Liputan6.com, Banjarbaru: Kabut asap tebal menyelimuti Banjarbaru, Kalimantan Selatan, Kamis (29/9). Kabut asap yang diduga akibat kebakaran hutan dan lahan sudah terlihat sejak pukul 05.30 WITA. Aktivitas masyarakat terganggu karena terbatasnya jarak pandang.
"Begitu bangun kabut asap tipis sudah memenuhi ruangan dalam rumah dan saat melihat keluar jendela, kabut asap cukup tebal sehingga kami tidak berani membuka jendela," ujar Nyonya Wita, warga Jalan Taruna Praja, Banjarbaru.
Kabut asap terlihat hampir di seluruh wilayah Banjarbaru. Baik perkotaan maupun kawasan pinggiran yang masih banyak terdapat lahan kosong dan semak belukar. Untuk kawasan perkotaan, termasuk sepanjang ruas jalan yang banyak dilewati kendaraan, kabut asap tidak terlalu tebal karena terembus angin dari padatnya lalu lintas dengan jarak pandang mencapai 100 meter.
Namun di kawasan pinggiran, kabut asap terlihat tebal sehingga membuat jarak pandang di bawah 50 meter. Kondisi itu cukup mengganggu aktivitas masyarakat yang umumnya dimulai pukul 07.00 WITA. Sejumlah pengguna jalan yang melintasi ruas jalan utama maupun jalan perkotaan, terlihat menggunakan masker untuk menghindari kabut asap yang baunya tak sedap, mirip bau benda terbakar.
"Saya sengaja pakai masker ke kantor karena kabut asap terlihat tebal dan di jalan juga banyak pengendara motor yang pakai masker," ujar Rasyid, seorang pegawai perusahaan swasta yang setiap hari menggunakan sepeda motor ke kantornya.
Warga lainnya, Yono yang setiap hari mengantar anak ke sekolah, juga mengeluhkan tebalnya kabut asap yang cukup tinggi karena selain mengganggu pandangan juga membuat perih mata. "Tadi saat mengantar anak ke sekolah pandangan cukup terganggu kabut asap, begitu sampai di rumah mata saya perih mungkin karena terkena kabut asap," ujar warga Kelurahan Guntung Manggis itu.
Hingga sekitar pukul 08.30 WITA, kabut asap masih cukup tebal dengan jarak pandang antara 100-200 meter. Ini menghalangi sinar matahari yang mulai muncul.(ASW/ANS/Ant)
"Begitu bangun kabut asap tipis sudah memenuhi ruangan dalam rumah dan saat melihat keluar jendela, kabut asap cukup tebal sehingga kami tidak berani membuka jendela," ujar Nyonya Wita, warga Jalan Taruna Praja, Banjarbaru.
Kabut asap terlihat hampir di seluruh wilayah Banjarbaru. Baik perkotaan maupun kawasan pinggiran yang masih banyak terdapat lahan kosong dan semak belukar. Untuk kawasan perkotaan, termasuk sepanjang ruas jalan yang banyak dilewati kendaraan, kabut asap tidak terlalu tebal karena terembus angin dari padatnya lalu lintas dengan jarak pandang mencapai 100 meter.
Namun di kawasan pinggiran, kabut asap terlihat tebal sehingga membuat jarak pandang di bawah 50 meter. Kondisi itu cukup mengganggu aktivitas masyarakat yang umumnya dimulai pukul 07.00 WITA. Sejumlah pengguna jalan yang melintasi ruas jalan utama maupun jalan perkotaan, terlihat menggunakan masker untuk menghindari kabut asap yang baunya tak sedap, mirip bau benda terbakar.
"Saya sengaja pakai masker ke kantor karena kabut asap terlihat tebal dan di jalan juga banyak pengendara motor yang pakai masker," ujar Rasyid, seorang pegawai perusahaan swasta yang setiap hari menggunakan sepeda motor ke kantornya.
Warga lainnya, Yono yang setiap hari mengantar anak ke sekolah, juga mengeluhkan tebalnya kabut asap yang cukup tinggi karena selain mengganggu pandangan juga membuat perih mata. "Tadi saat mengantar anak ke sekolah pandangan cukup terganggu kabut asap, begitu sampai di rumah mata saya perih mungkin karena terkena kabut asap," ujar warga Kelurahan Guntung Manggis itu.
Hingga sekitar pukul 08.30 WITA, kabut asap masih cukup tebal dengan jarak pandang antara 100-200 meter. Ini menghalangi sinar matahari yang mulai muncul.(ASW/ANS/Ant)