Liputan6.com, Jakarta: Resah karena banyak karya budaya Betawi dibawa ke luar negeri, seorang budayawan Betawi menjadi kolektor perhiasan antik Betawi. Nilai koleksinya telah mencapai miliaran rupiah. Bukan hanya mengkoleksi, sang budayawan juga kerap mengadakan pameran untuk mengingatkan masyarakat Betawi agar tidak lupa pada akar budaya mereka.
"Saya merasa ini sangat penting untuk masa akan datang," katanya.
Emma Amalia Agus Bisrie adalah budayawan Betawi yang selalu antusias berbicara tentang koleksinya. Rumahnya yang teduh di kawasan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan ini, Emma menyimpan ratusan perhiasan Betwawi kuno yang bernilai miliaran rupiah.
Mulai dari perhiasan wanita dari emas, seperti kalung, peniti, dan mahkota. Ada juga pria seperti cincin, jam kantong, dan liontin. Bahkan Emma juga menyimpan hiasan kepala berusia ratusan tahun untuk pengantin.
"Umurnya lebih dari 40 hingga 100 tahun," jelasnya.
Tak hanya cantik dan unik, koleksi perhiasan ini punya makna, Ahad (27/3). Pengaruh budaya Cina, Belanda, dan Arab jelas terasa. Salah satu perhiasan langka asli Betawi adalah anting kerabu yang berusia 70 tahun. Anting ini terbuat dari emas murni dihiasi berlian.
Rasa cinta Emma pada perhiasan Betawi tak lepas dari peran sang ibu yang senantiasa mengenakan perhiasan Betawi. Usaha pendiri lembaga kebudayaan Betawi ini mengumpulkan ratusan koleksi tidak mudah, karena sebagian perhiasan antik Betawi sudah pindah tangan ke Belanda.
Agar budaya Betawi tidak punah ditelan zaman, ibu lima anak ini menekankan pentingnya upaya pelestarian budaya asli pada keluarga.
Wanita berusia 68 tahun ini juga menghasilkan dua buku perhiasan dan kerap berpameran dalam upaya mewariskan rasa cinta budaya Betawi kepada generasi muda.
Sebagai pecinta budaya, koleksi Emma akhirnya meluas ke beragam batik antik dan perhiasan daerah lain. Atas jasanya dalam pelestarian budaya, Emma memperoleh penghargaan peniti emas yang disematkan ibu negara pada 1998.
Sekarang Emma masih berharap pemerintah Provinsi DKI Jakarta ikut mengembangkan perhiasan Betawi agar peninggalan budaya ini tetap lestari.(MEL)
"Saya merasa ini sangat penting untuk masa akan datang," katanya.
Emma Amalia Agus Bisrie adalah budayawan Betawi yang selalu antusias berbicara tentang koleksinya. Rumahnya yang teduh di kawasan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan ini, Emma menyimpan ratusan perhiasan Betwawi kuno yang bernilai miliaran rupiah.
Mulai dari perhiasan wanita dari emas, seperti kalung, peniti, dan mahkota. Ada juga pria seperti cincin, jam kantong, dan liontin. Bahkan Emma juga menyimpan hiasan kepala berusia ratusan tahun untuk pengantin.
"Umurnya lebih dari 40 hingga 100 tahun," jelasnya.
Tak hanya cantik dan unik, koleksi perhiasan ini punya makna, Ahad (27/3). Pengaruh budaya Cina, Belanda, dan Arab jelas terasa. Salah satu perhiasan langka asli Betawi adalah anting kerabu yang berusia 70 tahun. Anting ini terbuat dari emas murni dihiasi berlian.
Rasa cinta Emma pada perhiasan Betawi tak lepas dari peran sang ibu yang senantiasa mengenakan perhiasan Betawi. Usaha pendiri lembaga kebudayaan Betawi ini mengumpulkan ratusan koleksi tidak mudah, karena sebagian perhiasan antik Betawi sudah pindah tangan ke Belanda.
Agar budaya Betawi tidak punah ditelan zaman, ibu lima anak ini menekankan pentingnya upaya pelestarian budaya asli pada keluarga.
Wanita berusia 68 tahun ini juga menghasilkan dua buku perhiasan dan kerap berpameran dalam upaya mewariskan rasa cinta budaya Betawi kepada generasi muda.
Sebagai pecinta budaya, koleksi Emma akhirnya meluas ke beragam batik antik dan perhiasan daerah lain. Atas jasanya dalam pelestarian budaya, Emma memperoleh penghargaan peniti emas yang disematkan ibu negara pada 1998.
Sekarang Emma masih berharap pemerintah Provinsi DKI Jakarta ikut mengembangkan perhiasan Betawi agar peninggalan budaya ini tetap lestari.(MEL)