Pergolakan Sepanjang Masa di Timur Tengah

Dalam sebulan terakhir, Israel meningkatkan serangan militer terhadap Palestina. Termasuk kepungan terhadap Yasser Arafat di Ramallah, Tepi Barat. Dunia pun mengecam aksi Israel itu.

oleh Liputan6Diterbitkan 08 April 2002, 08:46 WIB
Liputan6.com, Yerusalem: Tak ada suatu wilayah yang diperebutkan sepanjang masa selain Tanah Palestina. Betapa tidak, berbagai perebutan atas Tanah Suci tersebut mewarnai penggalan sejarah peradaban manusia yang penuh lumuran darah. Baik dari Bangsa Yahudi, Bangsa Arab maupun orang Nasrani. Buka saja lembaran sejarah, di dalamnya tercatat berbagai pertentangan dari berbagai bangsa mengenai status Palestina. Dari zaman Nabi Musa, Perang Salib, Perang Arab-Israel 1967 hingga agresi militer Israel terhadap Negara Palestina, baru-baru ini.

Seperti diketahui, dalam 18 bulan terakhir, konflik Israel-Palestina semakin panas. Tercatat, baik agresi militer Negeri Zionis maupun aksi intifadah milisi Palestina telah menewaskan lebih dari 1.500 orang. Ironisnya, dari jumlah tersebut mayoritas adalah warga Palestina, yaitu 1.100 orang. Di sisi lain, puluhan warga Israel pun menjadi korban aksi bom bunuh diri dari milisi Palestina [baca: Bom Bunuh Diri di Israel, Belasan Tewas].

Konflik berdarah tersebut memuncak saat puluhan tank Israel mengepung dan membombardir Kompleks Kantor Kepresidenan Palestina yang juga kediaman Presiden Yasser Arafat di Kota Ramallah, Tepi Barat, 29 Maret silam. Sebelum pengepungan tersebut, Perdana Menteri Israel Ariel Sharon menganggap Presiden Palestina Yasser Arafat sebagai musuh Negeri Zionis. Itulah sebabnya, segala upaya akan dilakukan untuk mengisolasi pemerintahan Arafat. Pernyataan ini diungkapkan Sharon di Yerusalem sebagai jawaban resmi atas keinginan Arafat yang sebelumnya bersedia untuk gencatan senjata [baca: Sharon Menganggap Arafat Musuh Israel].

Tak pelak, pengepungan tersebut menyebabkan Arafat gagal mengikuti Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Arab di Beirut, Lebanon. Menurut orang-orang terdekatnya, Arafat memilih tak menghadiri KTT dan tetap bertahan di Ramallah bersama rakyatnya [baca: Israel Melarang Arafat Menghadiri KTT Liga Arab]. Bersamaan dengan pengepungan tersebut pasukan Israel juga menyerang sepuluh kota di wilayah Tepi Barat dan Jalur Gaza. Agresi militer tersebut segera dibalas Kelompok Hizbullah yang berbasis di Lebanon Selatan. Kelompok dukungan Suriah dan Iran ini menyerang sejumlah pos-pos pertahanan Israel di perbatasan Lebanon-Israel, termasuk Dataran Tinggi Golan [baca: Serangan Israel Masih Membabi Buta].

Menyusul memanasnya situasi di Timur Tengah, Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa mengeluarkan Resolusi Nomor 1402 [baca: Dewan Keamanan PBB Mengeluarkan Resolusi]. Isinya, memerintahkan Israel menarik pasukan dari Palestina. Namun, resolusi itu dikritik Suriah lantaran poin yang tercantum di dalamnya dinilai tak kuat, bahkan cenderung merugikan Palestina. Apalagi, sejak 1948 hingga 1992, DK PBB telah menjatuhkan sanksi kepada Israel dengan 39 resolusi. Namun, Negeri Zionis tersebut seolah tak kapok-kapok mengulangi perbuatannya.

Sementara itu, gelombang protes menentang penyerangan Israel terhadap Palestina terjadi di berbagai penjuru dunia, termasuk di Indonesia. Organisasi Konferensi Negara-Negara Islam (OKI) pun mengutuk serangan Israel terhadap wilayah-wilayah Palestina tersebut. Pernyataan itu dikemukakan 52 menteri luar negeri anggota OKI saat pertemuan di Kuala Lumpur, Malaysia. Mereka pun meyakini bahwa Israel bisa ditekan melalui Amerika [baca: OKI Mengutuk Israel, PBB Diminta Turun Tangan]. Tak mau ketinggalan, 22 Menlu anggota Liga Arab menggelar pertemuan darurat di Kairo, Mesir. Liga Arab pun mendesak PBB dan Amerika Serikat segera menekan Israel untuk menghentikan aksinya.

