Neraca Perdagangan Juli 2018 Diprediksi Kembali Defisit

Impor sejak awal tahun hingga Mei 2018 mengalami kenaikan sebesar 24,77 persen.

oleh Merdeka.comDiterbitkan 07 Agustus 2018, 19:22 WIB
Aktivitas bongkar muat peti kemas di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Jumat (25/5). Kenaikan impor dari 14,46 miliar dolar AS pada Maret 2018 menjadi 16,09 miliar dolar AS (month-to-month). (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta - Badan Pusat Statistik (BPS) akan mengumumkan kondisi neraca perdagangan Juli 2018 pada pertengahan bulan ini. Hal ini dinantikan oleh semua pihak mengingat perdagangan Indonesia belum pulih sepenuhnya setelah mengalami defisit sebanyak 4 kali sejak awal tahun.

Direktur Jenderal Perdagangan Kementerian Keuangan Oke Nurwan mengatakan, sejumlah pihak masih memprediksi perdagangan Indonesia pada Juli mengalami defisit. Oleh karena itu, pemerintah mengumpulkan seluruh pengusaha untuk mencari jalan keluar.

"Januari kita defisit dari 6 bulan pertama, 4 bulan itu defisit. Januari defisit, Februari defisit, Maret surplus, April defisit, Mei defisit, Juni surplus. Kalau bapak ini eksportir, kemana saja pak. Insyaallah menurut intelegen Juli defisit lagi," ujarnya di acara Ghatering Eksportir Indonesia di Kantor DJBC, Jakarta, Selasa (7/8/2018).

Oke mengatakan, ada beberapa ekspor yang meningkat ada juga yang turun selama enam bulan terakhir. Sementara itu, impor sejak awal tahun hingga Mei 2018 mengalami kenaikan sebesar 24,77 persen.

"Impor sampai Mei meningkat 24,77 persen. Ini kalau bahasa kami selalu dibagi dua. Komposisi yang diimpor itu, ini karena defisit terus kemendag ditegur tegur. Tolong kendalikan impornya, tolong dorong ekspornya," jelas Oke.

Dari pengendalian impor, Kemendag sebenarnya hanya mengendalikan barang impor sebesar 42 persen. Sementara sisanya 58 persen berada diluar wewenang Kemendag.

"Dari jumlah barang yang diimpor kurang lebih 42 persen dikelola Kemendag, selebihnya 58 persen diimpor tapi Kemendag enggak bisa apa-apa karena tidak ada dokumentasi yang harus dilengkapi dari Kemendag itu impor," jelasnya.

 

Andalkan Ekspor Komoditas

Pelepasan ekspor Indonesia ke AS menggunakan kapal besar (Direct Call) pembawa kontainer di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Selasa (15/5). Total volume barang yang diekspor mencapai 4.300 TEUs (Twenty Foot Equivalent Units). (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Oke menambahkan, selama ini Indonesia masih mengandalkan ekspor komoditas untuk mendongkrak perdagangan. Sehingga, ketika Indonesia surplus itu hanya dipengaruhi oleh kenaikan harga komoditas.

"Masalah utama ekspor kita selama ini selama 5 dekade masih didominasi produk natural intensif produk. Jadi kalau surplus karena nilai komoditi naik saja bukan komoditi primer jadi produk manufaktur. Jadi harus segera kita dorong industri orientasi ekspor dan geser produk primer ke bernilai tambah tinggi," tandasnya.

Reporter: Anggun P. Situmorang

Sumber: Merdeka.com

Rekomendasi

POPULER

Berita Terbaru

    Berita Terkini Selengkapnya