Sosok Peraih Rekor Doktor Termuda di Indonesia di Mata Sang Guru

Bakat peraih gelar doktor termuda di Indonesia di bidang kimia sudah terlihat sejak kecil. Ia bahkan lulus mengikuti program akselerasi.

oleh Huyogo Simbolon diperbarui 22 Sep 2017, 17:51 WIB
Bakat peraih gelar doktor termuda di Indonesia di bidang kimia sudah terlihat sejak kecil. Ia bahkan lulus mengikuti program akselerasi. (Liputan6.com/Huyogo Simbolon)

Liputan6.com, Bandung - Prestasi yang diraih Grandprix Thomryes Marth Kadja (24) tak hanya membanggakan keluarga dan civitas ITB, tempat pria asal Kupang itu menyelesaikan studinya. Sang guru semasa SMA, Yorang Engelina Koy (53), turut merasakan kebahagiaan tersebut.

Saat Grandprix menjalani sidang terbukanya di Ruang Annex Rektorat ITB, Yorang duduk menyaksikan anak didiknya. Grandprix berdiri di depan para penguji menyampaikan disertasinya tentang zeolite sintesis, mekanisme dan peningkatan hierarki zeolit ZSM-5.

Grandprix akhirnya dinyatakan lulus cum laude dan berhak meraih gelar doktor oleh ITB pada usia 24 tahun. Atas prestasinya itu, ia dinyatakan sebagai peraih doktor termuda di Indonesia saat ini.

Ditemui seusai sidang, Yorang menuturkan, komunikasi dengan anak didiknya itu selalu terjalin, khususnya saat Grandprix pulang kampung ke Kupang. "Dua tahun lalu dia pulang ke Kupang. Dia bilang akan sidang terbukanya tahun depan," tutur Torang, Jumat (22/9/2017).

Tanpa pikir panjang, Yorang menyatakan akan hadir. "Saya mau menyaksikan karena itulah kebanggaan saya sebagai seorang guru. Tidak bisa memberi sesuatu, tapi hanya dengan cara mengajar saya waktu itu, dengan sikap, dan lain-lain, mereka tertarik dengan ibu ini dan ini jadi kebanggaan kami," ujar guru SMA Katolik Geovanni Kupang itu.

Dia mengatakan banyak siswanya yang berminat mendalami pelajaran kimia selama ia mengajar 30 tahun ini. Termasuk di dalamnya Grandprix. Minat itu pula yang mendorong para siswanya untuk berprestasi.

"Sejak saya mengajar, ada yang sudah menjadi S2, ada yang jadi dosen. Tapi yang termuda, doktor ini, dia (Grandprix)," ujarnya.

Di mata Yorang, Gepe, panggilan akrab Grandprix, sudah terlihat bakatnya di bidang kimia sejak muda. Bakat itu utamanya terlihat saat siswanya mengikuti tes pada 2008 lalu.

Hal itu dibuktikan pula dalam capaian saat mengikuti program akselerasi sehingga Gepe hanya menyelesaikan bangku SMA dalam dua tahun. Meski begitu, ia melihat Gepe tetap santai saat menjalani program akselerasi.

"Awalnya kami seleksi nilai SMP, tes sampai psikotes, ketika memenuhi syarat itu, kami masukkan ke akselerasi. Mereka punya kemampuan pada bidang tertentu ada yang ke matematika, fisika. Nah, Grandprix ini di kimia menonjolnya," katanya.

Setelah itu, Grandprix melanjutkan pendidikan ke Universitas Indonesia. Namun, tiap pulang kampung saat libur, dia datang ke sekolah. "Saya minta dia untuk memberi motivasi dan pengalaman dia ke sekolah," ujarnya.

Berkat motivasi yang disampaikan Grandprix, kata Yorang, adik kelasnya ada yang berminat dan bisa melanjutkan pendidikan ke UI.

Saksikan video pilihan berikut:

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya