang berumur lima tahun ini harus diberikan makanan tambahan untuk menambah tenaga dengan dedak, ampas toge, dan gula merah.(ZAQ/Esther Mulyanie dan Yudhi Wibowo)
Seperti rekan-rekan seprofesinya, pemuda asli Betawi asal Cengkareng, Jakarta Barat, ini setiap Sabtu pagi sudah tiba di Monas dan baru pulang pada Ahad malam. Beberapa karung rumput dan sehelai tikar menjadi bekal Mat Sani untuk bermalam. Dengan demikian, dia dapat lebih berkonsentrasi mencari uang hingga larut malam. Namun, Mat Sani menyatakan, delman yang beroperasi di kawasan Monas sudah terlalu banyak. Dia juga diwajibkan membayar pajak parkir sebesar Rp 15 ribu dan uang kebersihan seikhlasnya.
Karena menjadi sandaran hidup, Mat Sani harus telaten merawat kuda dan delmannya. Mat Sani mengaku tidak terus menerus memaksa si Anton--kuda miliknya--untuk menarik delman. Sekali dalam sepekan, Mat Sani libur dari menarik delman tuanya dan berkonsentrasi merawat kesehatan Anton.
Mat Sani mengatakan, harga seekor kuda dan delman saat ini mahal. "Kuda dan delman masing-masing bisa mencapai Rp 4 juta," kata Mat Sani. Bahkan, harga aksesoris kuda seperti kalung atau tali leher harganya dapat mencapai ratusan ribu rupiah. Tak lupa, makanan si Anton juga harus benar-benar diperhatikan, terutama rumput kelintingan yang sulit ditemukan di musim kemarau. Kuda coklat yang berumur lima tahun ini harus diberikan makanan tambahan untuk menambah tenaga dengan dedak, ampas toge, dan gula merah.(ZAQ/Esther Mulyanie dan Yudhi Wibowo)