Liputan6.com, Jakarta: Usia renta dan hidup sebatang kara tak membuat Nenek Mi`ah gentar menghadapi nasib. Betapa tidak, untuk menghidupi dirinya, nenek berusia 85 tahun ini hanya mengandalkan keterampilan yang dimiliki sejak kecil, yakni membuat anyaman bambu. Di rumah petak warisan suaminya di kawasan Cipinang Muara, Jakarta Timur, itulah setiap hari perempuan tua ini menjalankan profesi tersebut.
Dengan bermodalkan bambu yang dibelinya seharga Rp 7.500 per batang, hingga saat ini, Nenek Mi`ah menghabiskan waktunya dengan membuat saringan bambu. Meski tak mempunyai keturunan, ia pun cukup berbahagia ditemani si Rongok--kucing kesayangannya--dan beberapa ekor ayam peliharaan. Bahkan, Nenek Mi`ah enggan dibantu orang lain dalam menjalani hidupnya. Memasak, mencuci hingga merawat kucing dan ayam pun dilakukannya sendiri.
Perempuan yang hidup menjanda sejak 1970-an ini mengaku, terkadang uang hasil anyamannya tak menentu jumlahnya. Soalnya, harga saringan buatannya tergantung penawaran yang ditetapkan oleh pedagang keliling. Dia pun mengaku, terkadang dirinya enggan menganyam karena saringan buatannya tak laku. Namun, semangatnya tetap menyala karena kerajinan tersebut satu-satunya yang dapat diandalkannya untuk menyambung hidup.
Menurut Nenek Mi`ah yang asli Betawi ini, rutinitasnya dimulai seusai memasak dan baru berhenti bila hari menjelang malam. Satu-satunya hiburan bagi dirinya adalah melihat tingkah polah sejumlah hewan peliharaannya itu.(ANS/Esther Mulyanie dan Budi Sukmadianto)
Dengan bermodalkan bambu yang dibelinya seharga Rp 7.500 per batang, hingga saat ini, Nenek Mi`ah menghabiskan waktunya dengan membuat saringan bambu. Meski tak mempunyai keturunan, ia pun cukup berbahagia ditemani si Rongok--kucing kesayangannya--dan beberapa ekor ayam peliharaan. Bahkan, Nenek Mi`ah enggan dibantu orang lain dalam menjalani hidupnya. Memasak, mencuci hingga merawat kucing dan ayam pun dilakukannya sendiri.
Perempuan yang hidup menjanda sejak 1970-an ini mengaku, terkadang uang hasil anyamannya tak menentu jumlahnya. Soalnya, harga saringan buatannya tergantung penawaran yang ditetapkan oleh pedagang keliling. Dia pun mengaku, terkadang dirinya enggan menganyam karena saringan buatannya tak laku. Namun, semangatnya tetap menyala karena kerajinan tersebut satu-satunya yang dapat diandalkannya untuk menyambung hidup.
Menurut Nenek Mi`ah yang asli Betawi ini, rutinitasnya dimulai seusai memasak dan baru berhenti bila hari menjelang malam. Satu-satunya hiburan bagi dirinya adalah melihat tingkah polah sejumlah hewan peliharaannya itu.(ANS/Esther Mulyanie dan Budi Sukmadianto)