Seolah menjawab seruan tersebut, Presiden AS George Walker Bush bertemu dengan Perdana Menteri Inggris Tony Blair di Crawford, Texas. Kedua pemimpin tersebut mendesak Israel segera menghentikan agresi militer ke Palestina. Negeri Zionis itu juga dituntut menarik mundur pasukannya dari sejumlah kota di Tepi Barat, Palestina. Khusus kepada Pemimpin Palestina Yasser Arafat, Bush-Blair meminta Arafat mau bekerja sama untuk mewujudkan gencatan senjata dan membasmi teroris internasional [baca: Bush-Blair Menekan Israel]. Bahkan, Bush akan mengutus Menteri Luar Negeri AS Collin Powel untuk menemui Arafat di tengah pengepungan Israel. Misi Powel adalah mengusahakan perdamaian Israel-Palestina [baca: Presiden Bush Mengutus Collin Powell ke Timteng].

Namun, tampaknya Israel seolah tak mendengar berbagai gelombang protes serta seruan tersebut. Bisa jadi, hal tersebut dikhawatirkan akan menyulut konflik yang lebih meluas. Bahkan, perang terbuka antara negara-negara Arab dan Israel kemungkinan kembali berulang. Tentu saja, bila itu terjadi, tak terkatakan berapa banyak lagi penduduk yang tidak berdosa menjadi korban dalam konflik berkepanjangan tersebut.

Sejak akhir Perang Dunia II, kawasan Timur Tengah diguncang paling tidak empat perang terbuka Arab-Israel. Masing-masing pada tahun 1948, 1956, 1967, dan 1973. Sayangnya, saat perdamaian mulai diupayakan secara luas--kesepakatan perdamaian Oslo 1993--gelombang kekerasan justru meningkat. Kelompok penentang perdamaian bermunculan di kalangan Palestina maupun Yahudi.

Tak dapat dipungkiri, masalah Timur Tengah kini telah mengkristal menjadi konflik antara Israel dan Palestina. Bisa dikatakan, konflik tersebut tak terlepas dari perseteruan panjang Bani Israil atau Yahudi dengan Bangsa Arab. Saling klaim dengan dasar agama pun mewarnai pertentangan tersebut. Hal itu tak aneh, soalnya bagi masing-masing pihak, di Tanah Palestina terdapat Kota Yerusalem yang dianggap kota suci sejumlah agama samawi. Sebut saja, Masjid Al-Aqsa bagi agama Islam, Tembok Ratapan--tempat ibadah Nabi Sulaiman--bagi agama Yahudi hingga Gereja Navitivy di Bethlehem yang dianggap sebagai tempat kelahiran Yesus Kristus oleh orang Nasrani.

Sejatinya, Kota Yerusalem, sejak didirikan pertama kali oleh Yabousyyun adalah kota utama Arab. Yabousyyun adalah seorang etnis Arab yang berimigrasi dari Semenanjung Arabia bersamaan dengan Suku Kanaan ke Palestina pada tahun 3000 S.M. Mereka menamakan kota ini dengan sebutan Oresalem atau Kota Damai. Tapi orang Romawi menamakannya dengan sebutan Elia Capitolina yang diambil dari nama kaisarnya yang bernama Elia Hedrianus. Sementara Khalifah Umar bin Khattab memasuki kota ini pada tahun 638 Masehi dan menamakannya dengan Baitul Al-Maqdis. Sejak itulah, Kota Yerusalem dan bagian wilayah Palestina lainnya menjadi wilayah rebutan di antara sejumlah bangsa maupun agama.

Memang, konflik di Palestina tak terlepas dari perbedaan asumsi teologis sejumlah agama. Agama Yahudi, misalnya. Dalam Kitab Talmud--kitab suci Bangsa Yahudi sebagai revisi dari Kitab Taurat--disebutkan bahwa seluruh bumi ini adalah warisan untuk Bani Israil. Bahkan, seluruh agama selain agama Bani Israil adalah batal. Berdasarkan ajaran agama mereka, Bani Israel mengklaim bahwa Bumi Palestina adalah tanah yang dijanjikan Tuhan bagi Bangsa Yahudi.

