Nasib Burung Langka Endemik Bali jika Gunung Agung Erupsi

Ada pertahanan diri yang dimiliki burung langka endemik Bali jika Gunung Agung erupsi. Itu pun masih belum sepenuhnya aman dari manusia.

oleh Panji Prayitno diperbarui 04 Okt 2017, 18:30 WIB
Permintaan jalak Bali sebagai hewan peliharaan yang legal kini terpenuhi. Konservasi pada akhirnya memberi harap, jalak Bali tetap lestari.

Liputan6.com, Indramayu - Ancaman meletusnya Gunung Agung di Bali tidak hanya berimbas pada masyarakat sekitar dan hewan ternak milik warga. Erupsi Gunung Agung juga mengancam populasi burung jalak Bali (Leucopsar rothschildi) dan nuri Bali (Trichoglossus forsteni meitchelli) yang merupakan satwa endemik Pulau Dewata.

Ketua Asosiasi Pelestari Curik Bali (APCB) Tony Sumampau menjelaskan, asap sulfur dari Gunung Agung yang menyebar bisa memengaruhi pernapasan burung. Aktivitas gunung yang akan meletus mengancam kehidupan burung langka itu.

"Tadinya, rencana kita juga mau kirim 65 ekor jalak Bali ke Bali, tapi ditahan dulu karena pasti nanti sampai di Bali harus di kandang kecil ditutup, pakai AC. Kasian burungnya juga," kata Tony kepada Liputan6.com, Rabu (4/10/2017).

Dia menyebutkan, untuk nuri Bali, masih terlihat di wilayah Nusa Penida, Pulau Lambongan. Populasi nuri Bali, kata dia, terbilang sudah sangat langka, bahkan jumlahnya sangat kecil di penangkaran, sehingga berstatus critical endanger di IUCN Red Data List.

"Nuri tersebut ada dua sub spesies yang satu lagi disebut Scarlet-breasted lorikeet atau Trichoglossus forsteni. Nuri ini masih mungkin terlihat di Lombok, tapi juga sangat terancam. Warnanya sedikit pink ke kuning-kuningan di dada," jelas Tony.

Dia menyebut masih banyak masyarakat dan pejabat yang kurang mengerti tentang burung nuri Bali, sehingga banyak yang mengekspornya ke luar Indonesia.

"Di Eropa, mereka berhasil breeding dalam jumlah kecil. Tapi dari mana? Pasti diekspor dari Bali atau Indonesia lainnya dulunya," kata Tony.

Hal ini sedikit berbeda dari burung jalak Bali yang sudah mulai banyak ditangkarkan oleh masyarakat. Meski begitu, ada ribuan jalak Bali yang tergolong liar tetap rentan punah.

"Tapi yang dilepas di alam, selalu diambil masyarakat," kata dia.

Kerentanan itu tak hanya semata dipicu aktivitas Gunung Agung yang meningkat. Pasalnya, burung jalak Bali dan nuri Bali memiliki cara mempertahankan diri dari sergapan asap sulfur dengan terbang lebih rendah.

Namun, hal itu justru dimanfaatkan warga sekitar untuk menangkap kedua jenis burung langka itu. "Jangan diganggu, biar secara alami mengasingkan diri bersembunyi di tempat aman. Lebih baik kita pelihara hasil penangkarannya saja," kata Tony.

Saksikan video pilihan berikut ini:

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya