Liputan6.com, Kediri: Meski sudah ada sejak zaman Wali Songo, bedug masih dapat dijumpai di sejumlah masjid di ibu kota maupun daerah. Bedug digunakan pada masa lampau sebagai penanda tibanya waktu salat. Dahulu memang belum bertebaran masjid dan tidak ada spiker atau TOA.
Agar tetap lestari seperti sekarang, Suhada bersama sejumlah karyawannya bekerja membuat bedug. Warga Desa Badal, Kecamatan Ngadiluwih, Kabupaten Kediri, Jawa Timur mengandalkan kayu trembesi dan kulit sapi sebagai bahan bedug. Kayu trembesi (samanea saman) dipilih sebagai pengganti kayu jati. Dan ada kelebihan lain yang diandalkan. "Besar dan kuat begitu," kata perajin bedug di Kediri, belum lama ini.
Untuk pemukul bedug, Suhada juga menggunakan kulit sapi. Ia cenderung menggunakan kulit sapi betina dan berusia tua. Pria berkumis tebal itu juga meyakini bunyinya akan lebih nyaring. Suhada bersama karyawannya sudah menjalani usahanya sejak lima tahun silam.
Suhada mengaku pekerjaan yang dijalani berat. Namun semangat tetap menyala karena diyakini sebagai bentuk perjuangan, yakni meneruskan estafet perjuangan Wali Songo menegakkan agama Islam.(AIS)
Agar tetap lestari seperti sekarang, Suhada bersama sejumlah karyawannya bekerja membuat bedug. Warga Desa Badal, Kecamatan Ngadiluwih, Kabupaten Kediri, Jawa Timur mengandalkan kayu trembesi dan kulit sapi sebagai bahan bedug. Kayu trembesi (samanea saman) dipilih sebagai pengganti kayu jati. Dan ada kelebihan lain yang diandalkan. "Besar dan kuat begitu," kata perajin bedug di Kediri, belum lama ini.
Untuk pemukul bedug, Suhada juga menggunakan kulit sapi. Ia cenderung menggunakan kulit sapi betina dan berusia tua. Pria berkumis tebal itu juga meyakini bunyinya akan lebih nyaring. Suhada bersama karyawannya sudah menjalani usahanya sejak lima tahun silam.
Suhada mengaku pekerjaan yang dijalani berat. Namun semangat tetap menyala karena diyakini sebagai bentuk perjuangan, yakni meneruskan estafet perjuangan Wali Songo menegakkan agama Islam.(AIS)