Konspirasi Zionis, kalau bisa disebut begitu, segera mengupayakan propaganda tersebut. Mulai dari Konggres Zionis Sedunia Pertama Tahun 1897 yang diprakarsai Theodore Herzl hingga deklarasi kemerdekaan Negara Israel pada tanggal 15 Mei 1948 dengan andil Inggris. Namanya juga Zionis, mereka pun tak puas dengan wilayah yang ada. Segera Israel melancarkan perang dengan Mesir dan Yordania untuk menguasai Tepi Barat dan Jalur Gaza. Tapi saat itu, Israel berhasil dipukul mundur.

Kendati demikian, Israel tak menyerah. Buktinya, militer Israel kembali menyerang, menyusul nasionalisasi Terusan Suez oleh Mesir pada tahun 1956. Perang pun berlanjut pada tahun 1967. Israel menyerang Mesir, Suriah, dan Yordania. Agresi Zionis tersebut dikenal dengan "Perang Enam Hari". Kali ini, Israel memenangkan pertempuran tersebut dan berhasil menguasai Semenanjung Sinai, Dataran Tinggi Golan, Jalur Gaza, dan Tepi Barat. Tentu saja, kekalahan telak Koalisi Arab tersebut berdampak perubahan peta geografis dan politik di Timur Tengah.

Setelah Perang Enam Hari itu, Koalisi Arab kembali berperang dengan Israel hingga tercapai kesepakatan damai Israel-Mesir pada 17 September 1978. Kesepakatan damai tersebut membuat Presiden Mesir Anwar Sadat dan Perdana Menteri Israel Menachem Begin meraih Nobel Perdamaian pada tahun 1979.

Ternyata, hingga saat ini, perdamaian di Palestina masih jauh dari harapan. Beberapa tahun sebelum perdamaian Israel-Mesir terwujud, tepatnya 1969, Yasser Arafat terpilih sebagai pemimpin Organisasi Pembebasan Palestina (PLO). Berturut-turut setelah PLO berdiri terjadi berbagai insiden yang menyebabkan organisasi tersebut terusir dari basisnya di Yordania ke Lebanon pada tahun 1971. Setelah itu, gerilyawan PLO rajin menggempur kepentingan-kepentingan Israel di Timur Tengah.

Pada tahun 1993, akhirnya Israel mau berunding dengan PLO di Kota Oslo, Norwegia. Ketika itu, PM Israel Yitzhak Rabin bersama Arafat menandatangani sebuah deklarasi perdamaian. Selanjutnya, 4 Mei 1994, Israel memberikan otonomi pertama kepada Palestina di Tepi Barat dan Jalur Gaza. Buntutnya, seorang pemuda Yahudi fanatik menembak mati Rabin pada November 1995.

Selanjutnya, tanda-tanda pelanggaran perdamaian mulai terlihat sejak Partai Likud pimpinan Benjamin Netanyahu memenangkan Pemilihan Umum Israel pada Mei 1996. Soalnya, partai tersebut diyakini antiperdamaian dengan menolak pembentukan Negara Palestina. Era Netanyahu berakhir dan digantikan Ariel Sharon yang terpilih sebagai PM Israel pada Februari 2001. Nah, pihak Palestina pun kembali mengkhawatirkan sepak terjang PM Israel tersebut. Sebab, saat menjabat Menteri Pertahanan Israel, Sharon dianggap sebagai orang yang bertanggung jawab atas pembantaian ribuan orang Palestina di Sabra dan Atilla, tahun 1982.

Kini, Sharon kembali mengulangi perbuatannya meski dengan alasan hendak memerangi terorisme di Palestina. Terutama berkaitan dengan rangkaian aksi bom bunuh diri yang dilakukan milisi Palestina. Bisa jadi, hal ini sebagai bentuk frustrasi Sharon lantaran tekanan dunia terhadap pendudukan Israel di wilayah Palestina. Apalagi, Israel selama ini diyakini dilindungi lobi Yahudi di Negeri Paman Sam, sehingga AS seolah menutup mata dengan tindakan yang dilakukan Israel.

Pada akhirnya perdamaian masih menjadi tanda tanya di Bumi Palestina. Asumsi ini berlaku apabila Israel bersikeras memaksakan kehendaknya terhadap Palestina. Terutama dengan mengesampingkan sejumlah kesepakatan damai terdahulu. Apalagi, jika Israel tak berniat menanggalkan ambisi Zionis-nya untuk mengangkangi Tanah Palestina.(ANS)

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya