Kota Helsinki di Finlandia Berambisi Bebas Mobil

Dengan memadukan teknologi dan perencanaan kota, Helsinki berupaya menarik minat warganya untuk menggunakan transportasi umum.

oleh Khairisa Ferida diperbarui 28 Sep 2017, 06:27 WIB
Foto: Finland Tour

Liputan6.com, Helsinki - Sejumlah negara, mulai dari Inggris hingga China, meluncurkan rencana luar biasa untuk menghilangkan pemakaian mobil berbahan bakar fosil. Cara sedikit berbeda ditempuh oleh otoritas kota Helsinki, Finlandia. Mereka memadukan teknologi dan perencanaan kota untuk memastikan warganya "sama sekali tak tertarik menggunakan mobil pribadi".

Helsinki berkembang pesat seiring dengan banyaknya tenaga kerja asal pedesaan dan luar negeri yang datang ke kota itu. Namun, alih-alih membangun jalan raya untuk mengakomodasi pertumbuhan, otoritas setempat justru menghadirkan angkutan umum yang sangat baik hingga membuat warga rela berhenti mengemudi.

"Tujuan kami adalah menggunakan lebih banyak tindakan positif sehingga orang-orang lebih memilih bepergian dengan berjalan kaki, bersepeda dan menggunakan transportasi publik," terang Anni Sinnemäki, Wakil Wali Kota Helsinkin untuk Urusan Transportasi seperti dikutip dari USA Today pada Kamis (28/9/2017).

Ia menambahkan, "Kami memiliki lokasi parkir yang terbatas di pusat kota dan tidak melebarkan jalan untuk mengakomodasi pengguna mobil. Ini tentang tindakan positif untuk menarik minat warga menggunakan transportasi umum".

Johanna Koskinen (24), seorang pelajar yang tinggal di pinggiran kota Vuosaari menyukai gagasan tersebut. Dengan catatan, jam subway diperpanjang.

"Mobil mahal di Finlandia. Banyak orang di sini yang tidak bisa membelinya. Metro sudah membuat Vuosaari cukup mudah diakses, tapi sekarang jam akhir operasinya pukul 11.30. Jika ingin mengurangi penggunaan mobil, mereka harus memastikan bahwa orang-orang seperti kami tidak terabaikan," kata Koskinen.

Helsinki saat ini masuk dalam daftar pemilik jumlah penumpang angkutan umum yang tinggi. Sinnemäki meyakini bahwa kota tersebut dapat mengurangi aktivitas lalu lintas yang menghasilkan emisi gas karbon dan mengurangi kualitas hidup.

"Kami ingin menargetkan netralitas karbon pada tahun 2050 mendatang. Itu berarti ambisius dalam kebijakan transportasi, efisiensi energi, energi terbarukan dan perbaikan lingkungan sosial kota di mana orang dapat bertemu dan bersosialisasi satu sama lain pada saat bersamaan," jelas Sinnemäki yang berasal dari Partai Hijau.

"Kami menginginkan sebuah situasi di mana tidak seorang pun di Helsinki membutuhkan mobil. Mungkin ada yang akan membutuhkan sesekali. Tapi, saya yakin itu akan turun jauh di bawah 21 persen saat pusat kota berkembang".

Statistik yang dirilis pemerintah kota menunjukkan bahwa sekitar 7.000 orang baru pindah ke Helsinki setiap tahunnya dalam beberapa tahun terakhir. Saat ini terdapat 630 ribu penduduk di kota itu dan menurut prakiraan pada tahun 2024, jumlahnya dapat meningkat hingga 850 ribu.

"Saya ingin percaya gagasan meninggalkan mobil itu mungkin, namun ini adalah urusan politik. Ini membutuhkan perubahan paradigma. Jika saya pergi ke tempat yang jauh dari pusat kota, tempat transit tidak efisien atau jika saya punya banyak barang untuk dibawa maka pakai mobil lebih baik," tutur Tuomas Kiuri (28), seorang konsultan transportasi yang tinggal di pusat kota. Ia memiliki satu buah mobil.

Kendati antusias dengan transportasi umum, namun fakta lain berbicara. Menurut Badan Transportasi Finlandia, warga di negara itu nyaris memiliki satu kendaraan per kepala. Penggunaan mobil di negara-negara Eropa sangat populer di musim dingin di mana suhu bisa mencapai 4 derajat hingga di bawah nol Fahrenheit.

Tapi Kiuri percaya bahwa bus otomatis bisa menggantikan mobil untuk beberapa kasus perjalanan.

"Sulit memperkirakan kapan hal itu akan terjadi. Tapi kendaraan akan mengemudi sendiri di masa depan, dan bus adalah cara terbaik untuk menerapkannya, "katanya.

Agar rencana pengurangan mobil berbahan bakar fosil ini dapat berjalan, kota Helsinki mengandalkan perkembangan teknologi smart mobility yang terus berlanjut.

Teknologi pintar bukanlah pengganti investasi di bidang infrastruktur sekalipun, kata Sinnemäki. Ia sekarang mendorong rekan-rekannya di Dewan Kota untuk mencurahkan lebih banyak dana untuk proyek tersebut.

"Di lingkungan kota yang padat, untuk memanfaatkan teknologi ini kita masih membutuhkan investasi di rel," katanya. "Ada orang yang mengatakan itu tidak ada gunanya karena kita semua pasti punya mobil tanpa sopir. Tapi kita tidak punya cukup ruang jalan. "

 

Tag Terkait

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya